Uptodai.com - Vietnam, negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara, baru saja mematok Target Pertumbuhan Ekonomi Vietnam yang sangat ambisius. Negara komunis tersebut menargetkan laju pertumbuhan fantastis sebesar 10% per tahun hingga 2030.

Angka ini jelas merupakan lonjakan signifikan yang menandakan keseriusan Hanoi dalam memperkuat posisinya di rantai pasok global. Target yang tercantum dalam dokumen partai ini menjadi landasan utama bagi Vietnam untuk mempercepat transisi menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Ambisi luar biasa ini diumumkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai Komunis, To Lam, di hadapan hampir 1.600 delegasi partai. Lam menegaskan bahwa pencapaian target tersebut harus didukung oleh reformasi administrasi dan penegakan hukum yang tegas.

Reformasi Radikal untuk Kejar Angka 10%

Untuk mencapai laju ekonomi dua digit, Lam yang kini berusia 68 tahun menyatakan bahwa Vietnam perlu memangkas birokrasi yang berbelit-belit. Selain itu, ia mendesak adanya reformasi administrasi besar-besaran untuk mengatasi masalah kronis seperti “pemborosan dan negativitas” di lingkungan pemerintahan.

Sekretaris Jenderal Partai Komunis tersebut juga menekankan bahwa segala bentuk pelanggaran hukum harus ditindak tegas. Media pemerintah, Viet Nam News, melaporkan bahwa dokumen partai menyerukan penegakan disiplin hukum yang ketat untuk mengatasi masalah di mana hukum sering kali diabaikan.

Selain fokus pada birokrasi, Lam juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur. Tujuannya adalah memastikan konektivitas regional, antarwilayah, dan global yang kuat, sambil beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Memangkas Birokrasi dan Menarik Investasi Global

Sejak menjabat 17 bulan lalu, To Lam dikenal sebagai pemimpin yang bergerak cepat dan radikal dalam menjalankan programnya. Pria yang berlatar belakang keamanan ini telah melakukan perampingan pemerintahan secara drastis.

Lam tercatat telah menghapus delapan kementerian atau lembaga dan memangkas hampir 150.000 pekerjaan di sektor publik. Pemangkasan birokrasi ini menjadi kunci utama untuk memperluas perdagangan global, sekaligus melindungi kepentingan nasional dan kemandirian negara.

Di sisi lain, Lam terus mendorong proyek-proyek ambisius yang membutuhkan pendanaan dan manajemen besar. Beberapa proyek yang menjadi prioritas termasuk pembangunan jaringan kereta api nasional dan proyek ketenagalistrikan skala besar.

Konsolidasi Kekuatan dan Mandat Terkuat Pasca-Perang

Kongres partai yang berlangsung selama sepekan ini tidak hanya fokus pada arah ekonomi semata. Agenda utamanya juga akan memilih Sekretaris Jenderal Partai, posisi yang secara de facto paling berkuasa di Vietnam.

Banyak pengamat memprediksi bahwa To Lam akan mempertahankan jabatan tersebut sekaligus mengincar posisi Presiden negara. Jika skenario ini terwujud, Lam akan memegang peran ganda yang sangat mirip dengan Presiden China, Xi Jinping.

Nguyen Khac Giang dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura menyebutkan bahwa jika Lam memegang kedua posisi puncak tersebut, ia akan memiliki mandat terkuat dalam kepemimpinan Vietnam sejak berakhirnya Perang Vietnam. Mandat ini memberinya kekuatan penuh untuk mendorong reformasi radikal dan target ekonomi 10%.

Tantangan Global di Tengah Ambisi Domestik

To Lam sendiri mengakui bahwa ambisi domestik ini datang di tengah tantangan global yang tidak ringan. Vietnam, sebagai negara yang sangat terbuka, harus menghadapi risiko bencana alam, isu keamanan, hingga persaingan strategis antarnegara besar.

Persaingan geopolitik yang semakin memanas ini sering kali mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, memberikan tekanan pada perekonomian domestik. Namun, Lam menegaskan kembali komitmennya untuk terus memerangi korupsi tanpa pandang bulu.

Ia juga menetapkan sektor swasta sebagai pilar penting ekonomi. Penegasan ini memperjelas bahwa Vietnam siap melakukan apa pun demi mencapai status negara berpenghasilan tinggi dalam beberapa tahun mendatang, menjadikan negara ini pesaing serius bagi negara-negara di Asia Tenggara lainnya.