Uptodai.com - Senjata kecerdasan buatan Iran kini menjadi sorotan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan tuduhan serius di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Trump mengklaim bahwa Teheran telah memanfaatkan teknologi canggih tersebut sebagai alat disinformasi yang sangat berbahaya bagi stabilitas global. Pernyataan ini muncul menyusul eskalasi militer yang melibatkan serangan balasan Iran terhadap aset-aset strategis milik Amerika Serikat dan sekutunya.

Menurut Trump, Iran sengaja menggunakan teknologi AI untuk memalsukan narasi kesuksesan serangan militer mereka di kawasan tersebut. Ia menuding bahwa banyak dokumentasi serangan yang beredar sebenarnya merupakan hasil manipulasi digital yang sangat halus. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menjatuhkan mental pasukan AS serta membangun opini publik yang keliru mengenai kekuatan militer Iran yang sebenarnya.

Klaim ini bukan sekadar isapan jempol belaka dalam konteks gangguan infrastruktur digital yang nyata. Raksasa teknologi Amazon Web Services (AWS) telah mengonfirmasi adanya serangan terhadap dua pusat data (data center) utama mereka di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA). Insiden ini berdampak luas pada berbagai layanan publik, termasuk lumpuhnya aplikasi perbankan dan layanan konsumen lainnya di wilayah tersebut.

Dampak Serangan terhadap Infrastruktur Strategis

Selain menyasar sektor finansial, serangan yang melibatkan teknologi AI militer Iran ini juga dilaporkan mengganggu operasional penerbangan internasional. Pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di sekitar bandara-bandara utama menjadi target utama bombardir yang terorganisir. Akibatnya, bandara internasional di Dubai dan Abu Dhabi sempat mengalami kelumpuhan total yang mengganggu jadwal penerbangan dunia.

Hingga saat ini, kondisi penerbangan di wilayah Timur Tengah dilaporkan belum sepenuhnya kembali normal seperti sedia kala. Trump menekankan bahwa penggunaan AI dalam peperangan modern memberikan ancaman baru yang jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan senjata konvensional. Ia memperingatkan masyarakat internasional agar lebih waspada terhadap potensi bahaya dari kecerdasan buatan yang tidak terkendali.

“AI bisa sangat berbahaya, kita harus sangat berhati-hati dengannya,” tegas Trump saat berbicara kepada awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One. Ia juga menambahkan bahwa teknologi ini telah disalahgunakan untuk menciptakan realitas palsu yang merugikan kepentingan nasional Amerika Serikat di luar negeri.

Tuduhan Manipulasi Media dan Ancaman FCC

Ketegangan ini semakin meruncing ketika Trump menuduh media-media Barat bekerja sama dengan Iran dalam menyebarkan propaganda berbasis AI. Melalui platform Truth Social, ia menyebut adanya koordinasi erat untuk mempublikasikan berita palsu yang menguntungkan posisi Teheran. Trump menuding bahwa laporan-laporan media tersebut seringkali tidak akurat dan cenderung menyudutkan kebijakan luar negerinya.

Situasi ini memicu reaksi keras dari Komisi Komunikasi Federal (FCC) di bawah kepemimpinan Brendan Carr. Carr mengancam akan mengambil tindakan tegas berupa pencabutan izin penyiaran bagi lembaga media yang dianggap tidak netral dalam meliput konflik tersebut. Ia mendesak para pengelola media untuk memperbaiki arah pemberitaan agar tidak terjebak dalam pusaran disinformasi yang diciptakan oleh lawan politik.

Tuduhan Donald Trump terhadap Iran mencakup tiga poin spesifik mengenai penggunaan AI untuk menyesatkan publik dunia. Pertama, ia mengklaim Iran menunjukkan armada kapal kamikaze yang sebenarnya tidak pernah ada di medan tempur. Kedua, Trump menyebut Iran memanipulasi citra serangan terhadap kapal induk USS Abraham Lincoln agar terlihat sukses besar di mata dunia.

Ancaman Sanksi Pengkhianatan bagi Media

Trump tidak segan-segan mengeluarkan peringatan keras bagi media massa yang terus menyebarkan konten yang ia anggap sebagai hoaks buatan Iran. Ia menyatakan bahwa tindakan menyebarluaskan berita palsu tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara. Hal ini menambah daftar panjang perseteruan antara Trump dengan institusi pers yang sering mengkritik kebijakan militernya.

Meskipun klaim Trump soal disinformasi Iran ini belum disertai bukti teknis yang mendalam secara publik, dampaknya telah terasa pada kebijakan keamanan siber AS. Pemerintah kini mulai memperketat pengawasan terhadap lalu lintas data internasional yang berasal dari wilayah konflik. Fokus utama mereka adalah mencegah infiltrasi kode-kode jahat yang mungkin disisipkan melalui platform kecerdasan buatan yang tampaknya tidak berbahaya.

Di sisi lain, para ahli teknologi militer memperingatkan bahwa perang informasi di masa depan memang akan sangat bergantung pada kemampuan AI. Penggunaan deepfake dan manipulasi data real-time menjadi tantangan baru bagi intelijen militer mana pun. Kasus ini menjadi alarm bagi dunia internasional tentang pentingnya regulasi global terkait penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah pertahanan dan keamanan.