Marie Elka: Pentingnya Investasi pada Perempuan untuk Ekonomi RI
Uptodai.com - Pentingnya investasi pada perempuan menjadi sorotan utama Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Marie Elka Pangestu, dalam upaya memperkuat struktur ekonomi Indonesia. Ia menegaskan bahwa memberdayakan kaum perempuan bukan sekadar isu kesetaraan gender, melainkan strategi bisnis yang sangat menguntungkan. Data empiris menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan di level strategis mampu mendongkrak kinerja finansial perusahaan secara signifikan.
Marie menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri acara Top Women Fest 2026 di Area Relief Sarinah, Jakarta. Mengusung tema “A Celebration of Powerful Women: Strong Women, Strong Economy”, ia membagikan pengalaman profesionalnya selama lebih dari empat dekade. Mantan Menteri Perdagangan ini meyakini bahwa keberagaman kepemimpinan menjadi kunci pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dampak Positif Kepemimpinan Perempuan terhadap Profitabilitas
Perusahaan yang memberikan ruang bagi perempuan di level direksi cenderung mencatatkan laba yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang homogen. Marie menjelaskan bahwa kehadiran perempuan membawa perspektif baru yang lebih komprehensif dalam pengambilan keputusan. Hal ini berdampak langsung pada tingkat kepatuhan regulasi dan standar keselamatan kerja yang jauh lebih baik di lingkungan internal.
Selain itu, pemimpin perempuan sering kali memiliki orientasi jangka panjang yang sangat kuat dalam mengelola organisasi. Mereka tidak hanya mengejar keuntungan instan, tetapi juga sangat memperhatikan aspek keberlanjutan bisnis dan investasi pada riset. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk terus berinovasi dan tetap relevan di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
Fokus pada pengembangan inovasi menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang dibawa oleh representasi perempuan di posisi manajerial. Marie menekankan bahwa empati dan ketelitian yang menjadi karakteristik umum perempuan membantu dalam menciptakan budaya kerja yang sehat. Lingkungan kerja yang kondusif pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas seluruh elemen karyawan dalam perusahaan tersebut.
Tantangan Partisipasi Perempuan di Bursa Saham Indonesia
Meskipun memiliki potensi besar, peran perempuan dalam ekonomi nasional masih menghadapi jalan terjal, terutama di sektor korporasi besar. Marie mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan mengenai minimnya jumlah pemimpin perempuan di perusahaan publik. Saat ini, hanya sekitar 4% posisi CEO di perusahaan yang tercatat di bursa saham Indonesia yang dijabat oleh perempuan.
Data tersebut menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar dalam struktur kepemimpinan dunia usaha di tanah air. Bahkan, hampir separuh dari total perusahaan yang ada sama sekali tidak memiliki keterwakilan perempuan di level manajemen puncak. Kondisi ini mencerminkan bahwa sumber daya manusia perempuan belum mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkontribusi maksimal.
Dari sisi tenaga kerja secara umum, tingkat partisipasi perempuan di Indonesia baru menyentuh angka sekitar 56%. Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan partisipasi laki-laki yang sudah mencapai 85%. Marie menilai kesenjangan ini sebagai kehilangan potensi ekonomi yang sangat besar bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
Hambatan Struktural dan Pentingnya Dukungan Sponsor
Marie mengidentifikasi empat hambatan utama yang sering kali menjegal langkah perempuan untuk mencapai puncak karier. Salah satu faktor paling dominan adalah beban care economy atau tanggung jawab domestik yang masih timpang. Perempuan rata-rata menghabiskan waktu lebih dari 13 jam per hari untuk mengurus keluarga dan pekerjaan rumah tangga.
Beban domestik yang berat ini sering kali memaksa perempuan untuk memilih antara karier atau keluarga, sehingga menghambat akselerasi profesional mereka. Padahal, jika ada pembagian peran yang lebih adil di tingkat rumah tangga, produktivitas perempuan di sektor publik bisa meningkat pesat. Dukungan kebijakan dari perusahaan dan pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi kendala struktural ini.
Selain masalah domestik, ketersediaan mentor dan sponsor menjadi faktor krusial dalam pengembangan karier perempuan. Marie menegaskan bahwa perempuan tidak hanya membutuhkan mentor untuk sekadar memberikan nasihat atau arahan. Lebih dari itu, mereka membutuhkan sponsor, yakni sosok yang memiliki pengaruh untuk benar-benar mendorong dan mempromosikan mereka ke posisi strategis.
Tanpa adanya sponsor yang kuat, bakat-bakat perempuan sering kali terhenti di level menengah tanpa pernah mencapai posisi pengambil kebijakan. Oleh karena itu, menciptakan ekosistem kerja yang mendukung pertumbuhan kepemimpinan perempuan harus menjadi prioritas nasional. Langkah ini bukan hanya demi keadilan sosial, melainkan demi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih tangguh.