Uptodai.com - Platform analisis lalu lintas global, TomTom Traffic Index, baru saja merilis daftar terbaru mengenai 5 kota termacet di Indonesia untuk tahun 2025. Hasil survei ini cukup mengejutkan banyak pihak karena posisi teratas bukan lagi diduduki oleh Ibu Kota negara, Jakarta.

TomTom dikenal sebagai platform yang mengandalkan data kecepatan dan lokasi kendaraan secara real-time (Floating Car Data/FCD) dari perangkat GPS. Metodologi ini memberikan gambaran akurat mengenai seberapa besar waktu tempuh ideal diperlambat oleh kepadatan lalu lintas, serta menghitung waktu yang terbuang sia-sia di jalan.

Dalam pemeringkatan global, salah satu kota di Indonesia bahkan berhasil masuk dalam 20 besar kota termacet di dunia. Data ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah terkait perlunya perbaikan signifikan pada infrastruktur dan manajemen transportasi publik.

Bandung Rebut Gelar Kota Termacet di Indonesia

Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2025, predikat kota termacet di Indonesia jatuh kepada Bandung, Ibu Kota Jawa Barat. Meskipun secara peringkat global Bandung mengalami sedikit penurunan dari posisi 12 ke posisi 16, angka kemacetannya masih sangat tinggi dan mengungguli kota-kota besar lainnya.

Tingkat kemacetan rata-rata di Bandung pada tahun lalu mencapai 64,1 persen. Angka ini mengukur seberapa besar waktu perjalanan diperlambat oleh kepadatan lalu lintas dibandingkan jika jalanan dalam kondisi lancar.

Statistik Kemacetan Bandung (Nomor 1)

Warga Bandung harus bersabar ekstra saat bepergian. Untuk menempuh perjalanan sejauh 10 kilometer, rata-rata dibutuhkan waktu 32 menit 26 detik. Angka ini hampir tidak berubah dari tahun sebelumnya yang mencapai 32 menit 37 detik, menunjukkan bahwa upaya mengurangi kepadatan belum membuahkan hasil signifikan.

Kecepatan rata-rata kendaraan saat jam sibuk di Bandung hanya menyentuh 16,3 km/jam. Lebih parahnya, dalam setahun, setiap penduduk Bandung rata-rata menghabiskan 129 jam atau lebih dari lima hari penuh hanya karena terjebak macet. Situasi ini tentu sangat merugikan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.

Jakarta Merangkak Naik di Peringkat Global

Meskipun Bandung menduduki peringkat pertama secara nasional, kemacetan di Jakarta justru menunjukkan tren peningkatan yang jauh lebih drastis. Jakarta kini menempati posisi kedua kota termacet di Indonesia.

Data TomTom menunjukkan bahwa tingkat kemacetan rata-rata di Jakarta mencapai 59,8 persen. Peningkatan ini sangat signifikan karena Jakarta melonjak tajam ke posisi 24 kota termacet di dunia, padahal pada tahun sebelumnya Ibu Kota masih berada di peringkat 90.

Perbandingan Data Kemacetan Jakarta dan Bandung

Lonjakan peringkat Jakarta mengindikasikan bahwa masalah lalu lintas di sana semakin parah dalam kurun waktu satu tahun. Sepanjang tahun 2025, rata-rata perjalanan 10 km di Jakarta membutuhkan waktu 26 menit 19 detik.

Waktu tempuh tersebut tercatat lebih lama dibanding tahun sebelumnya yang hanya 25 menit 31 detik untuk jarak yang sama. Kecepatan rata-rata kendaraan selama jam sibuk di Jakarta juga menurun menjadi 17,8 km/jam, lebih lambat 1 km/jam dibandingkan data tahun 2024.

Meskipun kecepatan rata-rata Jakarta masih sedikit lebih baik daripada Bandung, percepatan kemacetan di Jakarta patut diwaspadai. Pembangunan infrastruktur masif seperti MRT dan LRT tampaknya belum mampu mengimbangi lonjakan volume kendaraan pribadi yang terus bertambah.

Kota-Kota Lain dalam Daftar TomTom Traffic Index 2025

Selain Bandung dan Jakarta, TomTom Traffic Index juga menganalisis tiga kota besar lainnya di Indonesia. Kota-kota ini melengkapi daftar lima besar daerah dengan tingkat kemacetan tertinggi di Tanah Air.

Medan, Palembang, dan Surabaya turut disurvei dalam pemeringkatan ini. Meskipun detail statistik kemacetan untuk ketiga kota ini tidak seburuk Bandung dan Jakarta, data tersebut tetap memberikan gambaran mengenai tantangan mobilitas di pusat-pusat ekonomi regional.

Pemerintah daerah di kota-kota tersebut didorong untuk segera meninjau ulang kebijakan transportasi. Penguatan sistem angkutan umum massal, pembatasan kendaraan pribadi, serta penerapan teknologi cerdas dalam manajemen lalu lintas menjadi kunci untuk mengatasi krisis kemacetan yang terus memburuk ini.