Uptodai.com - Data terbaru menunjukkan bahwa penularan kusta terus terjadi di tengah masyarakat Indonesia, sebuah fakta yang sering terabaikan karena penyakit ini kerap dianggap sebagai penyakit masa lalu.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, pada tahun 2023 saja, hampir 15.000 kasus baru kusta ditemukan di Tanah Air. Angka prevalensi yang mencapai 0,63 kasus per 10.000 penduduk ini menempatkan Indonesia pada posisi ketiga dunia sebagai negara dengan jumlah penderita kusta terbanyak, hanya kalah dari India dan Brasil.

Mengapa Penularan Kusta Terus Terjadi?

Ironisnya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini justru sering dianggap remeh atau bahkan dilupakan. Akibat kuatnya stigma sosial yang melekat pada penyakit ini, banyak penderita memilih untuk menyembunyikan kondisi kesehatan mereka.

Keterlambatan diagnosis dan pengobatan inilah yang menjadi pintu utama bagi bakteri untuk terus menyebar di komunitas. Padahal, kusta adalah penyakit menular yang 100 persen dapat disembuhkan jika ditangani sebelum terjadi kecacatan permanen.

Prof. Dr. dr. Hardyanto, Sp.KK(K), seorang Guru Besar UGM, menegaskan bahwa penularan aktif ini terlihat jelas dari data regional. Ia menyebut beberapa provinsi seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua masih memiliki angka prevalensi yang sangat tinggi.

Meskipun wilayah Yogyakarta tercatat memiliki prevalensi terendah, Hardyanto mengakui bahwa ia masih menerima pasien baru setiap bulannya. Fakta ini membuktikan bahwa rantai penularan kusta tidak pernah benar-benar terputus di tingkat akar rumput masyarakat.

Stigma Sosial: Hambatan Utama Pengobatan Kusta

Menurut Hardyanto, tantangan terbesar dalam memberantas kusta saat ini bukan lagi murni masalah medis, melainkan hambatan sosial yang mendalam. Stigma yang menakutkan membuat penderita enggan mencari pertolongan medis.

Ia menekankan bahwa kusta termasuk penyakit menular dengan tingkat penularan yang relatif lemah dibandingkan penyakit lain, dan tersedia obat yang efektif untuk penyembuhan total. Sayangnya, ketakutan akan dikucilkan sering kali lebih besar daripada keinginan untuk sembuh.

Deteksi Dini Kunci Memutus Rantai Penularan Kusta

Hardyanto menjelaskan bahwa gejala kusta sering kali menyerupai kelainan kulit biasa, sehingga sulit dibedakan. Namun, ciri khas utama yang harus diwaspadai adalah munculnya bercak kulit yang mengalami mati rasa atau anestesi.

Masyarakat didorong untuk melakukan skrining awal secara mandiri dengan metode yang sangat sederhana. “Tes paling gampang pakai kapas yang dipilin,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UGM.

Kapas tersebut kemudian disentuhkan ke area bercak kulit dan juga area sekitarnya sebagai pembanding. Jika bercak tersebut tidak terasa sentuhan sama sekali, hal itu dapat menjadi indikasi kuat adanya infeksi kusta yang harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Deteksi dini adalah kunci. Hardyanto mendesak masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan medis setiap kali menemukan kelainan kulit yang mencurigakan, sebab penundaan dapat berujung pada kecacatan.

Perkuat Sistem Pengawasan di Lapangan

Selain edukasi dan deteksi dini, Guru Besar UGM ini juga meminta pemerintah untuk segera memperkuat kembali sistem pengawasan kusta di lapangan. Penguatan ini sangat krusial untuk memastikan penanganan kasus berjalan terstruktur dan merata.

Hardyanto menyarankan agar pemerintah menghidupkan kembali peran wakil supervisor (wasor) untuk pemeriksaan pasien secara aktif. Langkah ini akan membuat penanganan di daerah menjadi lebih terarah dan efektif dalam memutus rantai penularan kusta terus terjadi di Indonesia.