Uptodai.com - Laporan keuangan kuartal pertama Apple yang dirilis pada Kamis (30/1/2025) memang menunjukkan kinerja yang fantastis. Pendapatan perusahaan melonjak 16 persen secara year-on-year, didorong oleh tingginya permintaan global terhadap seri iPhone 17.

Meskipun demikian, di balik angka-angka gemilang tersebut, tersembunyi sebuah masalah besar yang berpotensi menjadi krisis baru pada tahun 2026. Masalah ini bukan hanya mengancam pertumbuhan Apple, tetapi juga memicu spekulasi liar mengenai lonjakan harga jual iPhone di masa depan.

Kinerja Apple di Tengah Badai Suplai

Apple memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 13-16 persen untuk periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini sebetulnya melampaui prediksi pesimistis dari para analis Wall Street.

Namun, proyeksi pertumbuhan tersebut sejatinya merupakan batas terendah yang bisa dicapai Apple. Chief Financial Officer (CFO) Apple, Kevan Parekh, mengakui bahwa penjualan bisa jauh lebih tinggi seandainya perusahaan mampu memproduksi lebih banyak unit iPhone.

Parekh secara eksplisit menyebutkan bahwa kendala suplai komponen menjadi penghalang utama. “Ekspektasi kami pada kuartal Maret, pendapatan perusahaan tumbuh 13-16 persen. Ini memperhitungkan kendala suplai iPhone selama kuartal ini,” ujar Parekh, mengonfirmasi adanya keterbatasan produksi.

Kelangkaan Chip Advanced Node Jadi Biang Kerok

CEO Apple, Tim Cook Jawab Kenaikan Harga iPhone dan menjelaskan akar masalah pasokan yang mereka hadapi. Kendala utama bukan hanya pada kelangkaan komponen umum, melainkan pada akses pembuatan advanced node untuk chip seri A (untuk iPhone) dan seri M (untuk Mac).

Advanced nodes merujuk pada teknologi manufaktur semikonduktor paling canggih, seperti proses 3 nanometer. Saat ini, Apple sangat bergantung pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) untuk memproduksi System-on-Chip (SoC) mereka menggunakan teknologi ini.

Cook mengakui bahwa rantai pasokan saat ini jauh lebih tidak fleksibel dari biasanya, sebagian besar karena permintaan yang sangat tinggi di seluruh industri. Situasi ini menciptakan kompetisi sengit untuk mendapatkan alokasi chip paling mutakhir dari TSMC.

Ancaman Kenaikan Harga Memori dan Respons Apple

Selain masalah pasokan chip utama, Apple juga menghadapi tekanan inflasi dari komponen lain, khususnya memori dan penyimpanan (RAM dan NAND Flash). Harga komponen ini diprediksi melonjak tajam karena permintaan besar-besaran dari sektor data center Kecerdasan Buatan (AI).

Pusat data AI membutuhkan kapasitas memori yang masif dan cepat, menguras pasokan global dan menaikkan harga di pasar. Cook mengonfirmasi bahwa kenaikan harga memori ini sudah mulai berdampak pada kinerja finansial Apple sejak kuartal terakhir 2025 dan semakin terasa pada kuartal pertama 2026.

Ketika ditanya investor mengenai bagaimana Apple akan merespons tekanan biaya komponen yang terus meningkat, Tim Cook Jawab Kenaikan Harga iPhone dengan hati-hati. Ia tidak memberikan jawaban pasti, namun mengisyaratkan bahwa semua opsi sedang dipertimbangkan.

Opsi Apple Hadapi Inflasi Komponen

Cook hanya menyatakan, “Seperti biasa, kami akan melihat berbagai opsi untuk menangani hal tersebut.” Pernyataan ini membuka interpretasi luas, mulai dari penyerapan biaya, negosiasi ulang kontrak jangka panjang, hingga yang paling dikhawatirkan konsumen: menaikkan harga jual produk akhir.

Jika Apple memilih untuk menyerap biaya, margin keuntungan mereka akan tertekan. Namun, jika mereka memutuskan untuk membebankan biaya tambahan kepada konsumen, kita mungkin akan melihat lonjakan harga yang signifikan pada seri iPhone berikutnya, terutama model premium seperti iPhone Pro Max.

Krisis pasokan advanced node dan inflasi harga memori ini menempatkan Apple di persimpangan jalan. Keputusan yang diambil Tim Cook dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah konsumen global harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan teknologi smartphone terbaru dari raksasa Cupertino tersebut.