Uptodai.com - Pemerintah baru saja memperbarui peta kerawanan bencana, di mana zona Megathrust Indonesia terbaru menunjukkan pergeseran kontur yang jauh lebih rapat dan berbahaya dibandingkan data tahun 2017. Pembaruan ini mencerminkan peningkatan akumulasi energi tektonik yang perlu diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat dan otoritas terkait. Penambahan titik bahaya ini bahkan menarik perhatian serius dari pakar seismologi internasional.

Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University memberikan perhatian khusus terhadap fenomena geologi di tanah air. Ia menilai bahwa karakteristik lempeng di Indonesia memiliki kemiripan yang sangat signifikan dengan Nankai Trough di Jepang. Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan paling aktif di dunia yang terus dipantau secara ketat oleh para ilmuwan global.

Heki menjelaskan bahwa pandangan klasik mengenai siklus gempa besar biasanya berada pada interval 50 hingga 100 tahun. Namun, pengalaman di Jepang membuktikan bahwa alam seringkali memberikan kejutan yang tidak terduga. Hal ini ia sampaikan saat menjalankan tugas sebagai Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025 lalu.

Analogi Nankai Trough dan Pentingnya Teknologi GNSS

Pakar asal Jepang tersebut menekankan bahwa meskipun waktu pasti gempa sulit diprediksi, manusia memiliki teknologi untuk membaca tanda-tandanya. Ia mendorong penguatan jaringan Global Navigation Satellite System (GNSS) di sepanjang pesisir Indonesia. Teknologi satelit ini mampu memantau deformasi atau perubahan bentuk kerak bumi secara jangka panjang dengan tingkat akurasi tinggi.

Selain GNSS, pengukuran geodesi dasar laut menjadi kunci utama dalam memetakan akumulasi tegangan di zona subduksi. Heki mengamati adanya fenomena kopling antar seismik yang saling mengunci di sepanjang sumbu palung. Kondisi ini menyebabkan regangan terus menumpuk, bahkan pada bagian batas lempeng yang tergolong sangat dangkal sekalipun.

Akumulasi energi yang terus meningkat ini berpotensi memicu pelepasan energi besar di masa depan. Oleh karena itu, pemantauan instrumen di dasar laut menjadi investasi krusial bagi keselamatan publik. Indonesia dinilai perlu mempercepat pengadaan teknologi ini guna meminimalisir dampak risiko bencana yang mungkin terjadi.

Fenomena Slow Slip Event sebagai Indikator Awal

Salah satu poin penting yang disoroti oleh Heki adalah fenomena slow slip event atau pergeseran lambat lempeng bumi. Meskipun pergerakan ini tidak dirasakan sebagai getaran oleh manusia, dampaknya sangat menentukan stabilitas tektonik. Fenomena ini seringkali muncul sebagai prekursor atau indikator awal sebelum terjadinya gempa bumi dengan kekuatan dahsyat.

Para ahli di Jepang telah berulang kali mengamati pola pergeseran lambat ini di wilayah Nankai Trough. Heki berpendapat bahwa salah satu peristiwa pergeseran lambat tersebut bisa saja menjadi pemicu utama gempa besar berikutnya. Ia meyakini bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem peringatan dini berbasis fenomena ini.

Mengingat banyaknya zona subduksi aktif mulai dari Sumatra hingga Maluku, penguatan jaringan sensor menjadi harga mati. Saat ini, Profesor Heki sedang aktif mengerjakan riset mendalam mengenai masalah teknis ini di Indonesia. Kolaborasi internasional ini diharapkan mampu melahirkan sistem mitigasi yang lebih presisi bagi bangsa.

Daftar Wilayah dengan Potensi Magnitudo Terbesar

Dalam peta zona Megathrust Indonesia terbaru, wilayah Aceh-Andaman menempati urutan teratas dengan potensi risiko paling tinggi. Para ahli mencatat bahwa kawasan ini menyimpan energi yang mampu memicu gempa hingga magnitudo 9,2. Angka ini setara dengan kekuatan gempa besar yang pernah memicu tsunami dahsyat di masa lalu.

Tidak hanya di ujung barat, wilayah Jawa juga menyimpan ancaman yang tidak kalah serius bagi penduduknya. Megathrust Jawa tercatat memiliki potensi guncangan maksimum hingga magnitudo 9,1. Tingginya angka potensi ini menuntut kesiapan infrastruktur dan simulasi evakuasi yang lebih intensif di sepanjang pesisir selatan Jawa.

Sejumlah zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano juga masuk dalam radar pengawasan ketat. Masing-masing wilayah tersebut menyimpan potensi energi gempa hingga magnitudo 8,9. Dengan data yang semakin detail ini, pemerintah diharapkan dapat menyusun kebijakan tata ruang yang lebih berbasis pada mitigasi bencana geologi.