Uptodai.com - Kebocoran draf kesepakatan damai AS dan Iran yang beredar ke publik mengisyaratkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat segera mereda dalam hitungan hari. Memorandum penting ini dikabarkan bakal ditandatangani paling lambat pada Minggu, 14 Juni 2026. Para negosiator dari kedua belah pihak kini tengah berpacu dengan waktu untuk memfinalisasi draf dokumen di Jenewa, Swiss.

Rencana penandatanganan ini akan melibatkan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Qalibaf. Langkah diplomatik ini diambil setelah Presiden Donald Trump secara mengejutkan membatalkan rencana serangan militer baru ke Teheran. Trump mengklaim bahwa Washington telah mencapai penyelesaian besar untuk mengakhiri perselisihan panjang tersebut.

Tuntutan Iran yang Dikabarkan Disetujui

Meskipun Trump mengklaim kemenangan diplomatik, bocoran dokumen menunjukkan bahwa Teheran justru berhasil mengamankan sebagian besar tuntutan utamanya. Kesepakatan ini mencakup pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran serta pembebasan dana miliaran dolar yang selama ini dibekukan di luar negeri. Selain itu, Iran mendesak penghentian pertempuran di Lebanon, tempat Israel berhadapan dengan kelompok Hizbullah.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat dikabarkan hanya mendapatkan jaminan pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat diblokade oleh militer Iran. Selat strategis ini merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global, di mana sepertiga dari total pengiriman minyak mentah dunia lewat laut melintasi kawasan tersebut. Penutupan selat ini sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi global dan inflasi yang mencekik banyak negara barat.

Isu Nuklir yang Ditunda

Menariknya, isu sensitif mengenai program pengembangan nuklir Iran dilaporkan tidak dimasukkan ke dalam memorandum kali ini. Masalah pembatasan pengayaan uranium tersebut akan dibahas dalam meja perundingan terpisah di masa mendatang. Langkah penundaan ini dinilai sebagai kompromi taktis demi tercapainya gencatan senjata segera di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah pengamat menilai bahwa kesepakatan ini mencerminkan keterbatasan opsi militer yang dimiliki oleh pemerintahan Trump. Dengan kondisi domestik AS yang sedang fokus pada pemulihan ekonomi, perang terbuka dengan Iran dipandang terlalu berisiko dan berbiaya tinggi. Di sisi lain, keberhasilan diplomasi ini diharapkan mampu memberikan stabilitas jangka panjang bagi pasar keuangan dan keamanan global.