Menguak Obsesi Jeffrey Epstein Ciptakan Ras Unggul Lewat DNA
Uptodai.com - Dokumen yang baru-baru ini dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) membuka tabir gelap mengenai ambisi genetik Jeffrey Epstein, seorang terpidana kejahatan seks yang meninggal di penjara. Terkuak bahwa obsesi Jeffrey Epstein ciptakan ras unggul melampaui batas etika dan sains, menjadikannya salah satu proyek paling mengerikan yang pernah direncanakan oleh seorang individu kaya.
Epstein tidak hanya berfantasi tentang rekayasa sosial, namun ia secara aktif berkorespondensi dengan sejumlah ilmuwan terkemuka dunia. Ia menawarkan dana besar untuk mendukung penelitian yang seolah-olah berfokus pada sains murni, padahal agenda utamanya adalah memodifikasi DNA manusia untuk menghilangkan sifat-sifat yang ia anggap “buruk” atau inferior.
Dokumen Rahasia dan Ambisi Genetik Epstein
Pandangan Epstein yang dikenal sebagai “transhumanisme” ini, yaitu upaya meningkatkan kondisi manusia melalui teknologi, berujung pada eugenika modern yang sangat rasis. Melalui serangkaian email yang kini menjadi bagian dari transparansi kasus kejahatan seksnya, terlihat jelas bagaimana Epstein mencoba memanfaatkan kekayaan dan koneksinya untuk memanipulasi ilmu pengetahuan.
Ia bertukar pikiran dengan fisikawan, ahli genetika, hingga akademisi terkenal, mendiskusikan cara merekayasa genom untuk menghasilkan manusia yang superior secara genetik. Epstein percaya bahwa ia dapat menjadi arsitek evolusi manusia, sebuah peran yang ia yakini layak ia sandang berkat kekayaannya yang tak terbatas.
Rencana Jeffrey Epstein Modifikasi DNA Manusia
Salah satu bagian paling kontroversial dari korespondensi tersebut adalah pandangan rasis Epstein mengenai genetika populasi. Pada tahun 2016, Epstein mengirim email kepada Joscha Bach, seorang profesor dari MIT, yang menunjukkan ketertarikannya pada modifikasi genetik untuk meningkatkan kecerdasan pada kelompok ras tertentu, khususnya warga kulit hitam.
Epstein bahkan menggunakan data yang sangat bias dan diskriminatif untuk mendukung argumennya, mengklaim bahwa “selisih skor uji akademis warga keturunan Afrika-Amerika terdokumentasi dengan jelas.” Bach, yang kemudian menerima donasi sebesar US$ 400 ribu dari Epstein, menjadi salah satu dari banyak akademisi yang terperangkap dalam pendanaan yang beracun ini.
Tidak berhenti di situ, Epstein juga mendanai riset yang bertujuan memodifikasi embrio. Tujuannya adalah menghasilkan anak dengan sifat dan karakter yang sudah ditentukan, sebuah konsep yang ia sebut sebagai “bayi hasil desain.” Ia bahkan mengirimkan email tentang proyek ini kepada pengusaha kripto Bryan Bishop, menunjukkan betapa seriusnya ia dalam mewujudkan proyek genetik ini.
Proyek ‘Ras Unggul’ dan 20 Wanita Target Hamil
Ambisi Epstein tidak hanya terbatas pada pendanaan riset laboratorium, tetapi juga melibatkan dirinya secara langsung dalam eksperimen genetik paling mengerikan. Laporan dari The New York Times pada 2019 mengungkapkan rencana Epstein untuk menanamkan benih dari DNA-nya ke banyak perempuan sekaligus.
Seorang peneliti yang pernah dihubungi Epstein mengonfirmasi bahwa Epstein ingin menghamili setidaknya 20 perempuan. Melalui skema ini, Epstein berharap dapat menyebarkan materi genetiknya, yang ia yakini sebagai gen unggul, untuk menciptakan garis keturunan baru yang secara genetik lebih superior.
Konferensi Ilmiah sebagai Kedok
Untuk memuluskan agenda genetiknya, Epstein sering menggunakan konferensi ilmiah sebagai panggung. Pada tahun 2006, ia menyelenggarakan konferensi di St. Thomas, British Virgin Islands, dekat dengan “pulau seks” miliknya yang terkenal. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh besar fisika, termasuk Stephen Hawking dan Kip Thorne.
Meskipun tema resmi konferensi adalah teori gravitasi, Epstein justru menghabiskan sebagian besar waktu untuk membahas genom manusia. Ia terus-menerus mendesak para ilmuwan tentang cara yang paling efektif untuk mewariskan sifat-sifat tertentu, secara terselubung mencari validasi ilmiah untuk agenda eugenik pribadinya.
Obsesi Epstein terhadap kontrol genetik juga meluas hingga dorongan seksual. Dalam korespondensi dengan Nathan Wolfe, mereka membahas potensi menciptakan “viagra untuk perempuan” melalui modifikasi genetik. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah mengontrol tidak hanya kecerdasan dan ras, tetapi juga fungsi biologis dasar, demi kepuasan dan pandangan dunianya yang menyimpang.
Kisah Epstein menjadi pengingat mengerikan tentang bahaya ketika kekayaan ekstrem bertemu dengan ilmu pengetahuan tanpa etika. Dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa kejahatan Epstein bukan hanya sebatas eksploitasi seksual, melainkan juga ambisi gila untuk memanipulasi dasar kehidupan itu sendiri demi menciptakan apa yang ia anggap sebagai ras unggul.