Kompleks Penipuan Online Kamboja Ancam Sektor Pariwisata
Uptodai.com - Sektor pariwisata, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Kamboja, kini menghadapi ancaman serius. Kehadiran Kompleks Penipuan Online Kamboja telah menciptakan reputasi buruk yang memukul mundur wisatawan, terutama dari kawasan Asia.
Data terbaru dari Kementerian Pariwisata Kamboja menunjukkan bahwa kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menyusut. Pada tahun 2024, pariwisata hanya menyumbang 9,4% PDB, angka ini turun signifikan dibandingkan capaian tahun 2019 yang masih berada di level 12,1%.
Penurunan tersebut mencerminkan pergeseran drastis dalam dinamika ekonomi negara tersebut. Industri yang seharusnya menjadi magnet devisa kini justru terbebani oleh isu keamanan siber yang masif.
Kamboja kini berada di bawah pengawasan ketat komunitas internasional menyusul laporan yang menyebutkan negara itu telah menjadi pusat operasi kejahatan siber global. Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) bahkan melaporkan pada Juni 2025 bahwa keuntungan dari aktivitas ilegal ini diduga memiliki kaitan erat dengan elite politik di negara tersebut.
Reputasi Buruk dan Konflik Perbatasan Menghantam Turis
Selain masalah kriminalitas siber yang kian memburuk, Kamboja juga sempat terlibat perselisihan sengit dengan negara tetangga, Thailand. Sengketa perbatasan lama kembali meletus menjadi konflik bersenjata sepanjang tahun 2025, menambah daftar panjang risiko keamanan bagi para pelancong.
Meskipun kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada pertengahan tahun, pertempuran kembali pecah pada awal Desember sebelum akhirnya mencapai kesepakatan damai kembali pada 27 Desember 2025. Situasi geopolitik yang tidak stabil ini turut memperparah citra Kamboja sebagai destinasi wisata yang aman.
Kementerian Pariwisata mencatat bahwa kunjungan wisatawan dari wilayah Asia-Pasifik mengalami penurunan paling tajam. Angka kedatangan merosot hingga 20% secara tahunan pada 2025, menunjukkan betapa isu pusat penipuan telah menumbuhkan keraguan besar di benak para pelancong.
Stephen Higgins, Managing Partner di Mekong Strategic Capital, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Menurut Higgins, isu kejahatan siber jauh lebih bergema dan dikenal luas di Asia Timur.
Sebaliknya, masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa cenderung lebih sedikit mendengar tentang isu scam center tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa penurunan turis paling parah justru terjadi di kawasan regional terdekat.
Dampak Regional dari Kompleks Penipuan Online Kamboja
Di kawasan Asia Tenggara, penurunan terbesar berasal dari Thailand, yang kedatangan turisnya jatuh lebih dari 50%. Penurunan drastis ini merupakan gabungan efek dari ketegangan perbatasan dan kekhawatiran keamanan.
Sementara itu, kunjungan turis dari Korea Selatan juga anjlok sebesar 20,6%. Seoul memberlakukan larangan perjalanan ke beberapa wilayah Kamboja pada Oktober 2025, menyusul tragedi kematian seorang mahasiswa Korea Selatan yang diduga disiksa di sebuah kompleks penipuan.
Di sisi lain, wisatawan asal China sempat menunjukkan tren positif menjelang akhir tahun, dengan kenaikan 41,5% pada Desember. Namun, angka tersebut masih kurang dari separuh jumlah kedatangan sebelum pandemi melanda.
Pemerintah China sendiri telah memberikan tekanan diplomatik kepada Kamboja agar menindak tegas pusat penipuan. Beijing khawatir reputasi buruk ini berisiko merusak hubungan bilateral kedua negara yang selama ini terjalin erat. Upaya pemulihan sektor pariwisata Kamboja kini sangat bergantung pada keberhasilan penegakan hukum dan pembersihan citra dari bayang-bayang kejahatan siber.