Uptodai.com - Perangkat pengganti smartphone kini menjadi fokus utama OpenAI dalam merevolusi cara manusia berinteraksi dengan teknologi digital di masa depan.

Perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut kabarnya telah mengerahkan sekitar 200 orang ahli untuk mengembangkan ekosistem perangkat keras baru. Proyek ambisius ini mencakup pembuatan speaker pintar, kacamata canggih, hingga lampu pintar yang terintegrasi penuh dengan kecerdasan buatan.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam industri teknologi global yang selama satu dekade terakhir sangat bergantung pada layar ponsel. OpenAI berupaya menciptakan interaksi yang lebih alami antara manusia dan mesin tanpa harus terpaku pada layar sentuh.

Speaker Pintar Jadi Produk Pertama Proyek Perangkat OpenAI

Laporan terbaru menyebutkan bahwa produk pertama yang akan menyapa pasar adalah sebuah speaker pintar yang sangat canggih. Perangkat ini diprediksi akan meluncur ke publik pada Februari 2027 mendatang dengan teknologi yang jauh melampaui asisten suara saat ini.

Dua sumber internal mengungkapkan bahwa harga perangkat ini akan berada di kisaran US$200 hingga US$300 atau sekitar Rp3,1 juta sampai Rp4,7 juta. Speaker tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemutar musik, namun juga dilengkapi dengan kamera terintegrasi.

Keberadaan kamera ini memungkinkan gadget berbasis AI tersebut untuk mengumpulkan informasi visual mengenai lingkungan sekitar pengguna. Dengan data tersebut, perangkat dapat memberikan respons yang lebih kontekstual dan personal sesuai dengan situasi nyata di dalam ruangan.

Kacamata Pintar dan Ambisi Tanpa Layar

Setelah peluncuran speaker, OpenAI berencana memproduksi massal kacamata pintar pada tahun 2028. Kacamata ini digadang-gadang akan menjadi ujung tombak dalam proyek perangkat OpenAI untuk menggantikan peran ponsel pintar dalam kehidupan sehari-hari.

Visi besar perusahaan adalah menciptakan perangkat tanpa layar yang mampu menginterpretasi dan merespons lingkungan fisik melalui perintah audio maupun visual. Pengguna cukup berbicara atau membiarkan perangkat melihat apa yang mereka lihat untuk mendapatkan informasi instan.

Strategi ini semakin diperkuat dengan akuisisi startup io Products milik mantan desainer legendaris Apple, Jony Ive. OpenAI merogoh kocek hingga US$6,5 miliar tahun lalu demi mengamankan keahlian desain hardware yang ikonik dan ergonomis.

Kendala Daya Komputasi dan Privasi Pengguna

Meskipun ambisius, pengembangan teknologi hardware OpenAI ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketersediaan daya komputasi. Sumber yang dekat dengan Jony Ive menyebutkan bahwa menjalankan AI canggih pada perangkat kecil membutuhkan sumber daya yang sangat masif.

OpenAI saat ini masih harus berjuang keras mendapatkan alokasi komputasi yang cukup dibandingkan dengan raksasa seperti Google atau Amazon. Kedua pesaing tersebut sudah memiliki infrastruktur server yang sangat mapan untuk mendukung asisten digital mereka sendiri.

Selain masalah teknis, tantangan lainnya muncul dari sisi psikologis dan privasi. OpenAI sedang berupaya keras menyeimbangkan kemampuan asisten AI yang bisa bersikap seperti teman dengan perlindungan data pribadi pengguna agar tetap aman.

Integrasi mikrofon dan kamera yang selalu aktif pada perangkat rumahan tentu memicu kekhawatiran mengenai pengawasan digital. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa inovasi ini tidak mengorbankan privasi demi kenyamanan akses informasi.