Pembeli ‘Babak Belur’: Penjualan LCGC Dihantam Ekonomi dan EV Murah
Uptodai.com - Tren penurunan yang signifikan melanda segmen mobil murah di Tanah Air. Sebab, penjualan LCGC dihantam ekonomi yang melemah dan tekanan dari mobil listrik berharga kompetitif. Kondisi ini menciptakan turbulensi serius bagi segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang selama ini menjadi pintu gerbang utama bagi masyarakat kelas menengah untuk memiliki kendaraan roda empat.
Penyebab utama dari merosotnya pasar ini adalah tertekannya daya beli konsumen, khususnya mereka yang merupakan pembeli mobil pertama. Kalangan ini paling rentan terhadap gejolak ekonomi, sehingga membuat mereka ‘babak belur’ dan kesulitan mengakses fasilitas pembiayaan.
Data Gaikindo dan Anjloknya Pasar LCGC
Data penjualan retail yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, penjualan LCGC hanya mampu mencapai 130.799 unit. Torehan ini anjlok tajam hingga 27 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 178.726 unit.
Penurunan ini bukan fenomena baru. Sebelumnya, pada tahun 2024, penjualan LCGC juga sudah terkoreksi 10 persen dibandingkan tahun 2023. Padahal, pada tahun 2023, segmen ini nyaris menyentuh angka 200 ribu unit, tepatnya 198.564 unit. Kemerosotan selama dua tahun berturut-turut ini mengindikasikan adanya pergeseran struktural di pasar otomotif domestik.
Pembeli Mobil Pertama ‘Babak Belur’ Jadi Pemicu Utama
Mayoritas konsumen yang menyasar LCGC adalah individu atau keluarga yang baru pertama kali membeli mobil. Mereka sangat bergantung pada skema kredit dan pembiayaan. Sayangnya, kondisi ekonomi yang melemah dalam beberapa waktu terakhir langsung menghantam kemampuan finansial kelompok ini.
Yusak Billy, Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi ini dirasakan langsung oleh pembeli mobil pertama. Hal ini diperparah dengan sikap lembaga pembiayaan yang kini jauh lebih selektif dalam menyetujui aplikasi kredit.
Kredit Makin Selektif, Permintaan Tertekan
Lembaga pembiayaan atau leasing cenderung mengetatkan persetujuan kredit untuk meminimalkan risiko kredit macet. Selektivitas yang tinggi ini secara langsung menekan permintaan di segmen LCGC. Sebab, meskipun minat membeli masih ada, hambatan di sisi pembiayaan membuat calon konsumen LCGC kesulitan mewujudkan pembelian.
Dengan kondisi pendapatan yang stagnan atau bahkan tergerus inflasi, kelompok pembeli mobil pertama tertekan secara finansial. Mereka terpaksa menunda rencana pembelian kendaraan baru hingga kondisi ekonomi personal mereka membaik atau persyaratan kredit menjadi lebih longgar.
Ancaman Baru dari Kendaraan Listrik Murah
Selain faktor ekonomi domestik, LCGC juga menghadapi gempuran kompetitor yang datang dari segmen yang sama sekali berbeda: kendaraan elektrifikasi atau xEV. Mobil listrik murah kini mulai ‘memakan’ pangsa pasar yang selama ini didominasi oleh LCGC seperti Agya, Ayla, Brio Satya, Sigra, dan Calya.
Kendaraan listrik dengan harga yang bersaing menawarkan nilai tambah yang sulit ditandingi oleh mobil konvensional. Contohnya, BYD Atto 1 yang dibanderol mulai dari Rp 199 juta atau Geely EX2 yang harganya tidak jauh berbeda. Harga ini sudah berada di rentang harga LCGC teratas.
Keunggulan Insentif Mobil Listrik yang Mematikan Pasar LCGC
Kendaraan listrik tidak hanya unggul dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi insentif yang diberikan pemerintah. Pemilik mobil listrik menikmati keistimewaan berupa bebas aturan ganjil genap di beberapa wilayah perkotaan besar.
Lebih krusial lagi, pajak tahunan kendaraan listrik dinolkan. Pemilik hanya perlu membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas (SWDKLLJ) yang tarifnya sangat rendah, yakni sekitar Rp 143 ribu. Keunggulan biaya operasional dan kemudahan mobilitas ini menjadi daya tarik besar, membuat konsumen mulai mempertimbangkan EV sebagai alternatif yang lebih ekonomis dalam jangka panjang dibandingkan LCGC.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengakui bahwa kian banyaknya kendaraan elektrifikasi memang membuat LCGC dan sejumlah mobil bermesin konvensional menjadi ‘korban’ dalam pergeseran tren pasar saat ini.
Honda Brio Satya Bertahan di Tengah Badai
Di tengah tekanan pasar yang masif, beberapa model LCGC masih menunjukkan ketahanan. Honda Brio Satya, misalnya, berhasil mencatatkan angka penjualan yang relatif stabil. Menurut Yusak Billy, hal ini menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap LCGC dengan nilai jual (value) yang tinggi masih tetap ada.
Brio Satya bahkan tetap menjadi kontributor terbesar dalam total penjualan Honda di Indonesia. Stabilitas ini membuktikan bahwa meskipun pasar LCGC secara keseluruhan sedang lesu, model yang menawarkan kombinasi kualitas, efisiensi, dan harga yang tepat masih mampu menarik perhatian konsumen, termasuk mereka yang merupakan pembeli mobil pertama tertekan.