Uptodai.com - Konflik Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru yang penuh risiko setelah sejumlah sekutu utama Washington mulai menarik dukungan militer mereka secara terang-terangan. Langkah Presiden Donald Trump yang memilih jalan konfrontasi fisik terhadap Teheran justru memicu keretakan dalam hubungan transatlantik yang selama ini menjadi fondasi kekuatan militer AS. Berbeda dengan era sebelumnya, kali ini Amerika Serikat tampak berjuang sendirian di tengah eskalasi yang kian membara di Timur Tengah.

Sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat selalu berhasil menggalang kekuatan besar saat memutuskan untuk terjun ke medan perang di kawasan tersebut. Pada Perang Teluk 1991, Presiden George H.W. Bush berhasil membangun koalisi internasional yang sangat luas untuk memukul mundur Irak. Begitu pula pada tahun 2003, meski dibanjiri kritik, George W. Bush tetap mampu mengamankan dukungan dari beberapa sekutu setianya untuk menggulingkan rezim di Baghdad.

Namun, situasi yang dihadapi Donald Trump saat ini sangat kontras dengan pencapaian para pendahulunya tersebut. Meskipun Trump mengklaim aksi militernya sebagai langkah perlindungan nasional, para sekutu tradisional AS justru menunjukkan sikap yang cenderung dingin dan “ogah-ogahan”. Ketidaksediaan negara-negara Barat untuk terlibat lebih jauh mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Washington di panggung global.

Aksi Militer yang Mengabaikan Hukum Internasional

Keputusan Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran dianggap telah menabrak berbagai norma dan aturan hukum internasional yang berlaku. Salah satu pemicu utama kemarahan global adalah serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dianggap sebagai provokasi fatal. Langkah ini tidak hanya memicu kemarahan Teheran, tetapi juga membuat negara-negara lain khawatir akan terjadinya perang terbuka yang tidak terkendali.

Kristina Kausch, seorang analis senior dari German Marshall Fund, menilai bahwa manuver Trump telah memperkuat persepsi negatif terhadap kebijakan luar negeri Amerika. Menurutnya, Washington kini mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak lagi merasa perlu mencari legitimasi internasional sebelum melancarkan aksi militer. Hal ini menciptakan preseden buruk bagi stabilitas keamanan dunia yang selama ini dijaga melalui kesepakatan multilateral.

Selain itu, kepercayaan Eropa terhadap Trump sudah berada di titik nadir akibat berbagai kebijakan kontroversial di masa lalu. Salah satu yang paling diingat adalah ancaman Trump untuk mengambil alih Greenland, sebuah wilayah kedaulatan Denmark yang merupakan anggota NATO. Rentetan kejadian ini membuat para pemimpin Eropa semakin ragu untuk menaruh nasib keamanan mereka di bawah komando Gedung Putih.

Kegagalan Diplomasi dan Doktrin America First

Sejak kembali menduduki kursi kepresidenan, Trump terus menggaungkan doktrin “America First” yang sangat menekankan pada kepentingan nasional jangka pendek. Kebijakan ini sering kali berujung pada penarikan diri Amerika Serikat dari berbagai lembaga dan perjanjian internasional yang dianggap membebani anggaran negara. Dampaknya, Amerika Serikat kehilangan pengaruh diplomatik yang biasanya digunakan untuk merangkul dukungan sekutu dalam situasi krisis.

Nadia Schadlow, mantan pejabat keamanan nasional AS, memberikan perspektif bahwa konflik Amerika Serikat dan Iran menunjukkan keterbatasan peran lembaga seperti PBB. Ia berpendapat bahwa negara-negara besar cenderung bertindak secara unilateral ketika merasa keamanan nasionalnya terancam, tanpa memedulikan mekanisme multilateral. Namun, tindakan sepihak ini justru membuat posisi AS semakin terisolasi secara geopolitik di mata dunia internasional.

Inggris dan Spanyol Mulai Membatasi Dukungan

Bukti nyata dari mulai ditinggalkannya AS oleh sekutunya terlihat dari sikap tegas pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer. London secara resmi membatasi penggunaan dua pangkalan udara militer mereka oleh pesawat tempur Amerika Serikat untuk operasi di Timur Tengah. Inggris menegaskan bahwa fasilitas tersebut hanya boleh digunakan untuk tujuan pertahanan, bukan untuk melancarkan serangan ofensif ke wilayah Iran.

Langkah serupa juga diambil oleh Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang menolak memberikan izin bagi pasukan AS untuk menggunakan pangkalan militer di negaranya. Sanchez secara terbuka menyatakan bahwa ketegangan yang terjadi saat ini bukanlah perang yang harus melibatkan rakyat Spanyol. Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi strategi logistik militer Amerika Serikat yang sangat bergantung pada pangkalan-pangkalan di Eropa.

Sikap keras kepala para sekutu ini dikabarkan membuat Donald Trump sangat geram, terutama terhadap kepemimpinan Keir Starmer di Inggris. Tanpa dukungan logistik dan legitimasi dari sekutu dekat, ambisi Trump untuk melumpuhkan kekuatan Iran diprediksi akan menghadapi hambatan besar. Jika isolasi ini terus berlanjut, posisi tawar Amerika Serikat di Timur Tengah terancam melemah, yang pada akhirnya justru memberikan keuntungan strategis bagi para pesaing globalnya.