Uptodai.com - Serangan kapal Selat Hormuz semakin intensif dan memicu ketegangan global setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Blokade yang dilakukan pihak Teheran di perairan strategis tersebut menyebabkan lalu lintas pengiriman komoditas internasional hampir lumpuh total.

Dalam kurun waktu sepekan terakhir, sedikitnya sepuluh kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal maupun tindakan sabotase. Kondisi ini memaksa sejumlah lembaga keamanan maritim internasional mengeluarkan peringatan darurat bagi seluruh armada yang melintasi kawasan tersebut.

Eskalasi Konflik di Jalur Minyak Dunia

Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mencatat aktivitas mencurigakan yang meningkat drastis di sekitar jalur sempit itu. Mereka telah merilis sepuluh peringatan resmi terkait serangan fisik yang menargetkan kapal-kapal komersial dalam waktu singkat.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut mengonfirmasi bahwa situasi di lapangan jauh lebih buruk dari perkiraan awal. Data mereka menunjukkan bahwa sembilan serangan terjadi hanya dalam interval tujuh hari, menciptakan kepanikan di pasar energi dunia.

Blokade ini secara langsung mengancam stabilitas pasokan minyak global mengingat posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi distribusi energi. Para analis memprediksi harga minyak mentah akan melonjak tajam jika aksi militer di perairan ini tidak segera mereda.

Rincian Serangan dan Korban Jiwa

Insiden berdarah mulai memuncak pada awal Maret 2026 dengan jatuhnya korban jiwa di beberapa kapal berbeda. Kapal Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative masing-masing melaporkan satu kru tewas akibat hantaman proyektil pada 2 Maret.

Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga menjadi sasaran serangan meskipun tidak ada laporan korban meninggal dari dek kapal tersebut. Rentetan serangan terus berlanjut tanpa henti hingga menghantam kapal Libra Trader dan Gold Oak pada hari berikutnya.

Memasuki periode 4 hingga 5 Maret, kapal Safeen Prestige dan Sonangol Namibe juga tidak luput dari serangan rudal Iran. Situasi mencapai titik nadir ketika kapal Mussafah 2 dihantam keras pada 6 Maret yang mengakibatkan empat orang tewas seketika.

Nasib Awak Kapal Asal Indonesia

Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap tragedi yang menimpa kapal Mussafah 2 karena melibatkan warga negara Indonesia (WNI). Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi bahwa kapal tersebut telah tenggelam di perairan yang sangat berbahaya.

Berdasarkan data terbaru, tiga orang ABK asal Indonesia hingga kini masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian intensif. Sementara itu, satu WNI dilaporkan berhasil selamat namun harus menjalani perawatan medis akibat luka-luka yang dideritanya.

Empat awak kapal lainnya dengan kewarganegaraan berbeda dinyatakan selamat setelah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Pemerintah terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan keselamatan para pekerja migran di wilayah konflik tersebut.

Ancaman Terhadap Misi Penyelamatan Maritim

Perusahaan keamanan maritim Vanguard mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai pola serangan yang dilakukan di Selat Hormuz. Kapal Mussafah 2 ternyata diserang saat mereka tengah berupaya memberikan bantuan kemanusiaan kepada kapal Safeen Prestige.

Dua rudal dilaporkan menghantam Mussafah 2 tepat saat mereka mendekati lokasi kapal kontainer yang sudah terbakar sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pihak penyerang tidak lagi mempedulikan protokol keselamatan maritim internasional bagi kapal penolong.

Fenomena “serangan ganda” ini memicu ketakutan luar biasa bagi tim penyelamat yang ingin mengevakuasi korban di tengah laut. Risiko menjadi target berikutnya membuat banyak kapal ragu untuk mendekat ke area konflik tanpa pengawalan militer yang ketat.