Cerita Pilu 440 WNI Kabur dari Pusat Scam Kamboja, Paspor Ditahan
Uptodai.com - Kisah pilu terus mencuat dari Asia Tenggara, di mana para pekerja migran Indonesia menjadi korban janji manis yang berujung jeratan kerja paksa. Salah satu korban yang berhasil melarikan diri menceritakan bagaimana ia dan ratusan rekannya berhasil kabur dari pusat scam di Kamboja.
Pria muda tersebut, yang sebelumnya dijanjikan gaji menggiurkan US$600 per bulan, kini berjuang mendapatkan kembali identitasnya. Ia adalah bagian dari gelombang korban yang diselamatkan setelah melarikan diri dari kompleks penipuan yang dikelola sindikat kejahatan siber.
WNI Kabur dari Pusat Scam Kamboja: Berawal dari Rumor Penggerebekan
Korban tersebut berhasil melarikan diri dari kompleks yang berlokasi di kota Bavet, wilayah dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Ia tiba di Phnom Penh pada pertengahan Januari 2026, membawa cerita mencekam tentang eksploitasi dan paspor yang ditahan.
Menurut kesaksiannya, para pekerja diizinkan pergi karena adanya rumor penindakan keras oleh aparat. “Mereka mendengar polisi akan masuk ke dalam kompleks, jadi membiarkan semua orang pergi,” ujar korban tersebut, sebagaimana dikutip media asing.
Setibanya di ibu kota, langkah pertama yang ia ambil adalah menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mengurus dokumen perjalanan baru. Ia mengaku paspor aslinya masih dipegang oleh bosnya yang disebut berkebangsaan China, praktik umum yang dilakukan sindikat untuk mencegah pekerja melarikan diri.
Data menunjukkan bahwa dalam periode singkat 1 hingga 18 Januari 2026 saja, sebanyak 440 orang WNI dibebaskan dari jeratan sindikat penipuan online di Kamboja. Mayoritas dari mereka kini berharap segera dipulangkan ke Tanah Air.
Penindakan Keras Kamboja Memicu Pemecatan Massal
Duta Besar Indonesia untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, membenarkan bahwa penegakan hukum yang diterapkan oleh Pemerintah Kamboja belakangan ini telah memberikan dampak signifikan. Tindakan keras tersebut memaksa banyak sindikat penipuan online untuk memecat para pekerjanya secara massal.
“Banyak sindikat memecat para pekerjanya,” ucap Santo dalam sebuah unggahan video di media sosial resmi KBRI. Ia menambahkan bahwa pihaknya memperkirakan akan lebih banyak lagi WNI yang datang meminta perlindungan, terutama dari provinsi-provinsi di mana kompleks scam beroperasi.
Sebagian besar WNI yang mendatangi kedutaan adalah mereka yang telah terlibat dalam operasi penipuan online selama berbulan-bulan, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun. Selain masalah paspor yang ditahan, banyak korban juga mengalami tekanan psikologis dan ancaman fisik selama bekerja.
Jaringan Scam Raksasa dan Penangkapan Bos China
Persoalan perdagangan orang untuk dijadikan operator penipuan siber telah menjadi isu internasional yang mendesak. PBB mencatat, ada sekitar 100.000 orang yang bekerja di pusat-pusat scam di Kamboja.
Pemerintah Kamboja sendiri telah berjanji untuk ‘menghilangkan’ masalah ini. Komitmen tersebut dibuktikan dengan penangkapan besar yang mengguncang industri tersebut.
Sebelumnya, pengusaha Kamboja kelahiran China, Chen Zhi, telah ditangkap dan dideportasi karena keterlibatannya dalam operasi penipuan internet. Chen, yang pernah menjabat sebagai penasihat pemerintah Kamboja, bahkan didakwa oleh otoritas Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu.
Skeptisisme di Balik Aksi Penindakan
Penangkapan Chen Zhi disebut oleh Mark Taylor, seorang ahli anti-perdagangan manusia di Kamboja, sebagai peristiwa yang mengguncang industri penipuan. Taylor menilai, sejumlah operator besar kemungkinan merasa ketakutan atas konsekuensi hukum yang menanti, sehingga mereka memilih untuk membebaskan pekerja atau mengevakuasi lokasi operasi.
Namun, Taylor juga menyuarakan dugaan adanya hubungan erat antara jaringan penipuan dengan tokoh-tokoh politik lokal. Ia khawatir bahwa tindakan keras yang dilakukan hanya merupakan “aksi sandiwara” semata.
Skenario terburuknya, penindakan keras tersebut hanya menjadi cara bagi sindikat untuk memindahkan peralatan, manajer, dan pekerja ke lokasi baru yang lebih aman. Hal ini memungkinkan mereka untuk bertahan dan melanjutkan bisnis kejahatan siber di wilayah lain, menunjukkan bahwa upaya pemberantasan total masih jauh dari kata selesai.