Banjir Terparah Afrika Selatan Renggut 100 Nyawa, Krisis Mengintai
Uptodai.com - Kawasan Afrika bagian selatan sedang menghadapi bencana hidrometeorologi yang sangat serius. Hingga akhir Januari 2026, lebih dari 100 orang dipastikan tewas di tiga negara akibat luapan air yang tak kunjung surut. Musim hujan yang ekstrem telah memicu banjir terparah Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Mozambik dalam satu dekade terakhir.
Otoritas meteorologi regional memperkirakan curah hujan tinggi masih akan berlanjut setidaknya hingga Februari mendatang. Kondisi ini membuat upaya evakuasi dan penyelamatan semakin sulit, sementara jutaan orang di wilayah terdampak menghadapi risiko krisis kemanusiaan yang akut.
Dampak Meluas: Banjir Terparah Afrika Selatan dan Kerusakan Infrastruktur
Dari ketiga negara tersebut, Mozambik tercatat sebagai negara yang paling parah merasakan dampak bencana. Pemerintah setempat melaporkan kerusakan infrastruktur yang meluas, termasuk jembatan dan jalan utama yang terputus total. Akibatnya, banyak komunitas terisolasi dan terputus dari layanan vital seperti rumah sakit dan pusat distribusi makanan.
Badan Nasional Pengelolaan Risiko dan Pengurangan Bencana Mozambik (INGC) menyebut terputusnya akses ini telah mengganggu distribusi bantuan dan pasokan kebutuhan vital ke wilayah terdampak. Tim penyelamat harus menggunakan perahu dan helikopter untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil, namun logistik menjadi tantangan utama.
Organisasi kemanusiaan yang beroperasi di lapangan menggambarkan situasi yang semakin mengkhawatirkan. Laporan mereka menunjukkan kekurangan drastis pada tempat tinggal yang layak, air bersih, sanitasi, pangan, dan layanan kesehatan di sejumlah provinsi. Provinsi yang paling menderita meliputi Gaza, Inhambane, Sofala, dan Zambézia.
Ancaman Nyata: Korban Tewas Akibat Banjir dan Risiko Penyakit
Situasi di lapangan kini meningkatkan risiko krisis kesehatan masyarakat yang lebih besar. UNICEF, badan PBB untuk anak-anak, telah mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi merebaknya penyakit yang ditularkan melalui air. Keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi membuka peluang besar bagi penyebaran kolera dan juga peningkatan ancaman malaria.
Guy Taylor, Juru Bicara UNICEF di Mozambik, menegaskan bahwa kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi populasi anak-anak. Menurutnya, bahkan sebelum bencana terjadi, sekitar empat dari sepuluh anak di Mozambik telah mengalami malnutrisi kronis.
“Ketika anak-anak yang mengalami malnutrisi terpapar penyakit yang ditularkan melalui air, bahkan satu episode diare saja bisa berakibat fatal,” ujar Taylor. Ia menekankan bahwa sistem kekebalan tubuh anak-anak ini sudah sangat lemah, membuat mereka rentan terhadap infeksi mematikan.
Tim penyelamat di Mozambik menilai banjir kali ini sebagai yang terburuk yang pernah melanda negara itu sejak tahun 2000. Pada tahun 2000, hujan lebat disertai siklon menewaskan hingga 700 orang dan menyebabkan kerugian ekonomi yang masif.
Mozambik Terendam: Gambaran dari Udara dan Proyeksi Cuaca
Taylor menggambarkan skala bencana tersebut setelah melihat langsung kondisi dari udara. Saat terbang melintasi Provinsi Gaza, ia menyaksikan wilayah tersebut tampak seperti lautan luas, menelan desa dan lahan pertanian.
Di Xai Xai, ibu kota Provinsi Gaza, Taylor bertemu dengan sejumlah ibu yang kehilangan segalanya. Mereka tidak mengetahui dari mana makanan anak-anak mereka selanjutnya akan diperoleh, setelah rumah, lahan pertanian, dan ternak mereka lenyap dihantam banjir.
Musim hujan di Mozambik biasanya berlangsung hingga April dan ditandai dengan cuaca panas dan lembap, serta hujan deras yang sering. Selain itu, wilayah ini memiliki risiko tinggi menghadapi badai tropis dan siklon.
Prakiraan cuaca terbaru menunjukkan hujan masih akan terus mengguyur Mozambik hingga setidaknya awal Februari, khususnya di wilayah utara negara tersebut. Jika curah hujan tidak mereda, jumlah korban tewas akibat banjir dan kerusakan infrastruktur diperkirakan akan terus bertambah, memperparah krisis kemanusiaan yang sudah terjadi.