Uptodai.com - Konektivitas digital menjadi salah satu aspek krusial yang harus dipulihkan segera pasca bencana alam. Dalam upaya masif tersebut, Telkomsel pulihkan jaringan Aceh yang sempat terdampak parah oleh banjir besar di sejumlah wilayah.

Aksi pemulihan ini merupakan bagian dari kolaborasi besar yang melibatkan Satuan Tugas (SATGAS) DPR RI dan Kementerian melalui program bertajuk GALAPANA. Hingga laporan terbaru diterima, Telkomsel mengklaim telah menuntaskan pemulihan seluruh infrastruktur telekomunikasi di Provinsi Serambi Mekkah.

Strategi Pemulihan Jaringan Telkomsel di Aceh

Keberhasilan pemulihan ini ditandai dengan pulihnya 99,9% Base Transceiver Station (BTS) milik Telkomsel di seluruh area terdampak. Meskipun demikian, tingkat kestabilan layanan jaringan saat ini masih berkisar di angka 90%, sebab sangat bergantung pada stabilitas pasokan listrik di lokasi masing-masing.

Keterlibatan Telkomsel dalam penanganan bencana berskala besar ini berfokus pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah pemulihan konektivitas dan jaringan, yang menjadi prioritas utama untuk komunikasi darurat dan koordinasi.

Selain itu, perusahaan juga memberikan dukungan digitalisasi data terpadu untuk mempermudah koordinasi data korban dan bantuan. Terakhir, mereka menyalurkan dukungan logistik dan melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang terintegrasi penuh dengan SATGAS DPR RI dan Kementerian.

Tantangan Utama dan Pengerahan Combat BTS

Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menjelaskan bahwa pemulihan jaringan adalah kunci vital untuk mendukung mobilitas masyarakat dan efektivitas penanganan bencana. Tim teknis harus bekerja secara bertahap dan terukur sejak awal bencana, dengan selalu mengedepankan keselamatan personel di lapangan.

“Siang hari ini seluruh BTS Telkomsel di Aceh telah berhasil kami pulihkan sepenuhnya. Fokus kami sekarang adalah menjaga dan terus meningkatkan kestabilan layanan seiring dengan membaiknya pasokan listrik di wilayah yang terdampak,” ujar Nugroho.

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah fluktuasi pasokan listrik di beberapa daerah terpencil. Kondisi ini secara langsung memengaruhi optimalisasi dan kualitas layanan telekomunikasi yang diberikan kepada masyarakat.

Untuk mengakselerasi proses pemulihan dan memastikan layanan tetap andal, Telkomsel mengerahkan berbagai perangkat pendukung berteknologi tinggi. Mereka mengoperasikan 5 unit Compact Mobile BTS (Combat) yang berfungsi memperkuat cakupan jaringan di lokasi yang sulit dijangkau, termasuk kawasan hunian sementara (Huntara).

Selain Combat, perusahaan juga menyiapkan 316 unit genset yang berperan sebagai sumber listrik cadangan. Penggunaan genset ini sangat penting untuk menjaga BTS tetap aktif saat terjadi pemadaman listrik, sehingga komunikasi masyarakat tidak terputus di masa kritis pascabencana.

Komitmen Sinergi dan Pemantauan Jangka Panjang

Melalui sinergi yang kuat dalam program GALAPANA, Telkomsel berkomitmen untuk tidak menghentikan pemantauan jaringan pasca pemulihan. Optimalisasi jaringan akan terus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin kualitas layanan.

Perusahaan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terkait. Tujuannya adalah memastikan bahwa layanan komunikasi tetap andal dan stabil selama masa transisi pemulihan pascabencana berlangsung, mendukung seluruh aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat Aceh.