Uptodai.com - Pasar perangkat keras global menunjukkan fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Terjadi Lonjakan Penjualan PC Jelang Krisis 2026, sebuah tren yang dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan teknologi. Konsumen seolah berlomba-lomba membeli perangkat baru, jauh sebelum harga benar-benar melambung tinggi.

Aksi borong ini bukan tanpa alasan. Para analis pasar telah memperingatkan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode yang sulit bagi industri elektronik. Kelangkaan komponen inti, terutama chip memori, diprediksi akan menekan pasokan dan mendorong harga jual produk akhir ke level yang sulit dijangkau.

Faktor Pendorong Lonjakan Penjualan PC

Beberapa elemen kunci mendorong peningkatan permintaan PC secara dramatis sepanjang tahun 2025. Salah satu faktor yang paling mendesak adalah berakhirnya dukungan resmi untuk sistem operasi Windows 10. Jutaan pengguna global dipaksa melakukan migrasi, yang berarti harus membeli perangkat keras baru yang kompatibel.

Selain itu, kekhawatiran geopolitik turut memperkeruh suasana. Ancaman penerapan tarif dagang yang lebih ketat dari pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat menciptakan ketidakpastian. Para produsen dan distributor memilih menimbun stok atau mempercepat pengiriman sebelum regulasi baru diberlakukan, yang pada akhirnya memicu pergerakan cepat di pasar ritel.

Dampak Dominasi Chip AI terhadap Industri Konvensional

Penyebab utama krisis yang diprediksi terjadi pada 2026 adalah pergeseran fokus produksi chip. Permintaan terhadap chip memori tingkat tinggi (HBM) meningkat tajam seiring pesatnya adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

Produsen semikonduktor besar kini memprioritaskan pembuatan chip HBM untuk server dan pusat data AI. Konsekuensinya, produksi chip konvensional yang dibutuhkan untuk perangkat elektronik konsumen seperti PC dan laptop menjadi terabaikan. Kelangkaan ini membuat harga komponen melambung, menempatkan pabrikan PC dalam dilema besar.

Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual produk baru—yang berisiko menurunkan daya beli konsumen—atau menahan harga namun tanpa menawarkan peningkatan spesifikasi perangkat keras (hardware) yang signifikan.

Data IDC Membuktikan Lonjakan Penjualan PC

Firma riset IDC mengonfirmasi adanya ledakan permintaan ini. Mereka melaporkan bahwa pengapalan PC global menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat sepanjang 2025. Pada kuartal IV (Q4) 2025 saja, pengapalan PC melonjak 9,6% secara tahunan (YoY), mencapai total 76,4 juta unit.

Secara keseluruhan, total pengapalan PC sepanjang tahun 2025 mencapai 284,7 juta unit. Angka ini merefleksikan peningkatan sebesar 8,1% dibandingkan kinerja tahun sebelumnya, 2024.

Pemain Utama yang Mendulang Untung dari Aksi Borong

Lenovo berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar global. Perusahaan asal Tiongkok ini mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 14,5% YoY. Mereka menguasai pangsa pasar 24,9%, dengan total pengapalan mencapai 70,8 juta unit PC.

Di posisi kedua, HP mencatatkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan 8,4% YoY. HP mengamankan 20,2% pangsa pasar, mengirimkan 57,5 juta unit PC. Sementara itu, Dell Technologies berada di peringkat ketiga, meski pertumbuhannya lebih tipis, yakni 5,2% YoY, dengan pangsa pasar 14,4%.

Dua raksasa teknologi lain, Apple dan Asus, juga menikmati pertumbuhan dua digit. Apple mencatat kenaikan 11,1% YoY, menguasai 9% pangsa pasar. Sedangkan Asus menunjukkan performa paling agresif dengan pertumbuhan 13,4% YoY, mengamankan 7,2% pangsa pasar global.

Prediksi Gelap: Krisis PC 2026 Menghantui Pasar

Meskipun pabrikan PC merayakan pertumbuhan signifikan pada 2025, prospek tahun 2026 terlihat suram. Krisis chip memori diperkirakan akan mencapai puncaknya, menekan pasar PC secara drastis.

Laporan menyebutkan bahwa pasar PC global kemungkinan akan tertekan oleh kelangkaan komponen. Akibatnya, rata-rata PC yang diluncurkan pada 2026 mungkin akan hadir dengan spesifikasi yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pabrikan harus pintar-pintar memanfaatkan cadangan komponen lama yang masih tersedia demi menjaga lini produksi tetap berjalan.

Situasi ini mengindikasikan bahwa konsumen yang berhasil membeli perangkat baru pada 2025 telah mengambil langkah yang tepat. Mereka menghindari potensi kenaikan harga ekstrem dan penurunan kualitas spesifikasi yang mungkin terjadi pada perangkat generasi berikutnya.