Uptodai.com - Tren PHK massal dan lowongan kerja AI kini menjadi sorotan tajam, terutama setelah laporan terbaru dari Morgan Stanley yang menunjukkan dampak signifikan di pasar tenaga kerja global. Alih-alih menciptakan gelombang pekerjaan baru, adopsi kecerdasan buatan (AI) justru memicu pemangkasan besar-besaran di berbagai sektor profesional.

Fenomena ini menciptakan dilema baru bagi para profesional, di mana teknologi yang digadang-gadang sebagai masa depan justru menjadi penyebab utama hilangnya kesempatan kerja. Bahkan, ironisnya, pemangkasan ini terjadi di posisi-posisi yang secara langsung terkait dengan pengembangan AI itu sendiri.

Inggris Jadi Episentrum Pemangkasan Tenaga Kerja

Inggris Raya tercatat sebagai negara yang paling parah terdampak oleh gelombang pemangkasan staf yang dipicu oleh otomatisasi dan AI. Menurut data yang dirilis oleh Morgan Stanley, persentase pemangkasan pekerja di Inggris tahun lalu mencapai angka 8%, menjadikannya yang terburuk di antara negara maju lainnya.

Laporan tersebut membandingkan kondisi di Inggris dengan situasi di Jerman, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Australia, yang menunjukkan tingkat pemangkasan yang lebih rendah. Hal ini menggarisbawahi bahwa efisiensi yang dijanjikan AI mulai mengubah struktur biaya operasional perusahaan secara fundamental di Britania Raya.

Peningkatan biaya untuk mempekerjakan staf lokal mendorong banyak bisnis, khususnya skala kecil, untuk beralih menggunakan solusi AI atau layanan outsourcing. Justin Moy dari EHF Mortgages menjelaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai langkah cepat dan murah untuk mengisi peran tradisional yang kini tidak lagi tersedia bagi penduduk lokal.

Ironi: Lowongan Posisi AI Justru Ikut Menciut

Dampak buruk adopsi AI ternyata tidak hanya menimpa pekerjaan tradisional, tetapi juga meluas ke posisi yang seharusnya menjadi garda depan revolusi teknologi. Lowongan pekerjaan baru yang secara spesifik terkait dengan AI, seperti pengembang perangkat lunak atau konsultan, terlihat mengalami penurunan drastis.

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris melaporkan bahwa posisi yang berhubungan dengan Kecerdasan Buatan anjlok hingga 37%. Penurunan ini jauh lebih curam dibandingkan dengan 26% penurunan yang dialami oleh jenis pekerjaan lain di pasar.

Data ini menunjukkan bahwa perusahaan memilih mengintegrasikan alat AI yang sudah ada daripada merekrut tim besar untuk membangunnya dari nol. Morgan Stanley bahkan menuding AI sebagai “dalang” utama di balik keputusan perusahaan untuk tidak mengisi seperempat posisi yang tersedia di dalam struktur organisasi mereka.

AI Mendorong Produktivitas, Tetapi Membekukan Rekrutmen

Meskipun terjadi gelombang pemangkasan, perusahaan yang berhasil mengimplementasikan AI secara efektif di Inggris Raya memang menuai hasil positif. Penggunaan teknologi cerdas ini tercatat mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11,5% di perusahaan yang menggunakannya.

Selain itu, para ekonom memprediksi bahwa AI berpotensi besar mengangkat Inggris dari keterpurukan ekonomi. Teknologi ini diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan produktivitas hingga 0,8% selama satu dekade ke depan, memberikan dorongan signifikan bagi PDB nasional.

Namun, data makro menunjukkan gambaran suram di tingkat lapangan kerja secara keseluruhan. Lowongan pekerjaan dalam seluruh perekonomian dilaporkan telah menurun hingga sepertiga sejak tahun 2022, atau setara dengan hilangnya setengah juta posisi.

AI berkontribusi besar terhadap penurunan ini, khususnya memangkas seperlima dari total pekerjaan yang terdampak. Sektor yang paling rentan meliputi pekerjaan profesional, ilmiah dan teknis, layanan administrasi, serta bidang teknologi informasi (IT).