Jogja Financial Festival 2026: Arah Baru Ekonomi Nasional
Uptodai.com - Gelaran akbar Jogja Financial Festival 2026 resmi berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor keuangan tanah air. Acara yang berlangsung selama tiga hari pada 22-24 Mei 2026 ini menjadi panggung penting untuk merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Kehadiran para tokoh top sektor finansial mempertegas komitmen bersama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Pada hari pertama, sejumlah pejabat tinggi negara langsung memadati panggung utama untuk memberikan pandangan strategis mereka. Tokoh-tokoh seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi, hingga Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman tampak hadir memberikan paparan. Sinergi ini memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas moneter dan memperkuat literasi keuangan masyarakat.
Kolaborasi Perbankan BUMN di Jogja Financial Festival 2026
Memasuki hari kedua, diskusi semakin tajam dengan fokus pada strategi bisnis riil dan penguatan sektor perbankan nasional. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun membuka sesi dengan menekankan pentingnya regulasi yang adaptif bagi pelaku usaha. Langkah legislatif ini krusial untuk memastikan industri perbankan tetap memiliki ruang tumbuh yang sehat di tengah ketidakpastian global.
Sesi business talks kemudian menghadirkan para direktur utama bank pelat merah terkemuka yang mengupas tuntas masa depan perbankan nasional. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, bersama Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, membagikan strategi pembiayaan mereka. Keduanya sepakat bahwa digitalisasi dan inklusi keuangan menjadi kunci utama untuk menjangkau pelaku UMKM secara lebih luas.
Tidak ketinggalan, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Anggoro Eko Cahyo, memaparkan potensi besar perbankan syariah di tanah air. Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking BNI, Abu Santosa Sudradjat, bersama Direktur Keuangan Mandiri, Novita Widya Anggraini, membahas pengelolaan likuiditas global. Kolaborasi para bankir ini memberikan peta jalan yang jelas bagi penguatan ekosistem keuangan domestik.
Mengupas Peran Strategis Danantara untuk Ekonomi Nasional
Salah satu sesi yang paling dinanti oleh para pelaku industri adalah sesi one on one executive bersama Danantara. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengupas tuntas peran lembaga superholding baru ini dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian. Ia menjelaskan bagaimana Danantara akan memperkuat tata kelola investasi negara agar mampu bersaing lebih agresif di kancah internasional.
Langkah taktis ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global melalui pengelolaan aset negara yang lebih modern. Kehadiran Danantara diharapkan mampu menjadi motor penggerak baru yang menarik lebih banyak investasi asing berkualitas ke dalam negeri. Sesi interaktif ini pun berhasil memicu optimisme tinggi di kalangan investor dan pelaku usaha yang hadir.
Infrastruktur dan Pasar Modal Menghadapi Tantangan Ekonomi Nasional 2026
Pada sesi berikutnya, fokus diskusi bergeser pada penguatan infrastruktur fisik dan pasar modal sebagai pilar penopang ekonomi. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, memaparkan strategi pengelolaan utang negara yang kredibel dan akuntabel. Pemerintah terus berupaya menjaga rasio utang tetap aman demi menjaga kepercayaan pasar keuangan internasional.
PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, juga turut membagikan optimisme mengenai kinerja pasar modal Indonesia yang terus bertumbuh. Di sisi lain, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), Reynaldi Hermansjah, menegaskan pentingnya pembiayaan kreatif untuk proyek-proyek strategis nasional. Melalui sinergi lintas sektor ini, Indonesia optimistis mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi nasional 2026 dengan fondasi yang jauh lebih kokoh.