BMKG Ungkap Penyebab Hujan Lebat Jabodetabek, Siklon Jadi Biang Kerok
Uptodai.com - Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi, bahkan di beberapa titik mencapai level sangat lebat hingga ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi secara rinci penyebab hujan lebat Jabodetabek yang terjadi belakangan ini, yang ternyata dipicu oleh kombinasi faktor regional dan global.
Dalam laporan resmi ‘Prospek Cuaca Mingguan’ yang dirilis pada 19 Januari 2026, BMKG menekankan bahwa potensi cuaca ekstrem di Indonesia, termasuk di kawasan padat penduduk seperti Jabodetabek, sangat dipengaruhi oleh keberadaan sirkulasi siklonik serta penguatan monsun dingin Asia.
Siklon Tropis Nokaen dan Bibit 97S Memperkuat Hujan
Pada skala regional, salah satu pemicu utama adalah kehadiran Siklon Tropis Nokaen yang terdeteksi di Laut Filipina, tepatnya di utara Maluku Utara. Siklon ini diperkirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa, bergerak menuju Timur Laut.
Kondisi Siklon Tropis Nokaen ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan pola angin, terutama di wilayah utara Indonesia bagian Timur. Pola angin yang terbentuk lantas memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
Selain Nokaen, terdapat pula Bibit 97S yang pergerakannya diprakirakan persisten. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa. Pergerakan Bibit 97S turut memengaruhi pola angin, termasuk menciptakan daerah konfluensi dan konvergensi.
Daerah konvergensi dan konfluensi ini membentang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafuru, hingga sekitar lokasi Bibit Siklon Tropis 97S. Daerah inilah yang berfungsi sebagai ‘pabrik’ awan, meningkatkan potensi curah hujan lebat di sepanjang jalur tersebut, yang kemudian turut memengaruhi dinamika cuaca di Jawa.
Pengaruh Seruakan Dingin Asia pada Curah Hujan Jabodetabek
Faktor lain yang tidak kalah penting dalam memicu cuaca ekstrem adalah potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) yang berasal dari Benua Asia. Seruakan dingin ini terindikasi dari perbedaan tekanan udara yang tinggi di Gushi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan.
Kondisi tersebut memperkuat masuknya monsun Asia. Monsun ini bergerak lebih cepat dan lebih mudah melewati ekuator, ditandai dengan nilai CENS (Cold-Air Surge Index) yang signifikan, melalui Selat Karimata.
Masuknya monsun Asia yang diperkuat ini memberikan dampak langsung pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan dan Pulau Jawa, termasuk Jabodetabek. Fenomena ini menambah pasokan uap air yang dibutuhkan untuk pembentukan awan hujan intensitas tinggi.
Peringatan Dini BMKG: Status Awas Hujan Ekstrem
Menyikapi perkembangan cuaca yang sangat dinamis, BMKG telah menjabarkan peringatan dini khusus untuk wilayah Jabodetabek. Peringatan ini dibagi berdasarkan tingkat kewaspadaan, mulai dari Waspada, Siaga, hingga Awas Hujan Sangat Lebat-Ekstrem.
22 Januari 2026: Puncak Kewaspadaan
Pada tanggal 22 Januari 2026, sejumlah wilayah di Jabodetabek berada dalam status Siaga hingga Awas. Status ini mengindikasikan bahwa hujan lebat berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
- Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat: Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.
- Awas Hujan Sangat Lebat-Ekstrem: Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.
Selain hujan lebat, BMKG juga mengeluarkan Peringatan Dini Angin Kencang untuk wilayah Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, seluruh wilayah DKI Jakarta (Jakut, Jakpus, Jakbar, Jaktim, Jaksel), dan Kepulauan Seribu. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi pohon tumbang dan kerusakan infrastruktur ringan.
23 Januari 2026: Pergeseran Intensitas
Kondisi cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlanjut pada 23 Januari 2026, meskipun terdapat pergeseran intensitas di beberapa wilayah. Kepulauan Seribu diprakirakan berada dalam status Waspada Hujan Sedang-Lebat.
Namun, wilayah penyangga Jakarta masih harus bersiaga. Status Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat berlaku untuk Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Sementara itu, sebagian besar kawasan Tangerang dan Jakarta berada dalam status tertinggi.
Status Awas Hujan Sangat Lebat-Ekstrem pada tanggal 23 Januari 2026 meliputi Kota Tangerang, Kota Tangsel, Kab. Tangerang, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan. BMKG meminta seluruh pihak, terutama pemerintah daerah, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak terburuk dari cuaca ekstrem ini.