Uptodai.com - Menanggapi rencana RI bikin AI saingan Deepseek, bos besar Grup Sinarmas Franky Widjaja memberikan pandangan yang sangat realistis mengenai posisi Indonesia saat ini. Dalam diskusi panel XLSMART Bravo 500 Summit 2026, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sempat menanyakan potensi konglomerasi lokal menciptakan model kecerdasan buatan tandingan. Namun, Franky menilai Indonesia sudah cukup tertinggal dalam hal waktu pengembangan dan ketersediaan talenta digital yang mumpuni.

Sebagai informasi, DeepSeek sendiri merupakan model AI asal China yang belakangan ini mengguncang industri teknologi global karena efisiensi biaya pengembangannya yang sangat fantastis. Banyak negara kini berlomba-lomba membangun kedaulatan AI mereka sendiri demi mengurangi ketergantungan pada raksasa teknologi Amerika Serikat. Namun, bagi sektor swasta di Indonesia, investasi triliunan rupiah untuk membuat Large Language Model dari nol dinilai kurang efisien secara bisnis.

Tantangan Talenta dan Dukungan Finansial

Franky menekankan bahwa pengembangan teknologi AI yang kompetitif membutuhkan ekosistem pendukung yang sangat masif, terutama dari segi pendanaan dan regulasi pemerintah. Orang-orang jenius di bidang teknologi tidak bisa bekerja sendiri tanpa adanya infrastruktur komputasi awan yang memadai. Oleh karena itu, Sinarmas memilih fokus menjadikan talenta sebagai aset terpenting dengan mendatangkan mentor global guna membimbing generasi muda lokal.

Strategi Adopsi Dibandingkan Membuat Baru

Dari sudut pandang bisnis, Franky menegaskan bahwa orientasi utamanya adalah melihat keuntungan konkret yang bisa diambil dari pemanfaatan teknologi tersebut. Ia secara terbuka menyatakan tidak tertarik memaksakan diri membuat teknologi serupa DeepSeek karena keterbatasan kapabilitas finansial dan teknis. Dirinya justru menyarankan Indonesia meniru langkah China yang sangat sukses dalam hal pengaplikasian teknologi secara masif di masyarakat.

Dengan jumlah populasi yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki potensi pasar adopsi AI yang sangat luar biasa untuk meningkatkan produktivitas berbagai sektor industri. Dibandingkan membuang energi menciptakan platform tandingan, mengintegrasikan teknologi yang sudah ada dianggap jauh lebih menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah pragmatis ini diharapkan dapat mempercepat transformasi digital tanpa harus terjebak dalam perang dingin teknologi global.