Uptodai.com - Fenomena sinkhole di Aceh Tengah kini menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan setelah area rekahan tanah meluas secara signifikan. Pemandangan dari udara memperlihatkan lubang raksasa yang membelah kawasan pertanian di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol. Kejadian ini memicu kekhawatiran mendalam bagi masyarakat setempat yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Rekaman drone terbaru pada pertengahan Februari 2026 menampilkan tebing-tebing curam yang terbelah di tengah ladang warga. Retakan panjang tampak memotong jalur-jalur tanam, menciptakan pemandangan yang menyerupai jurang terbuka yang sangat dalam. Area yang dulunya hijau dan produktif kini berubah menjadi hamparan tanah yang runtuh ke dalam perut bumi secara perlahan.

Penyebab Lubang Amblas di Aceh Kian Meluas

Luas lubang runtuhan ini diperkirakan telah mencapai sekitar tiga hektar dan diprediksi masih bisa terus bertambah. Badan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh melaporkan adanya pergerakan tanah yang terjadi secara terus-menerus di lokasi tersebut. Kondisi ini membuat tepian runtuhan menjadi sangat rapuh dan sangat rentan terhadap risiko longsor susulan yang lebih besar.

Penilaian geologis mengungkap bahwa struktur bawah permukaan di wilayah Ketol terdiri dari lapisan batuan tufa dan pasir yang cukup tebal. Karakteristik batuan jenis ini sangat mudah menyerap air tanah, sehingga membuat lereng di atasnya kehilangan kestabilan secara alami. Akibatnya, tanah tidak mampu lagi menopang beban di permukaan dan akhirnya runtuh membentuk lubang amblas di Aceh tersebut.

Struktur tanah yang terbuka di dinding tebing memperlihatkan dengan jelas betapa rapuhnya kondisi lapisan bumi di kawasan tersebut. Para ahli geologi menyebutkan bahwa rongga-rongga bawah tanah terbentuk akibat pengikisan material oleh aliran air yang tidak terlihat dari permukaan. Hal inilah yang menyebabkan permukaan tanah tiba-tiba amblas tanpa ada tanda-tanda getaran yang berarti sebelumnya.

Dampak Kerusakan Lahan Pertanian dan Langkah Pemerintah

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menjelaskan bahwa perluasan area amblas ini meningkat drastis pasca banjir besar yang melanda pada akhir 2025. Aliran air yang sangat deras selama musim penghujan mempercepat proses pengikisan lapisan tanah lunak di bawah permukaan ladang. Hal ini menjadi pemicu utama mengapa fenomena sinkhole di Aceh Tengah ini berkembang begitu cepat dalam waktu singkat.

Pemerintah daerah telah bergerak cepat dengan mendata seluruh dampak kerusakan lahan pertanian yang dialami oleh para petani terdampak di Desa Pondok Balik. Data kerugian tersebut kini telah diajukan kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan penanganan darurat serta bantuan kompensasi yang layak. Sektor agraris menjadi yang paling terpukul karena banyak warga kehilangan aset utama mereka berupa lahan perkebunan produktif.

Selain kerugian materiil, masyarakat kini dihantui rasa waswas akan keselamatan tempat tinggal mereka yang berada tidak jauh dari lokasi sinkhole. Pemerintah kabupaten terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memantau pergerakan tanah setiap harinya. Langkah mitigasi menjadi prioritas utama guna mencegah adanya korban jiwa akibat runtuhan tanah yang tidak terduga.

Ancaman Jangka Panjang bagi Warga Sekitar

Para ahli geologi memperingatkan bahwa potensi perluasan lubang masih sangat tinggi jika sistem drainase di kawasan tersebut tidak segera diperbaiki. Aliran air di kawasan pertanian harus segera dikendalikan agar tidak terus meresap dan memperlemah struktur tanah yang tersisa. Tanpa intervensi teknis yang tepat, pemukiman di sekitar ladang mungkin akan ikut terancam dalam beberapa bulan ke depan.

Saat ini, warga setempat diimbau untuk tidak mendekati bibir jurang karena kondisi tanah yang masih sangat labil dan mudah bergeser. Garis pembatas telah dipasang di beberapa titik krusial guna mencegah warga melakukan aktivitas di dekat area berbahaya tersebut. Pemantauan berkala melalui citra satelit dan drone terus dilakukan oleh pihak terkait untuk mengantisipasi pergerakan tanah yang lebih masif.