Waspada! Ransomware Berbasis AI Mengancam di 2025, Ini Temuan ESET Threat Report
Uptodai.com - ESET Research baru saja merilis ESET Threat Report H2 2025, menyoroti peningkatan signifikan kasus kejahatan siber. Laporan ini menunjukkan tren alarm serius, mulai dari penipuan online, kebocoran data, hingga ransomware yang kini menargetkan berbagai sektor, termasuk individu dan bisnis kecil.
Salah satu temuan utama laporan ini adalah munculnya PromptLock, ransomware berbasis AI pertama yang mampu membuat skrip berbahaya secara otomatis. Kehadiran malware ini menandai babak baru kejahatan siber, di mana AI tidak hanya mempermudah serangan, tetapi juga mempercepat dan mengotomatisasi prosesnya.
Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group, menyatakan bahwa penggunaan AI untuk konten phishing sudah umum, namun ransomware berbasis AI menimbulkan risiko yang lebih serius. Hal ini menjadi peringatan penting bagi Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan siber modern.
Selain ransomware, modus penipuan investasi dan scam online terus berevolusi. Contohnya, Nomani scam meningkat hingga 62 persen dibanding tahun sebelumnya. Pelaku memanfaatkan deepfake, situs phishing AI, dan iklan digital sementara untuk menghindari deteksi, membuat korban semakin sulit mengenali ancaman.
Ransomware kini tidak hanya mengincar perusahaan besar. UKM, institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan pengguna individu juga menjadi target, terutama yang belum menerapkan sistem keamanan berlapis. Tren ini menegaskan pentingnya strategi keamanan digital menyeluruh bagi semua pihak.
Ancaman terhadap perangkat mobile juga meningkat, khususnya serangan berbasis Near Field Communication (NFC) yang melonjak 87 persen. Malware baru seperti RatOn memadukan trojan remote access dengan serangan NFC, disebarkan melalui aplikasi palsu dan iklan yang meniru layanan populer, termasuk mobile banking.
Infostealer lama seperti Lumma Stealer mulai menurun, namun digantikan oleh malware baru seperti CloudEyE (GuLoader), yang meningkat hampir 30 kali lipat. Malware ini digunakan sebagai pintu masuk untuk ransomware dan pencurian data, menunjukkan dinamika ancaman yang terus berubah.
Temuan ESET menegaskan bahwa ancaman siber kini lebih cepat, cerdas, dan sulit dideteksi. Di tengah transformasi digital dan adopsi AI di Indonesia, risiko ini menuntut perhatian serius. Baik individu maupun perusahaan harus meningkatkan kesadaran dan perlindungan digital untuk menghadapi ransomware berbasis AI.