Uptodai.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menggenjot upaya pemulihan infrastruktur pascabencana di wilayah Sumatra. Fokus utama saat ini adalah memastikan kelancaran kegiatan belajar mengajar. Otoritas menargetkan bahwa seluruh Sekolah di Lokasi Banjir Sumatra yang terdampak parah dapat kembali beroperasi penuh mulai pertengahan Januari 2026.

Sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda pada November 2025, tim gabungan yang terdiri dari BNPB, TNI, dan Polri telah bekerja keras membersihkan fasilitas publik. Wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menjadi prioritas utama dalam percepatan rehabilitasi ini. Langkah ini diambil untuk memastikan aktivitas masyarakat dapat segera normal kembali.

Target Pemulihan Fasilitas Pendidikan

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa fasilitas pendidikan menjadi kunci pemulihan sosial. Menurutnya, fasilitas pendidikan, termasuk sekolah umum dan madrasah, harus siap menyambut awal pembelajaran semester genap.

Muhari menyatakan bahwa minggu pertama bulan Januari 2026, sejumlah fasilitas pendidikan yang sebelumnya terendam lumpur dan puing, sudah bisa difungsikan kembali. Proses pembersihan intensif dilakukan agar siswa dapat memulai tahun ajaran baru tanpa hambatan berarti.

Meskipun demikian, BNPB menyadari bahwa tidak semua sekolah akan pulih 100 persen dalam waktu singkat. Kerusakan struktural yang parah membutuhkan waktu perbaikan yang lebih lama. Oleh karena itu, strategi mitigasi telah disiapkan secara matang untuk menanggulangi kondisi tersebut.

Langkah Mitigasi dan Tenda Darurat

Demi menjamin kelangsungan pendidikan, BNPB Targetkan Sekolah Beroperasi dengan bantuan fasilitas sementara. Otoritas kebencanaan telah menyiapkan tenda-tenda darurat di titik-titik yang membutuhkan. Tenda ini akan berfungsi sebagai ruang kelas sementara bagi sekolah yang belum selesai direhabilitasi total.

“Kita juga menyiapkan beberapa tenda darurat sehingga untuk sekolah-sekolah yang memerlukan perbaikan, proses belajar mengajar akan kita lakukan di tenda-tenda sementara,” ujar Muhari dalam keterangan pers, Minggu (28/12/2025).

Pendirian tenda darurat ini merupakan bagian dari upaya Pemulihan Infrastruktur Pendidikan yang cepat dan responsif. Hal ini memastikan bahwa hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tidak terhenti, meskipun berada di tengah situasi pascabencana.

Data Korban dan Upaya Pencarian

Selain fokus pada pemulihan infrastruktur, tim gabungan masih terus melakukan pencarian korban hilang. Bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap populasi lokal.

Berdasarkan laporan terakhir BNPB hingga Sabtu (27/12/2025), jumlah korban jiwa akibat bencana ini meningkat drastis mencapai 1.138 orang. Angka ini mencerminkan betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.

Sementara itu, sebanyak 163 orang masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan. Jumlah warga terdampak yang terpaksa mengungsi mencapai angka 449.846 jiwa. Mereka kini ditampung di berbagai posko pengungsian yang dikelola oleh pemerintah daerah dan bantuan kemanusiaan.

Proses pencarian korban hilang terus diintensifkan, meskipun tantangan di lapangan semakin berat. Muhari mengakui bahwa peluang ditemukannya korban di kawasan permukiman yang sudah tertimbun material longsor dan lumpur dinilai semakin kecil. Namun, tim SAR gabungan berjanji tidak akan menghentikan upaya pencarian sebelum batas waktu yang ditentukan.