India Larang Tayang Film Gaza Demi Jaga Hubungan dengan Israel
Uptodai.com - Kebijakan India larang tayang film Gaza yang berjudul “The Voice of Hind Rajab” memicu kontroversi besar di kancah perfilman internasional. Keputusan ini diambil oleh Central Board of Film Certification (CBFC) India dengan alasan yang cukup mengejutkan bagi banyak pihak. Otoritas sensor tersebut khawatir konten dalam film dokumenter tersebut dapat mengganggu stabilitas hubungan diplomatik antara India dan Israel.
Padahal, film garapan sutradara asal Tunisia, Kaouther Ben Hania, ini merupakan salah satu karya yang paling mendapat apresiasi tahun ini. Film tersebut sukses meraih standing ovation selama 23 menit di Venice Film Festival dan membawa pulang penghargaan Silver Lion Grand Jury Prize. Selain itu, karya ini juga masuk dalam nominasi Golden Globe dan daftar pendek Oscar untuk kategori Film Internasional Terbaik.
Manoj Nandwana dari Jai Viratra Entertainment, selaku distributor film di India, mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan CBFC. Ia menyebutkan bahwa otoritas setempat secara spesifik menyatakan kekhawatiran bahwa film ini bisa “merusak” kemesraan hubungan New Delhi dengan Tel Aviv. Nandwana menilai alasan tersebut sangat tidak masuk akal mengingat kekuatan hubungan kedua negara saat ini.
Alasan Sensor yang Dianggap Berlebihan
Nandwana menegaskan bahwa hubungan bilateral antara India dan Israel seharusnya tidak goyah hanya karena sebuah karya seni. Ia memberikan argumen bahwa film ini telah tayang secara luas di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Prancis. Negara-negara tersebut juga memiliki hubungan diplomatik yang sangat erat dengan Israel namun tetap mengizinkan penayangan film tersebut.
“Saya sampaikan kepada mereka bahwa hubungan India-Israel sangat kuat, sehingga terasa konyol jika berpikir sebuah film bisa merusaknya,” ujar Nandwana. Ia menyayangkan sikap kaku badan sensor yang dianggap menutup mata terhadap nilai kemanusiaan dan artistik dari film tersebut. Keputusan India larang tayang film Gaza ini pun kini menjadi sorotan para aktivis hak asasi manusia.
Penolakan ini menambah daftar panjang film-film bermuatan politik yang sulit menembus pasar India dalam beberapa tahun terakhir. CBFC memang dikenal semakin ketat dalam menyaring konten yang dianggap sensitif bagi kebijakan luar negeri maupun stabilitas domestik. Hal ini sering kali memicu perdebatan mengenai batasan antara sensor untuk keamanan negara dan pembungkaman kebebasan berekspresi.
Tragedi Hind Rajab yang Mengguncang Dunia
Film “The Voice of Hind Rajab” sendiri mengangkat kisah nyata yang sangat memilukan tentang seorang anak perempuan Palestina berusia lima tahun. Hind Rajab tewas pada akhir Januari 2024 di Gaza setelah terjebak dalam serangan militer Israel. Ia menjadi satu-satunya korban selamat di dalam mobil yang berisi jenazah anggota keluarganya yang lain.
Narasi film ini menjadi sangat kuat karena menggabungkan rekaman audio asli saat Hind melakukan panggilan darurat kepada layanan medis. Suara ketakutan anak kecil yang meminta pertolongan di tengah desingan peluru menciptakan dampak emosional yang luar biasa bagi penonton. Sayangnya, upaya penyelamatan Hind gagal total setelah ambulans yang dikirim juga menjadi sasaran serangan.
Investigasi dari berbagai organisasi internasional menunjukkan bahwa kendaraan yang ditumpangi Hind ditembaki dengan ratusan peluru. Detail-detail tragis inilah yang coba disampaikan oleh sutradara Kaouther Ben Hania untuk memperlihatkan sisi kemanusiaan dari konflik. Namun, justru detail realitas inilah yang tampaknya dianggap terlalu sensitif oleh pemerintah India.
Pergeseran Politik Luar Negeri India
Langkah India larang tayang film Gaza ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik luar negeri di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Secara historis, India sebenarnya dikenal sebagai pendukung setia perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, dalam satu dekade terakhir, arah kebijakan New Delhi mengalami pergeseran yang sangat signifikan ke arah Israel.
Pemerintahan Modi telah membangun kerja sama strategis yang sangat dalam dengan Israel, terutama di sektor pertahanan dan teknologi. Kunjungan diplomatik tingkat tinggi antar kedua negara kini menjadi hal yang rutin dilakukan. Kedekatan inilah yang diduga membuat badan sensor India menjadi sangat berhati-hati terhadap konten yang menyudutkan militer Israel.
Kritikus film di India menyebut bahwa sensor ini merupakan bentuk keberpihakan politik yang nyata dalam ruang budaya. Sebelumnya, film lain seperti “Santosh” karya Sandhya Suri juga sempat mengalami kendala serupa karena dianggap menyentuh isu politik yang sensitif. Fenomena ini menunjukkan bahwa layar perak di India kini semakin terikat dengan kepentingan diplomasi pemerintah.