Raja Kripto Tether Gencar Investasi Emas Batangan, Dunia Tak Baik-baik Saja
Uptodai.com - Salah satu entitas paling berpengaruh di dunia kripto, Tether, secara agresif mulai mengalihkan sebagian besar portofolio investasinya ke aset fisik. Keputusan ini terwujud dalam rencana besar Tether investasi emas batangan, yang diumumkan langsung oleh CEO perusahaan, Paolo Ardoino.
Langkah strategis ini bukan tanpa alasan, melainkan respons terhadap kondisi global yang dinilai semakin tidak menentu. Tether, yang dikenal sebagai penerbit stablecoin terbesar dunia, USDT, kini melihat emas sebagai benteng pertahanan utama di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Strategi Diversifikasi Aset Tether di Tengah Ketidakpastian
Paolo Ardoino mengonfirmasi bahwa perusahaannya berencana mengalokasikan antara 10% hingga 15% dari total portofolio investasinya ke dalam emas batangan. Alokasi signifikan ini merupakan tambahan terhadap cadangan emas yang sudah ada, yang selama ini digunakan untuk mendukung beberapa produk stablecoin mereka.
Menurut Ardoino, diversifikasi aset menjadi sangat krusial di masa kini. Ia menyebut bahwa memiliki sekitar 10% di Bitcoin dan 10% hingga 15% di emas batangan adalah langkah yang sangat masuk akal untuk menjaga stabilitas portofolio Tether.
Meskipun demikian, Ardoino tidak merinci nilai pasti dari portofolio investasi Tether secara keseluruhan, sehingga sulit untuk menghitung berapa nilai 10% hingga 15% tersebut dalam bentuk emas fisik. Ia bahkan menyamakan dilema antara memilih emas atau Bitcoin seperti memilih anak sendiri.
Alasan di Balik Keputusan Raja Kripto Beralih ke Emas
Keputusan Tether untuk gencar membeli emas didorong oleh pandangan pesimistis terhadap kondisi dunia saat ini. Ardoino secara blak-blakan menyatakan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, dan hal ini memicu ketakutan massal di pasar global.
Ketakutan tersebut, menurutnya, terlihat jelas dari harga emas yang terus mencetak rekor all-time high (ATH) baru setiap hari. Fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan modal besar-besaran dari aset berisiko ke aset lindung nilai (safe haven) seperti emas.
Tether mulai mengakumulasi emas batangan dengan menggunakan laba yang dikantongi sejak 2020, ketika pandemi Covid-19 menghantam pasar. Pembelian ini kemudian terus dilanjutkan seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih berlangsung hingga sekarang.
Kekuatan Cadangan Emas Fisik Tether
Tether, yang berbasis di El Salvador, mengungkapkan bahwa mereka telah memiliki cadangan emas batangan fisik sebanyak 130 metrik ton untuk membekingi produk-produknya. Jumlah ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap aset fisik yang tahan banting.
Bahkan, pada kuartal keempat (Q4) tahun 2025, Tether menambah cadangan mereka dengan membeli 27 ton batang emas sebagai instrumen investasi. Pembelian ini dilakukan secara konsisten, di mana Ardoino menyebutkan bahwa perusahaannya membeli sekitar dua ton emas batangan per minggu.
Perusahaan ini menegaskan ingin mempertahankan kepemilikan emas fisiknya yang disimpan di Swiss, memastikan keamanan dan aksesibilitas aset tersebut. Tether tidak menetapkan target pembelian emas batangan yang kaku, melainkan mengambil keputusan ini setiap kuartal berdasarkan kondisi pasar dan laba yang diperoleh.
Target Laba dan Dominasi Stablecoin
Tether membeli emas batangan dalam jumlah besar pada tahun lalu tidak hanya untuk diversifikasi, tetapi juga untuk membekingi stablecoin Tether USDT, yang memiliki nilai token beredar fantastis, mencapai US$186 miliar atau setara Rp3.121 triliun.
Selain USDT, Tether juga memiliki token emas Tether USDT yang nilai token beredarnya menembus US$2,7 miliar atau setara Rp45 triliun. Hal ini semakin memperkuat posisi mereka sebagai pemain utama yang kini merambah ke pasar komoditas tradisional.
Tether saat ini mempekerjakan sekitar 250 karyawan dan menginvestasikan cadangan yang mendukung stablecoin USDT-nya dalam surat utang pemerintah AS serta aset-aset lainnya. Ardoino menargetkan laba Tether pada 2026 akan melampaui US$10 miliar (Rp167 triliun) yang diraup sepanjang 2025, bahkan berpotensi menyamai rekor US$13,7 miliar (Rp229 triliun) yang dibukukan pada 2024.