Uptodai.com - Upaya evakuasi tanker Pertamina di Selat Hormuz hingga kini masih menemui jalan buntu di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa proses mengeluarkan kapal kargo minyak tersebut bukan perkara mudah karena melibatkan situasi keamanan yang sangat berisiko. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan berbagai otoritas terkait.

Kondisi ini memicu kekhawatiran publik, terutama saat mendengar kabar bahwa kapal tanker milik negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia mulai berhasil melintasi jalur tersebut. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan sedang mengupayakan segala jalur diplomasi yang memungkinkan. “Kami terus membangun komunikasi agar kapal kita bisa segera keluar dari Selat Hormuz dengan aman,” ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta.

Ketergantungan Impor Minyak dari Timur Tengah

Selat Hormuz memegang peranan vital bagi stabilitas energi di dalam negeri karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah. Sekitar 20 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah yang harus melewati titik sempit tersebut. Jika jalur ini terhambat dalam waktu lama, maka risiko gangguan pasokan bahan bakar di tanah air bisa meningkat secara drastis.

Guna mengantisipasi dampak buruk bagi ketahanan energi nasional, pemerintah mulai bergerak cepat mencari alternatif pemasok baru. Bahlil mengklaim bahwa Indonesia telah menemukan sumber minyak mentah dari negara lain di luar kawasan Timur Tengah. Meski begitu, ia masih merahasiakan identitas negara pemasok baru tersebut demi menjaga kerahasiaan strategi perdagangan energi negara.

Langkah diversifikasi ini menjadi sangat krusial agar Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu kawasan yang rawan konflik. Pemerintah berharap sumber baru ini bisa segera mengisi cadangan minyak nasional dalam waktu dekat. “Yang jelas, insya Allah semua pasokan aman dan sumber barunya sudah ada,” tambah Bahlil dengan nada optimis.

Status Empat Kapal Milik Pertamina

Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat ada empat kapal milik PT Pertamina (Persero) yang sempat terjebak di perairan panas tersebut sejak konflik pecah pada Februari lalu. Kabar baiknya, dua kapal tanker yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon sudah berhasil keluar dari zona bahaya. Namun, kedua kapal ini ternyata tidak membawa minyak untuk kebutuhan konsumsi di dalam negeri.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa kedua kapal tersebut sedang melayani pasar internasional atau pihak ketiga. PIS Rinjani diketahui sedang melakukan pelayaran menuju Kenya, sementara PIS Paragon mengarah ke India. Hal ini menunjukkan bahwa operasional bisnis internasional Pertamina tetap berjalan meski harus menghadapi tantangan keamanan yang luar biasa di perairan internasional.

Namun, tantangan besar masih membayangi dua kapal lainnya yang hingga kini masih tertahan di dalam kawasan teluk. Kapal tersebut adalah VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang memiliki peran berbeda dalam rantai pasok. VLCC Pertamina Pride menjadi perhatian utama karena kapal raksasa ini mengangkut muatan minyak yang diperuntukkan bagi pasar domestik Indonesia.

Koordinasi Lintas Sektoral Demi Keamanan Kargo

Berbeda dengan Pertamina Pride, kapal Gamsunoro bertugas melayani pihak ketiga dan bukan untuk memasok kebutuhan minyak dalam negeri. Pertamina terus melakukan koordinasi ketat dengan Kementerian Luar Luar Negeri (Kemenlu) untuk memantau pergerakan kapal-kapal tersebut. Keamanan kru kapal dan kargo menjadi prioritas tertinggi bagi perusahaan plat merah tersebut di tengah situasi yang tidak menentu.

Simon menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong agar situasi di Timur Tengah segera membaik agar aktivitas logistik kembali normal. Kelancaran jalur Selat Hormuz sangat menentukan efisiensi biaya angkut minyak mentah dunia yang saat ini sedang fluktuatif. Pertamina juga menyiapkan skema mitigasi jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat yang mengharuskan pengalihan rute pelayaran lebih jauh.

Pemerintah berharap masyarakat tetap tenang karena stok BBM nasional masih dalam batas aman terkendali. Langkah-langkah strategis yang diambil Kementerian ESDM dan Pertamina diharapkan mampu membentengi Indonesia dari guncangan krisis energi global. Fokus utama saat ini adalah memastikan tanker Pertamina di Selat Hormuz yang membawa pasokan domestik bisa segera berlayar menuju pelabuhan di Indonesia.