Uptodai.com - Proses evakuasi korban kereta Bekasi diinfus dan mendapatkan penanganan medis intensif meski tubuh mereka masih terjepit di antara reruntuhan material baja yang sangat sempit. Tindakan ini sempat memicu rasa penasaran publik mengenai alasan di balik prosedur medis yang tergolong berisiko tersebut di lokasi kejadian. Tim medis harus berpacu dengan waktu untuk memastikan kondisi fisik para korban tidak memburuk selama proses penyelamatan berlangsung.

Ketua Umum LKTB IDI sekaligus Incident Commander Kemenkes, dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB, menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan keputusan krusial. Tim medis di lapangan sudah memprediksi bahwa proses pemotongan baja dan evakuasi akan memakan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, stabilisasi kondisi fisik korban menjadi prioritas utama sebelum mereka berhasil dikeluarkan dari puing-puing.

Pemberian cairan infus bertujuan untuk menjaga tanda-tanda vital para korban agar tetap stabil di tengah situasi yang mencekam. Dokter Iqbal menyebutkan bahwa beberapa korban menunjukkan gejala klinis yang mengkhawatirkan, seperti denyut nadi yang meningkat sangat tajam. Kondisi ini menandakan adanya potensi perburukan fungsi organ tubuh akibat trauma fisik yang hebat.

Menjaga Kesadaran dan Mencegah Dehidrasi

Selain menstabilkan nadi, pemberian cairan melalui infus sangat penting untuk mencegah dehidrasi akut pada korban. Suhu di lokasi evakuasi yang panas dan sirkulasi udara yang terbatas dapat mempercepat penurunan kondisi fisik seseorang yang sedang terluka. Cairan tersebut membantu menjaga volume darah dan memastikan korban tetap dalam keadaan sadar selama komunikasi dengan tim penyelamat.

Langkah medis ini juga menjadi jembatan agar korban tidak jatuh ke dalam kondisi syok hipovolemik atau neurogenik. Tim medis terus memantau respons tubuh korban terhadap cairan yang masuk secara berkala. Hal ini dilakukan agar setiap perubahan kondisi sekecil apa pun dapat segera ditangani sebelum proses evakuasi fisik dilakukan secara manual.

Keputusan Pemberian Bius Sedasi di Lokasi Kejadian

Tidak hanya infus, dokter juga mengambil langkah berani dengan memberikan obat bius atau sedasi kepada para korban yang masih terjepit. Tim medis menggunakan kombinasi obat fentanyl dan midazolam untuk memberikan efek relaksasi total pada sistem saraf dan otot. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan tingkat nyeri yang sangat tinggi yang dirasakan oleh para korban.

Pemberian bius ini memiliki tujuan ganda yang sangat teknis dalam prosedur penyelamatan darurat. Pertama, obat tersebut berfungsi meminimalisir rasa nyeri luar biasa yang bisa memicu kegagalan jantung pada korban. Kedua, bius membuat otot-otot korban menjadi lebih rileks sehingga memudahkan tim rescue saat menarik tubuh mereka keluar dari himpitan baja.

Memudahkan Kerja Tim Penyelamat

Tanpa adanya efek relaksasi dari obat bius, korban cenderung akan melakukan gerakan refleks akibat rasa sakit yang tak tertahankan. Gerakan spontan ini justru sering kali menghambat proses evakuasi dan berisiko memperparah luka yang sudah ada. Dengan kondisi korban yang lebih tenang, tim penyelamat dapat bekerja lebih presisi saat memotong material baja di sekitar tubuh korban.

Langkah medis agresif ini diambil setelah upaya evakuasi manual selama berjam-jam tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. Tim medis menyadari bahwa golden time atau periode emas penanganan trauma selama enam jam sudah terlewati. Oleh karena itu, intervensi medis langsung di titik nol kecelakaan menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan nyawa para korban.

Perjuangan melelahkan selama sembilan jam akhirnya membuahkan hasil yang melegakan bagi semua pihak. Sekitar pukul 7 pagi, kelima korban yang terjepit berhasil dievakuasi dalam kondisi yang relatif stabil berkat dukungan medis sejak awal. Setelah berhasil keluar, mereka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lanjutan yang lebih komprehensif.