Uptodai.com - Di tengah ledakan industri teknologi global, fenomena mahasiswa DO dilirik investor semakin mencuat sebagai tren yang tidak terhindarkan. Status putus kuliah, yang dahulu dianggap sebagai aib, kini justru diangkat sebagai simbol keberanian dan komitmen penuh dalam membangun sebuah perusahaan rintisan.

Pergeseran paradigma ini terlihat jelas di berbagai ajang presentasi pendanaan modal ventura terkemuka di Silicon Valley. Laporan dari Tech Crunch menyebutkan, dalam acara bergengsi Y Combinator Demo Days, banyak pendiri startup secara sengaja menonjolkan status DO mereka di slide presentasi.

Tindakan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan strategi yang diperhitungkan untuk menarik perhatian para pemodal. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa membangun perusahaan adalah prioritas mutlak yang mengalahkan kewajiban akademik.

Mengapa Status DO Jadi Reputasi Positif di Mata Investor?

Katie Jacob Stanton dari Moxxie Ventures menjelaskan bahwa menjadi mahasiswa DO kini dipandang positif dalam ekosistem modal ventura. Menurutnya, status ini mencerminkan keyakinan mendalam dan dedikasi total pendiri terhadap visi perusahaan yang mereka bangun.

Ia bahkan mengaku terkejut melihat banyak pendiri menonjolkan bahwa mereka putus kuliah, bahkan ada yang tidak menamatkan pendidikan sekolah menengah atas. Reputasi ini seolah mengikuti jejak ikon teknologi legendaris seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg, yang memang tidak menyelesaikan pendidikan formal mereka.

Namun, minat tinggi investor terhadap pendiri yang tidak bergelar sarjana ini didorong kuat oleh percepatan ledakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Banyak pendiri startup AI merasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) jika mereka harus menghabiskan waktu bertahun-tahun menyelesaikan studi formal.

Perkembangan AI yang sangat cepat menuntut implementasi ide segera, bukan menunggu wisuda. Kulveer Taggar dari Phosphor Capital menyoroti adanya dorongan kuat untuk segera bertindak di kalangan para founder.

Mereka harus memilih antara menyelesaikan studi atau langsung terjun membangun perusahaan di tengah momentum emas industri AI. Bahkan, seorang profesor dari universitas ternama menceritakan kasus mahasiswa semester akhir yang nekat memilih DO karena yakin ijazah justru menghambat pencarian investor.

Kontroversi dan Nilai Jaringan Alumni

Meskipun demikian, tidak semua pemodal sepakat bahwa status DO adalah faktor penentu keberhasilan pendanaan. Yuri Sagalov dari General Catalyst berpendapat bahwa kepemilikan ijazah atau status DO sama sekali tidak menjadi perhatian utama investor saat mengevaluasi pendiri.

Fokus utama tetap pada kualitas ide, eksekusi, dan potensi pasar yang ditawarkan oleh perusahaan. Sagalov justru menilai bahwa dunia pendidikan formal menawarkan nilai tambah yang sering terabaikan, yakni lingkaran sosial alumni yang kuat.

Jaringan ini dapat menjadi sumber daya penting, baik untuk mencari karyawan, mitra, maupun mendapatkan dukungan awal. Ia menambahkan, kebanyakan orang akan mencari nama pendiri di LinkedIn, dan mereka tidak akan secara spesifik mempertanyakan status kelulusan Anda.

Menariknya, tidak semua pendiri sukses di bidang AI adalah mahasiswa DO dilirik investor. Beberapa nama besar yang berhasil meraih pendanaan signifikan justru memilih untuk menuntaskan pendidikan mereka.

Contohnya adalah Michael Truell, pendiri Cursor, dan Scott Wu, pendiri Cognition. Kisah sukses mereka menunjukkan bahwa gelar sarjana bukan halangan, melainkan landasan kuat untuk inovasi, selama eksekusi ide bisnis tetap tajam dan relevan dengan kebutuhan pasar.