Uptodai.com - Industri otomotif nasional mencatatkan kinerja luar biasa pada pengujung tahun lalu. Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkap adanya lonjakan pembelian mobil akhir 2025 yang sangat signifikan, menjadikannya bulan dengan performa tertinggi sepanjang tahun tersebut.

Kenaikan drastis ini mengindikasikan adanya pergerakan pasar yang sangat dinamis, didorong oleh faktor internal industri maupun kebijakan pemerintah yang berakhir pada batas waktu tertentu. Desember 2025 secara resmi menjadi bulan puncak penjualan setelah sepanjang Januari hingga November angka penjualan bulanan hanya berkisar 50.000 hingga 70.000-an unit.

Pemicu Utama Lonjakan Pembelian Mobil Akhir 2025

Penjualan wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) pada Desember 2025 melonjak 25,7% secara tahunan (YoY), mencapai 94.100 unit. Angka ini jauh melampaui 74.853 unit yang tercatat pada Desember 2024. Kinerja cemerlang ini juga tercermin dari penjualan ritel yang naik 22,7% menjadi 93.833 unit.

Ditinjau secara bulanan, distribusi wholesales juga mengalami kenaikan tajam sebesar 26,9% dibandingkan November 2025 yang hanya mencapai 74.131 unit. Akselerasi penjualan yang masif ini, menurut Gaikindo, disebabkan oleh dua faktor utama yang saling berkaitan.

Strategi Agresif Agen Pemegang Merek

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa fenomena lonjakan penjualan ini tidak terlepas dari strategi agresif yang diterapkan oleh Agen Pemegang Merek (APM). Para pabrikan berupaya keras mencapai target akhir tahun dengan mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki.

Mereka menggelontorkan program diskon besar-besaran serta promosi yang sangat menarik untuk menghabiskan stok model tahun berjalan. Kebijakan diskon masif ini terbukti efektif mendongkrak minat beli konsumen yang menunggu momen terbaik untuk berinvestasi pada kendaraan baru.

“Semua APM ngebut di Desember 2025, mungkin promosi habis-habisan, diskon besar,” ujar Jongkie, menggarisbawahi upaya keras yang dilakukan di bulan terakhir tahun tersebut.

Berakhirnya Insentif Impor Mobil Listrik CBU

Selain faktor promosi, faktor kebijakan pemerintah juga memainkan peran krusial dalam memicu percepatan pembelian. Jongkie menambahkan, berakhirnya beberapa insentif, khususnya kebijakan bebas bea masuk impor kendaraan listrik utuh (Completely Built Up/CBU), turut mendorong konsumen untuk bergerak cepat.

Pemerintah telah menegaskan bahwa fasilitas impor utuh CBU untuk mobil listrik murni resmi dihentikan per 31 Desember 2025. Regulasi ini didasarkan pada Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 jo. Nomor 1/2024, yang secara spesifik mengatur bahwa fasilitas impor dan insentif Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (BEV) hanya berlaku hingga akhir tahun 2025.

Kewajiban Produksi Lokal Setelah Insentif Ditarik

Penarikan insentif CBU ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong investasi dan produksi lokal. Memasuki periode 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen yang telah menikmati fasilitas ini wajib memenuhi komitmen produksi lokal.

Skema yang diterapkan adalah 1:1, di mana produsen harus menyamakan jumlah impor yang telah dilakukan dengan produksi lokal sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Komitmen ini juga mencakup kesetaraan spesifikasi teknis, seperti kapasitas baterai dan daya motor listrik.

Apabila komitmen investasi dan produksi tersebut tidak terpenuhi sesuai tenggat waktu yang ditentukan, pemerintah berhak mencairkan bank garansi yang telah disetorkan sebagai sanksi. Kewajiban ini secara tidak langsung memaksa pabrikan untuk mempercepat penjualan unit impor sebelum batas waktu insentif berakhir.

Sejumlah pabrikan besar tercatat telah memanfaatkan fasilitas impor CBU ini, termasuk BYD, Geely, VinFast, serta PT National Assembler yang menaungi merek seperti Citroen, Aion, Maxus, dan Volkswagen (VW). Total investasi yang digelontorkan oleh para produsen kendaraan energi baru ini diperkirakan mencapai sekitar Rp15,52 triliun, dengan janji memulai produksi lokal BEV paling lambat pada 2026.

Meskipun kinerja 2025 ditutup dengan hasil yang sangat impresif, Gaikindo hingga saat ini belum merilis target penjualan resmi untuk tahun 2026. Penetapan target tersebut masih memerlukan pembahasan mendalam dengan seluruh pemangku kepentingan industri untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan regulasi yang berlaku di tahun yang baru.