TikTok Mulai Ditinggalkan, Beralih ke Aplikasi UpScrolled Buatan Palestina
Uptodai.com - Di tengah dominasi raksasa teknologi global, muncul fenomena menarik: jutaan pengguna media sosial dilaporkan mulai beralih ke Aplikasi UpScrolled buatan Palestina. Platform baru ini menawarkan janji kebebasan berekspresi yang sulit ditemukan di platform mapan seperti TikTok atau X (Twitter).
UpScrolled, yang didukung oleh proyek advokasi Tech for Palestine, kini menjadi magnet baru bagi mereka yang merasa kontennya sering disensor atau di-shadowban. Dalam waktu singkat, aplikasi ini berhasil menarik perhatian global, menantang hegemoni yang sudah lama dipegang oleh perusahaan teknologi besar dari Barat.
Pertumbuhan Eksponensial UpScrolled dan Janji Kebebasan Konten
Aplikasi UpScrolled terbilang masih sangat muda, baru diluncurkan pada Juli 2025. Namun, pertumbuhannya menunjukkan akselerasi yang luar biasa, terutama setelah memasuki awal tahun 2026. Pendirinya menyebutkan bahwa jumlah pengguna telah melampaui angka 2,5 juta secara global.
Angka tersebut melonjak drastis, mengingat pada awal Januari, pengguna baru hanya mencapai sekitar 150 ribu. Lonjakan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak dari masyarakat dunia akan platform yang inklusif dan tidak memihak. Peningkatan pesat ini mengindikasikan bahwa banyak pengguna TikTok pindah platform untuk mencari ruang digital yang lebih netral.
Mengapa Pengguna TikTok Pindah Platform? Isu Sensor dan Etika Data
UpScrolled diposisikan sebagai gabungan fitur dari Instagram dan X, menciptakan pengalaman media sosial yang unik. Klaim utamanya adalah komitmen terhadap inklusivitas suara dan izin untuk semua konten, tanpa adanya perlakuan shadowban atau sensor yang selektif.
Hijazi, pendiri UpScrolled, secara terbuka mengecam praktik perusahaan teknologi besar yang dianggap tidak etis. Ia menuduh platform-platform mapan kerap menjual data pengguna demi keuntungan dan menekan konten-konten yang pro-Palestina.
Menurutnya, perusahaan Big Tech tidak peduli dengan kesehatan mental penggunanya. Mereka merancang sistem yang adiktif hanya demi memastikan pengguna tetap berada di platform selama mungkin, karena hal itu menguntungkan secara finansial bagi mereka. Kritik tajam ini sejalan dengan kekhawatiran global mengenai privasi dan manipulasi algoritma.
Tantangan Berat: Kontroversi Konten dan Upaya Regulasi
Meskipun mendapat sambutan hangat, kebijakan kebebasan konten yang diterapkan UpScrolled juga menuai kritik besar. Banyak pengguna mengeluhkan bahwa platform tersebut menampung terlalu banyak konten porno dan ketelanjangan, sebuah isu yang sering muncul pada platform yang mengklaim kebebasan penuh.
Menanggapi hal ini, Hijazi mengakui adanya tantangan tersebut dan berjanji untuk mengatasinya. Pihak perusahaan sedang berupaya keras menerapkan pedoman komunitas yang ketat demi mematuhi hukum di berbagai yurisdiksi global.
UpScrolled saat ini tengah membentuk tim ahli untuk memperkuat panduan komunitas. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap umpan balik pengguna, memastikan bahwa platform tetap menjadi ruang yang aman sambil mempertahankan janji kebebasan berekspresi tanpa sensor politik.
Latar Belakang Pendiri dan Motivasi Perlawanan Sensor
Sebelum mendirikan Aplikasi UpScrolled buatan Palestina, sang pendiri, yang bernama Hijazi, memiliki rekam jejak yang kuat di industri teknologi. Ia sempat bekerja untuk perusahaan teknologi raksasa seperti Oracle dan IBM.
Namun, karier mapannya ditinggalkan ketika serangan Israel ke Gaza memuncak. Pendorong utama keputusannya adalah tingginya tingkat sensor konten pro-Palestina di berbagai aplikasi populer. Hijazi melihat adanya celah besar di pasar saat banyak pengguna TikTok pindah platform karena merasa dibungkam.
Ia menyadari bahwa banyak orang mencari alternatif platform Big Tech yang memungkinkan mereka menyuarakan pendapat tanpa takut dibungkam atau disensor. Inilah yang menjadi fondasi ideologi UpScrolled, sebuah platform yang lahir dari keinginan untuk menciptakan ruang digital yang adil dan terbuka bagi semua suara.