Uptodai.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya angkat bicara mengenai keputusan pemerintah terkait harga BBM Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter. Menurutnya, lonjakan harga pada bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi ini murni terjadi karena mengikuti fluktuasi harga pasar minyak mentah dunia. Selain Pertamax, varian Pertamax Green juga mengalami penyesuaian signifikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.100 per liter sejak pertengahan Juni 2026.

Bahlil menjelaskan bahwa perhitungan tarif baru ini telah dikaji secara matang dan bijak oleh para pelaku usaha sektor energi, termasuk PT Pertamina (Persero). Keputusan ini tidak dapat dihindari mengingat tren harga minyak mentah internasional yang terus merangkak naik akibat ketegangan geopolitik global. Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian ini hanya berlaku untuk sektor non-subsidi demi menjaga stabilitas keuangan negara.

Dampak Ketegangan Geopolitik Global Terhadap Sektor Energi

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, turut memperkuat pernyataan tersebut dengan menyebutkan adanya dinamika geopolitik yang sangat memengaruhi pasokan minyak dunia. Konflik di berbagai kawasan penghasil minyak utama dunia memicu kekhawatiran rantai pasok global yang berujung pada kenaikan indeks harga minyak mentah. Pertamina berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar internasional ini agar harga di tingkat domestik tetap kompetitif namun realistis.

Langkah Pemerintah Menjaga Daya Beli Masyarakat

Guna mengantisipasi dampak inflasi dari kenaikan harga BBM non-subsidi ini, pemerintah tengah merumuskan sejumlah langkah mitigasi dan insentif ekonomi. Bahlil menekankan bahwa fokus utama kabinet saat ini adalah memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan. Perlindungan terhadap daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Meskipun demikian, pemerintah tidak memberikan jaminan penuh bahwa komoditas energi lainnya akan bebas dari penyesuaian harga di masa mendatang. Koordinasi intensif antara Kementerian ESDM, Pertamina, dan pelaku usaha swasta akan terus dilakukan secara berkala untuk menjaga stabilitas pasokan nasional. Masyarakat pun diimbau untuk lebih bijak dalam mengonsumsi energi serta beralih ke moda transportasi yang lebih efisien.