Uptodai.com - Di tengah sengitnya persaingan harga yang melanda pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia, pabrikan asal China, BYD, mengambil sikap tegas. Presiden Direktur BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, menegaskan bahwa BYD tidak main harga dan tidak akan terlibat dalam perang diskon yang fluktuatif.

Pernyataan ini muncul menyusul fenomena banting harga yang kerap dilakukan beberapa pabrikan asal China lain di Tanah Air. Fluktuasi harga yang ekstrem dinilai Eagle Zhao tidak mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap konsumen.

Strategi Harga BYD: Fokus pada Nilai dan Teknologi

Eagle Zhao menjelaskan, BYD menolak praktik penetapan harga yang tidak stabil. Ia mencontohkan, perusahaan tidak akan menjual unit dengan harga Rp100 hari ini, lalu besok menjatuhkannya menjadi Rp50, dan kemudian menaikkannya lagi menjadi Rp200 di kemudian hari.

“Kami tidak bermain permainan harga seperti itu. BYD tidak pernah masuk ke dalam permainan harga yang tidak konsisten,” ujar Eagle Zhao saat ditemui di Zhengzhou, Henan, Tiongkok.

Strategi utama BYD dalam menentukan harga jual di Indonesia sangat jelas, yaitu menyediakan value atau nilai terbaik bagi konsumen. Nilai tersebut, menurutnya, bersumber langsung dari kekuatan teknologi yang mereka kembangkan secara mandiri.

Komitmen Jangka Panjang dan Investasi Pabrik Mobil Listrik

BYD menunjukkan keseriusan untuk berbisnis jangka panjang di pasar Indonesia, bukan hanya sekadar mencari keuntungan sesaat. Komitmen ini dibuktikan dengan adanya investasi besar yang dialokasikan untuk pembangunan pabrik manufaktur di Indonesia.

Pabrik yang tengah dibangun tersebut dirancang dengan kualitas dan standar yang setara dengan fasilitas produksi mereka di negara asal. Langkah ini merupakan jaminan kualitas dan ketersediaan produk di masa depan.

Eagle Zhao meyakini bahwa tidak banyak investor yang berani datang ke Indonesia untuk melakukan investasi besar, khususnya dalam membangun fasilitas produksi kendaraan listrik secara mandiri. Ini menjadi pembeda utama antara BYD dengan kompetitor yang hanya berfokus pada impor dan insentif jangka pendek.

“Kami yakin tidak akan banyak investor datang ke Indonesia untuk investasi (membuka pabrik sendiri) kendaraan listrik,” tambahnya, menekankan bahwa investasi ini adalah fondasi dari Komitmen jangka panjang BYD.

Mengandalkan Tiga Pilar Utama

Meskipun industri EV di Indonesia masih berada di tahap awal dan membutuhkan peran kebijakan pemerintah untuk kelangsungan tren positif, BYD menegaskan bahwa mereka tidak hanya bergantung pada insentif semata. Perusahaan asal Shenzhen ini yakin pada tiga poin fundamental yang menjadi kekuatan mereka.

Tiga pilar utama yang menopang daya saing dan strategi harga berkelanjutan BYD adalah kekuatan teknologi yang unggul, kemampuan integrasi vertikal yang menyeluruh, serta kapasitas dari jumlah produksi global yang masif.

“Kami yakin pada tiga poin. Kekuatan teknologi, kemampuan integrasi vertikal dan kapasitas dari jumlah produksi,” jelas Eagle Zhao.

Kekuatan Teknologi dan Integrasi Vertikal

Sebagai bukti kekuatan teknologi, Eagle Zhao mencontohkan sejarah pengembangan kendaraan Dual Mode (DM) atau yang dikenal di Indonesia sebagai Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). BYD telah berinvestasi selama 17 tahun dalam teknologi ini, mulai dari generasi 1.0 hingga kini mencapai generasi 5.0.

Volume penjualan kendaraan DM mereka telah melampaui 7 juta unit, melayani konsumen secara global. Angka ini menunjukkan kematangan dan keandalan teknologi yang dikembangkan secara internal.

Selain itu, BYD memiliki keunggulan dalam rantai pasok (supply chain) yang sangat terintegrasi. Komponen krusial seperti sistem manajemen baterai (BMS), sistem manajemen termal (EHS), hingga mesin, semuanya dikombinasikan dan diproduksi secara terpusat di pabrik manufaktur mereka.

“Jadi, ini adalah jaminan strategi harga. BYD tidak hanya kompetitif tetapi juga sustainable (berkelanjutan),” tutupnya, menegaskan bahwa kestabilan harga didukung oleh efisiensi produksi dan inovasi teknologi yang dilakukan dari hulu ke hilir.