Uptodai.com - Prediksi awal puasa Ramadan 2026 kini menjadi sorotan setelah Pusat Astronomi Internasional merilis analisis terbaru mengenai posisi bulan sabit atau hilal. Umat Islam di berbagai belahan dunia diperkirakan akan memulai ibadah wajib ini pada pertengahan Februari mendatang berdasarkan perhitungan sains terkini.

Berdasarkan perhitungan astronomis, kemunculan hilal sebagai penanda bulan baru kemungkinan besar sulit teramati pada Selasa, 17 Februari 2026. Kondisi ini memicu potensi pergeseran tanggal dimulainya puasa bagi negara-negara yang menggunakan metode pemantauan mata telanjang maupun alat optik. Para ahli menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan hal teknis yang sering terjadi dalam siklus kalender Hijriah.

Analisis Astronomi Global Terkait Posisi Hilal

Pusat Astronomi Internasional menjelaskan bahwa posisi bulan pada hari ke-29 bulan Syaban masih berada di bawah kriteria visibilitas yang ditetapkan secara internasional. Jika hilal tidak terlihat pada Selasa malam, maka jumlah hari dalam bulan Syaban akan digenapkan atau diistikmalkan menjadi 30 hari. Hal ini berimplikasi langsung pada penentuan tanggal satu Ramadan.

Skenario ini menunjukkan bahwa 1 Ramadan secara global kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Para ahli astronomi menekankan bahwa variasi cuaca dan lokasi geografis sangat menentukan keberhasilan pengamatan hilal di lapangan. Oleh karena itu, hasil observasi di satu negara bisa saja berbeda dengan wilayah lainnya di belahan bumi yang berbeda.

Potensi Perbedaan Tanggal Puasa di Indonesia

Di Indonesia sendiri, penetapan awal puasa Ramadan 2026 berpotensi mengalami perbedaan antara organisasi kemasyarakatan Islam dan pemerintah. Sejumlah lembaga menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menentukan masuknya awal bulan suci tersebut. Perbedaan ini biasanya bersumber dari penggunaan metode rukyatul hilal dan metode hisab hakiki.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa posisi hilal pada 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam. Data menunjukkan ketinggian hilal berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di wilayah Tua Pejat, Sumatera Barat. Angka negatif ini menunjukkan bahwa hilal secara teoritis mustahil untuk dilihat pada hari tersebut.

Kriteria MABIMS dan Sidang Isbat Pemerintah

Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya berpatokan pada kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Mengingat posisi hilal masih berada di zona negatif pada 17 Februari, maka secara teknis syarat visibilitas tersebut belum terpenuhi. Pemerintah kemungkinan besar akan mengambil langkah penggenapan bulan Syaban.

Pemerintah menjadwalkan Sidang Isbat pada Selasa sore untuk mengumpulkan laporan dari ratusan titik pemantauan di seluruh Nusantara. Jika merujuk pada data sains BMKG, besar kemungkinan pemerintah akan menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan resmi tetap menunggu hasil musyawarah bersama para tokoh agama dan ahli astronomi.

Keputusan Muhammadiyah Berdasarkan Hisab Global

Berbeda dengan metode rukyatul hilal, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memiliki kepastian lebih awal melalui metode hisab hakiki wujudul hilal. Melalui sistem Kalender Hijriah Global Tunggal, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada perhitungan yang sangat presisi terhadap posisi bulan secara global.

Keputusan Muhammadiyah ini diambil karena merujuk pada keberadaan hilal di wilayah mana pun di dunia, asalkan kriteria global sudah terpenuhi. Perbedaan ini merupakan hal yang lumrah terjadi dalam dinamika penentuan kalender Islam di tanah air selama bertahun-tahun. Masyarakat diharapkan tetap menjaga toleransi dalam menyikapi perbedaan tanggal memulai ibadah puasa ini.

Persiapan Umat Menuju Bulan Suci

Meskipun terdapat potensi perbedaan tanggal, semangat menyambut bulan suci tetap terasa kuat di tengah masyarakat Indonesia. Perbedaan metode antara hisab dan rukyat justru memperkaya khazanah keilmuan Islam dalam menentukan waktu ibadah secara akurat. Fokus utama umat Islam saat ini adalah mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik.

Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kerukunan dan saling menghormati pilihan keyakinan masing-masing organisasi keagamaan. Persiapan logistik dan kesehatan juga menjadi faktor penting mengingat ibadah puasa menuntut kondisi tubuh yang prima. Fokus utama tetap pada kekhusyukan dalam menjalankan ibadah selama satu bulan penuh nantinya.