AS Siap Intervensi Atasi Krisis Politik Bolivia Era Trump
Uptodai.com - Rencana intervensi politik AS di Bolivia semakin menguat setelah pemerintahan Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Presiden Rodrigo Paz. Washington menilai gelombang demonstrasi antipemerintah yang mengguncang negara Amerika Selatan tersebut sebagai upaya ilegal untuk menggulingkan kekuasaan yang sah. Sikap tegas ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, melalui pernyataan resminya di media sosial.
Hegseth menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak akan tinggal diam dan menolak keras segala bentuk kudeta terhadap pemerintahan Paz. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington di bawah kepemimpinan Trump akan terus mempertahankan pengaruh politik dan militernya di kawasan Amerika Latin. AS bahkan mengaitkan para demonstran dengan jaringan narko-teroris yang dianggap mengancam stabilitas regional.
Doktrin Keamanan Baru Trump di Amerika Latin
Sejak kembali menduduki Gedung Putih pada tahun 2025, Trump memang menerapkan kebijakan luar negeri yang jauh lebih agresif dan ekspansif. Departemen Luar Negeri AS bahkan secara terbuka menyatakan bahwa seluruh Belahan Barat merupakan wilayah prioritas keamanan mutlak bagi mereka. Melalui doktrin ini, AS tidak akan membiarkan adanya kekuatan politik yang berseberangan mengancam kepentingan nasionalnya di kawasan tersebut.
Sebagai langkah konkret, pemerintahan Trump telah meluncurkan program keamanan regional yang dinamakan Americas Counter Cartel Coalition atau A3C. Aliansi taktis ini berada di bawah payung program besar bernama Shield of the Americas yang menyasar kartel narkoba dan kelompok kriminal terorganisir. Menariknya, Presiden Bolivia Rodrigo Paz merupakan salah satu pemimpin sayap kanan yang aktif menghadiri pertemuan perdana koalisi ini pada Maret lalu.
Dampak Geopolitik dan Perebutan Sumber Daya
Krisis di Bolivia tidak hanya memicu ketegangan politik domestik, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global karena posisi strategis negara tersebut. Bolivia dikenal sebagai salah satu pemilik cadangan lithium terbesar di dunia, sebuah komoditas krusial untuk industri teknologi masa depan. Ketidakstabilan politik di negara ini tentu memicu kekhawatiran AS akan masuknya pengaruh rival geopolitik seperti China dan Rusia.
Dengan dalih memerangi narko-terorisme, AS kini memiliki legitimasi kuat untuk menempatkan pengaruh militernya lebih dalam di Bolivia. Namun, langkah intervensi ini justru dikhawatirkan oleh banyak pihak akan semakin memperkeruh situasi keamanan dalam negeri Bolivia. Publik kini menanti apakah tekanan diplomatik dan militer dari Washington mampu meredam gejolak demonstrasi yang kian memanas.