Jejak Merah Putih: Daftar Pembalap Indonesia di Rally Dakar
Uptodai.com - Reli Dakar dikenal luas sebagai kompetisi balap paling brutal dan ekstrem di muka bumi. Ajang ini menuntut bukan hanya kecepatan, tetapi juga daya tahan fisik, navigasi tingkat tinggi, dan mental yang baja, mengingat para peserta harus menempuh ribuan kilometer melintasi gurun pasir yang ganas.
Meskipun Reli Dakar sering didominasi oleh pereli dari Eropa dan Amerika Latin, Indonesia ternyata memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam menantang kerasnya kompetisi ini. Sejak era Paris–Dakar di Afrika hingga format modern di Arab Saudi, ada beberapa pembalap Indonesia di Rally Dakar yang berani mencatatkan namanya.
Pionir 1988: Keberanian H. Tinton Suprapto
Nama pertama yang mengukir tinta emas dalam sejarah reli Tanah Air adalah H. Tinton Suprapto. Kehadirannya pada ajang Paris–Dakar Rally edisi 1988 menjadi momen yang sangat fenomenal, sebab saat itu, partisipasi dari Asia Tenggara masih sangat langka.
Tinton tidak sendirian. Ia menggandeng dua rekan senegaranya, Dali Sofari dan Richard Hendarmo, membentuk tim yang berani menantang medan yang kala itu membentang dari Paris menuju Dakar di Afrika. Mereka memilih Toyota Land Cruiser sebagai kendaraan tempur mereka untuk melahap etape-etape gurun yang terkenal kejam.
Meski langkah tim Merah Putih tersebut harus terhenti prematur di Special Stage (SS) 7, keberanian mereka sudah cukup untuk mengirimkan pesan kuat ke dunia. Untuk pertama kalinya, bendera Indonesia berkibar di ajang reli paling gila di dunia, membuka mata bahwa talenta otomotif nasional juga siap bersaing di level tertinggi.
Tongkat Estafet Kasih Anggoro (2010 dan 2011)
Selang lebih dari dua dekade, tongkat estafet untuk mewakili Indonesia di kancah reli dunia diteruskan oleh Kasih Anggoro. Ia tampil berturut-turut di Reli Dakar edisi 2010 dan 2011, saat ajang tersebut sudah pindah ke Amerika Selatan.
Pada debutnya di Dakar 2010, Kasih menggunakan mobil buggy McRae single seater. Strategi utamanya kala itu sangat realistis; bukan sekadar mengejar hasil akhir, melainkan memprioritaskan pengalaman dan pembelajaran menghadapi kerasnya medan gurun yang jauh berbeda dengan lintasan reli di Asia.
Setahun berselang, Kasih Anggoro kembali tampil di Rally Dakar 2011 dengan persiapan yang lebih matang. Ia bergabung dengan tim elite Spanyol, Epsilon, dan didampingi oleh navigator andal, Iriatna Yudha Satria. Kerja sama tim internasional ini menunjukkan upaya serius Kasih untuk menyelesaikan tantangan terberat di dunia balap off-road tersebut.
Duo Kebangkitan: Shammie Baridwan dan Julian Johan di Dakar 2026
Setelah vakum selama 14 tahun dari kategori mobil, Indonesia kembali mengirimkan wakilnya ke Rally Dakar. Edisi 2026 yang akan digelar di Arab Saudi pada 3–17 Januari 2026 akan menjadi panggung bagi dua nama sekaligus: Shammie Zacky Baridwan dan Julian Johan.
Shammie Baridwan, sosok bertubuh tinggi besar, bernaung di bawah tim asal Prancis, Compagnie Saharienne. Ketertarikannya pada Dakar sudah lama tumbuh, seiring hobinya menjajal medan off-road dan petualangan ekstrem. Sebelum menantang gurun Arab, ia telah mengasah kemampuan di berbagai kejuaraan reli nasional dan regional, termasuk Asia Cross Country Rally (AXCR).
Untuk Dakar 2026, Shammie mengandalkan mobil tempur Toyota Bundera dan didampingi oleh Ignas Daunoravicius sebagai navigator. Selain itu, ia juga telah menjalani latihan intensif bersama tim di Maroko, memastikan kesiapan teknis dan mentalnya menghadapi tantangan terberat.
Julian Johan (Jejelogy) Siap Menggebrak Kategori T4
Selain Shammie, Reli Dakar 2026 juga akan menampilkan Julian Johan, yang akrab disapa Jejelogy. Jejelogy merupakan salah satu ikon off-road dan petualangan ekstrem yang sangat populer di Indonesia. Ia akan turun di kategori T4 (SSV), yang merupakan kelas prototipe ringan yang semakin kompetitif.
Julian Johan dikenal memiliki basis penggemar yang besar di media sosial, dan partisipasinya ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat Indonesia terhadap olahraga otomotif ekstrem. Kehadiran Shammie Baridwan dan Julian Johan sekaligus membuktikan bahwa semangat para pembalap Indonesia di Rally Dakar tidak pernah padam, siap meneruskan warisan keberanian yang ditanamkan oleh Tinton Suprapto puluhan tahun silam.