Uptodai.com - Cara mengajarkan anak berbagi menjadi fokus utama pasangan selebritas Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu dalam mendidik ketiga buah hati mereka sejak dini. Pasangan ini meyakini bahwa kedermawanan bukanlah sifat bawaan, melainkan sebuah keterampilan yang harus dilatih secara konsisten layaknya otot tubuh.

Dalam acara Berkah Baik Iftar bersama MR.D.I.Y. Indonesia di Jakarta pada 4 Maret 2026, Wisnu dan Shireen membagikan rahasia mereka. Mereka menekankan pentingnya menumbuhkan “otot empati” pada anak-anak, terutama saat memasuki momen spesial seperti bulan suci Ramadan. Momen ini dianggap sebagai waktu terbaik untuk memberikan contoh nyata tentang kepedulian sosial.

Melibatkan Anak dalam Proses Persiapan Bingkisan

Salah satu strategi utama dalam cara mengajarkan anak berbagi adalah dengan menjadikan anak-anak sebagai “asisten” saat menyiapkan bantuan. Teuku Wisnu menjelaskan bahwa dirinya sengaja tidak membeli hadiah secara diam-diam tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Ia justru mengajak Teuku Adam, Cut Hawwa, dan Cut Shafiyyah untuk turun tangan langsung dalam proses pemilihan barang.

Anak-anak dilibatkan mulai dari memilih jenis barang di toko hingga membungkus bingkisan tersebut menjadi kado yang cantik. Wisnu berpendapat bahwa keterlibatan fisik ini akan membekas lebih kuat dalam ingatan anak dibandingkan hanya sekadar melihat orang tua memberi uang. Dengan cara ini, anak-anak belajar merasakan proses di balik sebuah pemberian.

Melibatkan anak secara langsung membantu menanamkan empati melalui pengalaman yang nyata dan menyenangkan bagi mereka. Berbagi bukan sekadar memberikan sesuatu yang kita miliki, tetapi juga tentang memahami apa yang dibutuhkan oleh orang lain. Melalui proses ini, anak-anak menyadari bahwa setiap barang yang mereka pilih memiliki tujuan mulia untuk membahagiakan sesama.

Menanamkan Nilai Manfaat di Atas Harga Barang

Selain keterlibatan langsung, Shireen Sungkar juga menekankan pentingnya memberikan pemahaman mengenai nilai dari sebuah barang. Ia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa manfaat sebuah benda jauh lebih penting daripada label harga yang tertera. Hal ini dilakukan agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang materialistis dalam melihat sebuah bantuan.

Shireen memberikan edukasi bahwa barang yang sederhana namun sangat dibutuhkan akan jauh lebih berharga bagi penerimanya. Misalnya, memberikan perlengkapan sekolah atau kebutuhan pokok yang memang sedang mendesak bagi orang yang dibantu. Pola pikir ini membantu anak-anak untuk lebih peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Penerapan cara mengajarkan anak berbagi ini dilakukan Shireen dengan memberikan penjelasan sederhana yang mudah dimengerti anak usia dini. Ia sering berdiskusi dengan anak-anaknya mengenai alasan mengapa mereka memilih barang tertentu untuk diberikan. Diskusi kecil seperti ini terbukti efektif merangsang daya kritis dan rasa kasih sayang sang buah hati.

Konsistensi dalam Memberikan Teladan Nyata

Kunci keberhasilan dari pola asuh Shireen dan Wisnu terletak pada konsistensi dan teladan yang mereka tunjukkan sebagai orang tua. Mereka sadar bahwa anak adalah peniru yang hebat, sehingga perilaku orang tua akan menjadi cermin bagi anak-anak. Oleh karena itu, berbagi sudah menjadi gaya hidup yang mereka praktikkan sehari-hari di dalam rumah.

Pasangan ini juga memanfaatkan momen Ramadan untuk memperkuat kebiasaan positif tersebut di lingkungan keluarga besar. Mereka sering mengajak anak-anak untuk ikut serta dalam kegiatan sosial atau sekadar berbagi takjil kepada tetangga sekitar. Aktivitas rutin ini membuat kegiatan berbagi terasa sebagai sesuatu yang natural dan bukan sebuah beban bagi anak.

Dengan menerapkan cara mengajarkan anak berbagi secara menyenangkan, Shireen dan Wisnu berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati. Mereka ingin menanamkan pesan bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Pendidikan karakter inilah yang menjadi warisan paling berharga bagi masa depan buah hati mereka.