Kontroversi Phoebe Gates Phia: Anak Miliarder Minta Diskon Influencer
Uptodai.com - Kontroversi Phoebe Gates Phia kini tengah memicu perdebatan panas di jagat media sosial setelah seorang kreator konten mengungkap praktik bisnis startup tersebut. Phoebe, yang merupakan putri bungsu dari miliarder Bill Gates, dituding mencoba mendapatkan jasa promosi dengan harga di bawah standar. Hal ini memicu diskusi luas mengenai etika pendiri perusahaan dari kalangan elit saat bernegosiasi dengan pekerja kreatif.
Kacie Margis, seorang influencer asal California, mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan pesan dari perwakilan aplikasi Phia. Dalam pesan tersebut, pihak startup mengajak Margis berkolaborasi namun dengan alasan anggaran yang sangat terbatas. Margis merasa tawaran tersebut tidak menghargai tarif profesional yang sudah ia cantumkan secara transparan di platform Collabstr.
Padahal, tarif yang diminta Margis tergolong standar untuk industri kreatif di Amerika Serikat, yakni sebesar US$250 atau sekitar Rp4 juta. Nilai tersebut mencakup pembuatan satu video promosi berdurasi 30 detik untuk platform media sosial. Namun, Phia yang didirikan oleh Phoebe Gates bersama rekannya Sophia Kianni justru menawar angka yang jauh lebih rendah.
Valuasi Startup Phia yang Mencapai Jutaan Dolar
Sikap manajemen Startup Phia Phoebe Gates ini dianggap ironis oleh banyak pihak mengingat dukungan finansial di belakangnya. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pengguna menemukan harga terbaik dengan membandingkan barang baru dan bekas secara daring. Startup ini resmi meluncur pada April 2025 dan langsung mendapatkan perhatian besar dari para investor global.
Laporan keuangan menunjukkan bahwa Phia kini memiliki valuasi yang sangat fantastis, yakni mencapai US$262 juta atau setara Rp4,1 triliun. Dengan dukungan modal sebesar itu, publik merasa tidak masuk akal jika perusahaan masih mengaku kekurangan anggaran untuk membayar influencer. Hal inilah yang memicu gelombang kritik terhadap gaya kepemimpinan Phoebe Gates dalam membangun bisnisnya.
Margis menegaskan bahwa kritiknya terhadap Aplikasi Belanja Phoebe Gates ini bukan bersifat personal kepada individu tertentu. Ia menyoroti fenomena sistemik di mana pendiri startup kaya sering kali mencoba mendapatkan tenaga promosi murah atau bahkan gratis. Menurutnya, praktik semacam ini sangat merugikan para kreator konten yang menggantungkan hidup dari tarif profesional mereka.
Netizen Terbelah Menanggapi Sikap Phoebe Gates
Unggahan Margis seketika viral dan membagi opini netizen menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Sebagian pengguna media sosial menilai tindakan Margis tidak profesional karena mengumbar negosiasi bisnis ke ruang publik. Mereka berpendapat bahwa setiap perusahaan, terlepas dari siapa pemiliknya, berhak melakukan negosiasi harga untuk efisiensi biaya.
Namun, mayoritas netizen justru membela Margis dan mengecam tindakan pihak Phoebe Gates. Mereka menilai sangat tidak pantas bagi anak salah satu orang terkaya di dunia untuk meminta “diskon” kepada pekerja kelas menengah. Banyak yang beranggapan bahwa tindakan ini menunjukkan kurangnya empati terhadap realitas ekonomi yang dihadapi oleh para pekerja lepas.
Ternyata, Kacie Margis bukan satu-satunya pihak yang merasa dirugikan oleh cara kerja startup tersebut. Jarrod Jenkins, seorang pakar kerja sama brand mewah, juga mengungkapkan pengalaman serupa saat Phia baru akan diluncurkan. Ia mengaku pernah diminta untuk mempromosikan aplikasi tersebut secara cuma-cuma tanpa kompensasi finansial apa pun.
Jenkins menyebutkan bahwa layanan konsultasi dan promosi yang ia berikan biasanya bernilai ribuan dolar bagi klien korporat. Selain masalah pembayaran, ia juga mengkritik kualitas teknis dari aplikasi Phia yang dianggap masih memiliki banyak kekurangan. Menurut Jenkins, algoritma aplikasi tersebut sering kali memberikan rekomendasi produk yang tidak relevan dengan pencarian pengguna.
Hingga saat ini, pihak Phoebe Gates maupun perwakilan resmi Phia belum memberikan pernyataan resmi terkait kegaduhan ini. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para pendiri startup untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan profesional dengan komunitas kreatif. Transparansi dan penghargaan terhadap nilai kerja menjadi kunci utama dalam menjaga reputasi bisnis di era digital yang sangat terbuka.