Jutaan Gen Z Nganggur, CEO Sarankan Adaptasi Karir ke Teknisi
Uptodai.com - Anggapan bahwa gelar sarjana adalah jaminan tiket emas menuju pekerjaan profesional kini harus diuji ulang. Realitas pasar tenaga kerja global menunjukkan pergeseran drastis, terutama dengan masifnya adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang secara signifikan menggerus lapangan pekerjaan kerah putih (white collar).
Sander van ‘t Noordende, CEO Randstad, salah satu perusahaan rekrutmen terbesar di dunia, memberikan peringatan keras. Ia menyebutkan bahwa jutaan lulusan dari Generasi Z (Gen Z) saat ini menghadapi ancaman pengangguran, sementara banyak milenial mulai merasakan prospek karir mereka menyempit.
Ancaman AI dan Pembekuan Pasar Kerja Kantoran
Sebagai pimpinan perusahaan yang menempatkan sekitar 500.000 pekerja setiap minggunya, Van ‘t Noordende melihat langsung bagaimana dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja berubah. Ia memperingatkan para lulusan baru yang berharap mendapatkan posisi kantor yang nyaman, bahwa peluang kerja justru lebih terbuka lebar di sektor yang membutuhkan keahlian fisik.
Pasar kerja white collar, menurutnya, sedang mengalami pembekuan atau stagnasi. Kondisi ini diperparah oleh peringatan dari para pemimpin teknologi bahwa kemampuan AI kini sudah setara dengan pekerja level pemula (entry-level) dan berpotensi memangkas hingga setengah dari pekerjaan kantoran sebelum tahun 2030.
Bahkan, studi terbaru dari Stanford University menggarisbawahi dampak signifikan dan tidak proporsional dari AI terhadap Gen Z. Fenomena menarik lainnya adalah kenaikan gaji untuk profesi seperti bartender dan barista kini jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji pekerja kantoran tradisional.
Peluang Besar di Sektor Pekerja Terampil
Alih-alih menyarankan Gen Z untuk berjuang di tengah persaingan pekerjaan administrasi, Van ‘t Noordende menyarankan adaptasi radikal. Ia menekankan bahwa permintaan terbesar saat ini justru berada pada tenaga kerja terampil yang tidak mudah digantikan oleh algoritma.
“Ada permintaan besar untuk tenaga terampil: teknisi mesin, operator mesin, teknisi perawatan, operator forklift, sopir truk, sebut saja,” tegasnya, seperti dikutip dari Fortune. Profesi-profesi ini menawarkan jalur penghidupan yang stabil dan saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja.
Kebutuhan terhadap pekerja terampil ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan tren global. Keterampilan praktis yang melibatkan koordinasi fisik, pemecahan masalah di lapangan, dan interaksi manusia, masih menjadi benteng pertahanan terbaik melawan otomatisasi.
Fokus pada Keahlian, Bukan Sekadar ‘Passion’
Van ‘t Noordende juga memberikan nasihat yang mungkin terasa kontroversial bagi sebagian anak muda: jangan terlalu fokus mengikuti passion. Menurutnya, nasihat untuk mengejar hasrat pribadi kini bukan lagi pilihan yang bijak di tengah realitas ekonomi yang menuntut kepastian.
Ia menyarankan agar Gen Z mengubah fokus. “Pelajari sebuah keterampilan, keahlian, atau profesi yang bisa memberi penghidupan layak untukmu dan keluargamu. Itu jauh lebih masuk akal,” sarannya. Prioritas harus diletakkan pada kemampuan yang memiliki nilai jual tinggi di pasar.
Bagi mereka yang tetap memilih jalur pendidikan tinggi, Van ‘t Noordende menekankan bahwa bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) masih akan sangat relevan dan memberikan prospek jangka panjang. Ia mencontohkan, tingkat studi STEM di China bahkan dua kali lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat dan Eropa, menunjukkan pentingnya penguasaan bidang ini dalam persaingan global.
Adaptasi Karir Bukan Kegagalan
Bagi para profesional yang merasa gelar akademik mereka semakin tidak relevan, pesan dari CEO Randstad ini sangat sederhana: latih ulang diri. Belajar keterampilan baru adalah kunci untuk bertahan dan berkembang dalam ekonomi yang terus berubah.
Berpindah jalur dari pekerjaan kantor yang penuh tekanan menuju profesi seperti tukang ledeng, guru, atau perawat, bukanlah sebuah bentuk kegagalan. Alih-alih menyerah, langkah ini harus dilihat sebagai bentuk adaptasi cerdas terhadap realitas ekonomi baru yang menghargai keterampilan praktis di atas segalanya.
“Ini bukan menyerah, tapi menyesuaikan diri dengan hal yang benar-benar berhasil,” tutup Van ‘t Noordende, menegaskan bahwa fleksibilitas dan kemauan untuk belajar ulang adalah modal utama bagi Gen Z nganggur adaptasi karir di masa depan.