Asal-usul Nama Depok: Ternyata Singkatan dari Bahasa Belanda
Uptodai.com - Asal-usul nama Depok menyimpan lembaran sejarah yang sangat unik dan jarang diketahui oleh masyarakat luas, terutama bagi mereka yang setiap hari melintasi kota satelit ini. Sebagai salah satu penyangga utama Jakarta, kawasan ini ternyata memiliki akar sejarah yang sangat kuat dengan masa kolonialisme Belanda di tanah air.
Banyak warga yang mengira bahwa kata tersebut berasal dari bahasa lokal atau istilah kuno masyarakat Sunda. Namun, fakta sejarah mengungkapkan bahwa nama kota ini merupakan sebuah akronim dari bahasa Belanda yang merujuk pada sebuah komunitas keagamaan di masa lalu.
Makna di Balik Singkatan De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen
Secara historis, nama kota ini merupakan kependekan dari De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut memiliki arti “Organisasi Kristen Protestan Pertama”. Istilah ini merujuk pada sebuah komunitas mandiri yang dibentuk oleh para mantan budak pada abad ke-17.
Komunitas tersebut bermula dari kebijakan seorang tuan tanah asal Belanda bernama Cornelis Chastelein. Ia membebaskan para pekerjanya dan mewariskan lahan luas di wilayah tersebut untuk dikelola secara mandiri. Langkah ini tergolong sangat progresif dan tidak lazim pada era kolonial yang penuh dengan praktik perbudakan kejam.
Wilayah ini kemudian berkembang pesat dan sempat memiliki status administrasi khusus sebagai Residensi Ommelanden van Batavia. Status tersebut secara resmi ditetapkan melalui keputusan Gubernur Batavia pada 11 April 1949, yang mencakup daerah-daerah di pinggiran ibu kota.
Sosok Cornelis Chastelein dan Warisan Tanah di Selatan Batavia
Membahas mengenai asal-usul nama Depok tidak bisa lepas dari sosok Cornelis Chastelein yang merupakan mantan pejabat tinggi VOC. Ia memulai kariernya sebagai pengawas gudang hingga akhirnya mencapai posisi terhormat sebagai saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia. Kekayaannya yang melimpah memungkinkan ia membeli lahan-lahan strategis di sekitar Jakarta.
Catatan sejarah dalam buku Depok Tempo Doeloe menyebutkan bahwa Chastelein membeli lahan pertamanya pada tahun 1693 di kawasan Weltevreden atau yang sekarang dikenal sebagai Gambir. Lahan tersebut awalnya digunakan untuk perkebunan tebu yang menjadi komoditas unggulan pada masa itu. Setelah pensiun, ia memilih untuk menetap di wilayah Serengseng yang kini kita kenal sebagai daerah Lenteng Agung.
Saat pindah ke Serengseng, Chastelein membawa serta sekitar 150 orang pekerja atau budak yang berasal dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa. Berbeda dengan pejabat VOC lainnya, ia dikenal memperlakukan para pekerjanya dengan sangat manusiawi dan memberikan pendidikan yang layak bagi mereka.
Transformasi Perkebunan Menjadi Pemukiman Mandiri
Sebelum mengembuskan napas terakhir pada 28 Juni 1714, Chastelein membuat keputusan besar dengan memerdekakan seluruh budaknya. Ia memberikan hak atas tanah di kawasan Mampang dan wilayah yang kini menjadi pusat kota. Para mantan budak inilah yang kemudian mengelola perkebunan kopi dan tanaman pangan lainnya secara kolektif.
Mereka membentuk tatanan sosial baru yang terorganisir, yang menjadi cikal bakal masyarakat modern di wilayah tersebut. Warisan Chastelein tidak hanya berupa lahan fisik, tetapi juga sistem nilai dan identitas yang melekat kuat pada komunitas asli setempat hingga generasi-generasi berikutnya.
Kini, wilayah yang dulunya merupakan hamparan perkebunan luas telah bertransformasi menjadi pusat pendidikan dan pemukiman padat. Meskipun wajah kota telah berubah total dengan kehadiran gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan, jejak asal-usul nama Depok tetap abadi sebagai pengingat sejarah panjang di selatan Jakarta.