Uptodai.com - Tanaman penghambat sel kanker kini menjadi fokus utama dalam riset kesehatan berbasis bahan alam yang dikembangkan di Indonesia. Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional di bawah Organisasi Riset Kesehatan BRIN baru-baru ini merilis temuan menarik terkait potensi flora lokal. Mereka menguji kombinasi ekstrak kunyit, daun sirsak, dan bekatul beras hitam yang ternyata memiliki efektivitas tinggi.

Penelitian ini menyasar dua jenis keganasan yang paling umum, yakni sel kanker payudara T47D dan sel kanker kolon WiDr. Para peneliti melakukan uji secara in vitro untuk melihat sejauh mana bahan-bahan murah meriah ini bekerja. Hasilnya sangat menjanjikan karena kombinasi tersebut menunjukkan aktivitas sitotoksik yang kuat dalam melawan sel jahat.

Rizal Maarif Rukmana, peneliti utama dalam riset ini, menjelaskan bahwa tingginya angka kasus kanker global menjadi pendorong utama studi tersebut. Saat ini tercatat ada lebih dari 32,6 juta kasus kanker di seluruh dunia yang membutuhkan penanganan serius. Kondisi ini menuntut adanya pengembangan terapi alternatif yang lebih terjangkau namun tetap efektif bagi masyarakat luas.

Proses Riset dan Formulasi Bahan Alami Antikanker

Dalam prosesnya, tim peneliti menggunakan metode maserasi selama 3×24 jam untuk mengekstraksi kandungan aktif dari ketiga bahan tersebut. Mereka kemudian melakukan karakterisasi mendalam menggunakan teknologi kromatografi lapis tipis (KLT). Selain itu, tim juga memanfaatkan Liquid Chromatography High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) untuk akurasi data yang lebih tinggi.

Setelah mendapatkan ekstrak murni, para peneliti menentukan formula terbaik menggunakan metode simplex lattice design (SLD). Langkah ini bertujuan untuk menemukan rasio paling optimal antara kunyit, daun sirsak, dan bekatul beras hitam. Pengujian bahan alami antikanker ini juga melibatkan sel normal Vero untuk memastikan keamanan terhadap sel sehat dalam tubuh manusia.

Analisis laboratorium menunjukkan bahwa ketiga bahan tersebut kaya akan senyawa bioaktif yang sangat kompleks. Peneliti menemukan golongan senyawa fenolik, flavonoid, terpenoid, alkaloid, hingga steroid di dalam ekstrak tersebut. Seluruh senyawa ini bekerja secara sinergis untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker secara signifikan.

Efektivitas Spesifik pada Kanker Payudara dan Kolon

Hasil riset mengungkap bahwa setiap jenis kanker memerlukan rasio kombinasi bahan yang berbeda untuk mencapai hasil maksimal. Untuk kanker payudara, formula paling optimal terdiri dari 11,1% ekstrak kunyit, 86,4% daun sirsak, dan 2,5% bekatul beras hitam. Kombinasi ini menghasilkan nilai IC50 sebesar 24,91 ± 0,81 µg/mL yang menunjukkan kemampuan hambat sangat baik.

Sementara itu, riset herbal BRIN ini juga menemukan formula khusus untuk menangani kanker kolon atau usus besar. Formula terbaiknya justru didominasi oleh ekstrak kunyit sebesar 95,9%, diikuti daun sirsak 2,6%, dan bekatul beras hitam 1,5%. Nilai IC50 yang dihasilkan mencapai 32,18 ± 2,38 µg/mL, membuktikan bahwa kunyit memegang peranan vital dalam kasus ini.

Perbedaan komposisi ini menunjukkan bahwa setiap jenis sel kanker memiliki respons yang unik terhadap senyawa bioaktif tertentu. Efek sinergis antar bahan alam tersebut terbukti jauh lebih kuat dibandingkan jika hanya menggunakan satu jenis bahan saja. Hal ini memberikan harapan baru bagi pengembangan suplemen pendamping terapi kanker konvensional di masa depan.

Langkah Menuju Kemandirian Kesehatan Nasional

Meski menunjukkan hasil yang sangat positif, Rizal menekankan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal atau in vitro. Langkah selanjutnya memerlukan pengujian pada hewan coba (in vivo) untuk melihat interaksi obat di dalam sistem biologis yang kompleks. Setelah itu, uji klinis pada manusia tetap menjadi syarat mutlak sebelum produk ini bisa dipasarkan secara luas.

Pengembangan kandidat obat herbal terstandar ini merupakan bagian dari strategi besar BRIN dalam mengoptimalkan sumber daya hayati nusantara. Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk sektor medis modern. Pemanfaatan bahan lokal seperti kunyit dan sirsak diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku obat impor.

Melalui riset yang berkelanjutan, pemerintah berharap dapat memperkuat kemandirian nasional di sektor kesehatan dan farmasi. Keberadaan obat herbal yang teruji secara ilmiah akan memberikan opsi pengobatan yang lebih aman dan ekonomis bagi masyarakat. Inovasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa kekayaan alam Indonesia mampu bersaing di kancah sains global.