Uptodai.com - Nasib driver online di tengah konflik bersenjata yang melanda Uni Emirat Arab (UEA) kini berada di ujung tanduk akibat tuntutan ekonomi yang mendesak. Meski ancaman serangan rudal membayangi wilayah tersebut, para pengemudi jasa pengantaran makanan tetap menyusuri jalanan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ketegangan ini mencuat setelah sejumlah layanan digital sempat mengalami gangguan operasional pada Sabtu pekan lalu akibat serangan perdana yang mengejutkan. Namun, tak butuh waktu lama bagi platform besar untuk kembali mengaktifkan layanan mereka di tengah situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif.

Kebijakan Platform Digital di Tengah Krisis Keamanan

Careem, salah satu pemain utama di wilayah tersebut, menyatakan telah memperketat protokol keamanan bagi para mitranya selama masa krisis. Perusahaan secara rutin mengirimkan panduan keselamatan terbaru melalui pesan singkat dan grup WhatsApp untuk memantau kondisi para pengemudi di lapangan.

Pihak manajemen menegaskan bahwa mereka tidak memberikan paksaan kepada pengemudi untuk tetap mengambil pesanan jika merasa terancam. Kendati demikian, realita di jalanan sering kali berbeda dengan kebijakan tertulis yang disampaikan perusahaan kepada publik melalui saluran resmi mereka.

Di sisi lain, Uber dan UberEats juga memastikan operasional mereka tetap berjalan penuh di seluruh wilayah Uni Emirat Arab tanpa penghentian sementara. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini mengklaim terus memantau situasi secara langsung demi menjaga kesejahteraan mitra pengemudi sesuai rekomendasi pemerintah setempat.

Risiko Nyawa dan Ancaman Denda bagi Pengemudi

Keputusan perusahaan untuk tetap beroperasi memicu gelombang kritik tajam dari berbagai aktivis kemanusiaan dan pengamat industri teknologi. Para pengemudi menghadapi risiko fisik yang sangat nyata, mulai dari terkena puing ledakan hingga terjebak dalam zona berbahaya saat menunggu pesanan masuk.

Bagi pengemudi Deliveroo, situasinya jauh lebih pelik karena adanya tekanan dari agen logistik pihak ketiga yang mengelola manajemen kerja mereka. Seorang pengemudi mengungkapkan bahwa penolakan untuk bekerja di tengah konflik justru berujung pada sanksi denda yang sangat memberatkan kondisi finansial.

Sanksi denda tersebut tidak hanya berlaku saat mitra menolak tugas, tetapi juga ketika pengemudi gagal mencapai kuota pengiriman harian yang telah ditetapkan. Hal ini memaksa mereka untuk tetap berada di luar ruangan dalam durasi yang lama meski sirine tanda bahaya mungkin sewaktu-waktu berbunyi.

Sistem Upah yang Memaksa Driver Tetap Mengaspal

Struktur pendapatan berbasis performa menjadi alasan utama mengapa para pengemudi terpaksa mengabaikan keselamatan pribadi mereka di zona konflik. Sebagian besar platform menerapkan skema gaji pokok yang sangat kecil dan sangat bergantung pada biaya per pengiriman yang berhasil diselesaikan.

Insentif tambahan hanya akan cair jika pengemudi mampu mengantarkan makanan dalam jumlah banyak dalam kurun waktu satu hari kerja. Skema ini secara tidak langsung mendorong mitra untuk terus bekerja tanpa henti guna menutupi biaya operasional kendaraan dan kebutuhan keluarga.

Kondisi memprihatinkan ini menggambarkan betapa rentannya posisi pekerja di sektor ekonomi gig saat menghadapi krisis global yang tidak terduga. Tanpa adanya jaminan keselamatan yang konkret dari penyedia aplikasi, nyawa para pengantar makanan seolah menjadi taruhan di tengah deru mesin dan ancaman rudal.