Uptodai.com - Fenomena ledakan mobil listrik di China kini memicu persoalan baru terkait ketahanan infrastruktur dan stabilitas anggaran negara. Pertumbuhan pesat kendaraan ramah lingkungan ini ternyata berbanding lurus dengan percepatan laju kerusakan permukaan jalan raya. Bobot armada elektrifikasi yang jauh lebih berat dari kendaraan konvensional menjadi faktor utama penyebab degradasi aspal tersebut.

Secara teknis, peningkatan bobot ini didorong oleh penggunaan paket baterai litium-ion berkapasitas besar pada segmen SUV dan van. Dalam prinsip teknik sipil, dampak tekanan beban terhadap ketahanan jalan meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya bobot sumbu roda. Akibatnya, lintasan yang sering dilalui kendaraan listrik mengalami pengikisan dan keretakan yang jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Dilema Penurunan Penerimaan Pajak BBM

Masalah teknis ini kian rumit karena bertepatan dengan krisis pendanaan pemeliharaan fasilitas publik di Negeri Tirai Bambu. Selama ini, biaya perawatan dan pembenahan jaringan jalan sangat bergantung pada pendapatan pajak bahan bakar minyak (BBM). Seiring bertambahnya populasi mobil listrik murni dan plug-in hybrid, konsumsi bensin otomatis merosot tajam.

Penurunan drastis konsumsi BBM ini secara langsung menggerus penerimaan kas daerah yang dialokasikan untuk pemeliharaan jalan. Pemerintah China kini berada di posisi serba salah antara mendukung transisi energi hijau dan menjaga kualitas jaringan transportasi. Kesenjangan antara biaya perbaikan yang melonjak dan pemasukan yang menyusut terus melebar setiap tahunnya.

Opsi Pungutan Berdasarkan Jarak Tempuh

Sebagai langkah antisipasi, otoritas setempat mulai merancang skema pembiayaan baru yang dinilai lebih adil bagi seluruh pengguna jalan. Salah satu wacana kuat yang sedang dipertimbangkan adalah penerapan pajak berbasis jarak tempuh atau Vehicle Miles Traveled (VMT). Melalui sistem ini, pemilik kendaraan listrik akan dikenakan iuran sesuai dengan total kilometer yang mereka jalani.

Skema serupa sebenarnya sudah mulai diuji coba di beberapa negara kawasan Eropa dan Amerika Serikat untuk mengatasi masalah serupa. Pungutan ini diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru guna menggantikan posisi pajak fosil yang kian tergerus. Kendati demikian, penerapan kebijakan ini membutuhkan infrastruktur pelacakan yang matang serta regulasi privasi data yang ketat.

Tantangan Keseimbangan Industri dan Infrastruktur

Perubahan skema pembiayaan ini diperkirakan dapat mengubah peta industri otomotif dan perilaku konsumen di kawasan tersebut. Produsen kini dituntut untuk merancang kendaraan listrik yang lebih ringan tanpa mengorbankan jarak tempuh baterai. Pemerintah China harus bergerak cepat menemukan titik temu agar laju elektrifikasi tidak sampai mengorbankan kualitas fasilitas publik.