Uptodai.com - Buku Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans belakangan menjadi perbincangan hangat di Tanah Air. Pasalnya, buku tersebut memuat kisah traumatis Aurelie terkait pengalaman child grooming yang ia alami pada usia 15 tahun. Diskusi publik ini kembali menyoroti isu sensitif, sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa pelaku grooming cenderung denial dan menunjukkan luapan emosi yang meledak-ledak saat dikonfrontasi?

Sebagai informasi, child grooming adalah bentuk manipulasi psikologis yang sangat berbahaya. Pelaku secara sistematis membangun kepercayaan dan ikatan emosional dengan anak di bawah umur, seringkali dengan tujuan eksploitasi seksual atau emosional. Viralitas kisah Aurelie mendorong banyak penyintas lain untuk berbagi pengalaman serupa, di mana mereka mengonfirmasi adanya pola penyangkalan yang konsisten dari pihak pelaku.

Mengurai Psikologi Pelaku Grooming: Mekanisme Pertahanan Diri

Menanggapi pola perilaku yang seragam ini, spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa penyangkalan dan luapan emosi tersebut merupakan hasil dari mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Menurutnya, pola psikologis ini sangat konsisten dan berakar dari kurangnya empati serta kebutuhan ekstrem untuk mengontrol.

Dr. Lahargo menyebutkan bahwa penyangkalan ini berfungsi sebagai perisai mental. Dengan menolak fakta, pelaku berusaha keras agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa mereka telah melukai orang lain. Ini adalah strategi yang dipilih otak untuk menjaga stabilitas psikologis mereka sendiri, meskipun harus mengorbankan kebenaran dan penderitaan korban.

1. Penyangkalan untuk Menjaga Harga Diri

Tujuan utama dari mekanisme penyangkalan adalah untuk menghindari rasa bersalah yang merusak. Pelaku tidak ingin harga diri mereka runtuh total di mata masyarakat, dan yang lebih penting, di mata mereka sendiri. Mereka berupaya keras untuk mempertahankan citra diri sebagai “orang baik” atau setidaknya “bukan penjahat.”

Oleh karena itu, pelaku akan menciptakan narasi tandingan. Narasi ini memungkinkan mereka untuk tidak menghadapi konsekuensi moral dari perbuatannya. Penyangkalan ini menjadi benteng pertahanan terakhir agar mereka tidak perlu mengakui bahwa tindakan mereka telah menyebabkan trauma mendalam pada korbannya.

2. Konflik Batin: Cognitive Dissonance

Fenomena psikologis lain yang berperan adalah Cognitive Dissonance. Ini adalah kondisi ketidaknyamanan psikologis yang muncul ketika seseorang memiliki dua atau lebih keyakinan yang saling bertentangan. Dalam kasus pelaku grooming, terjadi konflik internal antara keyakinan “Saya orang yang bermoral” versus “Saya menyakiti seorang anak.”

Untuk meredakan konflik yang menyakitkan ini, otak pelaku akan memilih jalur yang paling mudah. Mereka akan menyangkal fakta, menyalahkan korban (victim blaming), atau bahkan menunjukkan kemarahan ekstrem saat dikonfrontasi. Ini adalah upaya untuk menyelaraskan kembali keyakinan mereka, meskipun harus dilakukan dengan memutarbalikkan realitas yang ada.

3. Kehilangan Kontrol dan Kekuasaan

Pada dasarnya, grooming adalah tentang dinamika kekuasaan. Pelaku membangun posisi dominan atas korban yang lebih muda dan rentan. Ketika tindakan mereka terungkap ke publik atau dibongkar oleh korban, kontrol dan kekuasaan yang mereka miliki terancam hilang.

Ancaman kehilangan posisi dominan inilah yang memicu reaksi panik, marah, hingga luapan emosi yang meledak-ledak. Reaksi agresif ini menunjukkan bahwa alasan pelaku grooming menyangkal sangat erat kaitannya dengan upaya mati-matian mempertahankan kendali. Mereka merasa kehilangan posisi superioritas yang selama ini menjadi sumber kepuasan mereka.

4. Fokus pada Diri Sendiri dan Minim Empati

Pelaku child grooming umumnya menunjukkan minimnya empati terhadap dampak yang dialami korban. Fokus utama mereka selalu tertuju pada diri sendiri, yaitu bagaimana mereka dapat menghindari hukuman atau bagaimana mereka dapat mempertahankan citra diri. Mereka tidak benar-benar memproses luka atau trauma yang diderita oleh anak.

Dr. Lahargo menegaskan, kemarahan yang ditunjukkan pelaku saat dikonfrontasi bukanlah tanda bahwa mereka benar atau bahwa mereka adalah korban fitnah. Sebaliknya, kemarahan tersebut adalah indikasi jelas bahwa mekanisme pertahanan psikologis mereka sedang runtuh total. Memahami pola ini penting agar korban dan masyarakat tidak terperangkap dalam manipulasi emosional pelaku.