Prabowo dan Albanese Teken Traktat Keamanan Bersama Indonesia Australia
Uptodai.com - Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengukuhkan babak baru kemitraan strategis kedua negara. Puncak pertemuan bilateral di Jakarta adalah penandatanganan Traktat Keamanan Bersama Indonesia Australia, yang dijuluki Perjanjian Jakarta 2026.
Prabowo menyambut hangat Albanese, membalas kunjungan yang ia terima di Sydney pada Juli 2025 lalu. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan ucapan selamat Hari Australia yang diperingati setiap 26 Januari.
Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, Australia adalah salah satu tetangga terdekat dan mitra strategis yang memiliki sejarah persahabatan panjang dengan Indonesia. Hubungan ini bahkan terjalin sejak Australia mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.
Traktat Keamanan Bersama Indonesia Australia: Pilar Stabilitas Kawasan
Prabowo menegaskan bahwa penandatanganan traktat keamanan ini mencerminkan komitmen bersama untuk terus memperkuat kemitraan. Perjanjian Jakarta 2026 menjadi bukti tekad kedua negara untuk bekerja sama secara erat dalam menjaga keamanan nasional masing-masing.
Lebih jauh, kerja sama ini juga bertujuan memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang semakin dinamis. Indonesia meyakini bahwa perjanjian ini akan menjadi salah satu pilar penting bagi stabilitas dan kerja sama di kawasan.
Bagi Indonesia, traktat tersebut menegaskan kembali komitmen teguh terhadap prinsip bertetangga baik dan kebijakan luar negeri yang bebas aktif. Prabowo menekankan bahwa Indonesia dan Australia ditakdirkan untuk hidup berdampingan, dan memilih membangun hubungan berdasarkan saling percaya dan iktikad baik.
Indonesia ingin bersahabat dengan semua pihak dan tidak ingin punya musuh manapun. Oleh karena itu, kemitraan strategis ini sangat vital untuk memastikan lingkungan regional yang aman dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.
Mendorong Kerja Sama Pertanian dan Hilirisasi Mineral Kritis
Selain isu keamanan, agenda pertemuan turut membahas prioritas bersama di sektor ekonomi dan ketahanan pangan. Eks Menteri Pertahanan tersebut secara spesifik mengundang Australia untuk menjalin kerja sama pengembangan joint venture di sektor pertanian.
Inisiatif ini dirancang untuk mendukung upaya Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan domestik. Dengan memanfaatkan teknologi dan keahlian Australia, diharapkan produksi pangan di kedua negara dapat meningkat signifikan, khususnya untuk komoditas strategis.
Investasi Resiprokal di Sektor Mineral Kritis
Fokus lain yang tak kalah penting adalah investasi di sektor hilirisasi mineral kritis Indonesia. Prabowo secara terbuka mengajak perusahaan Australia untuk berinvestasi dalam pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas.
Mineral kritis sangat vital bagi transisi energi global dan pengembangan industri teknologi tinggi. Oleh karena itu, sinergi antara sumber daya Indonesia dan teknologi Australia diprediksi akan menciptakan rantai pasok regional yang kuat dan stabil.
Langkah ini bukan hanya bersifat satu arah, melainkan resiprokal. Prabowo juga mendorong perusahaan Indonesia agar berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis yang ada di Australia.
Entitas bisnis Indonesia, seperti Danantara, telah menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan para mitranya di Australia. Kesiapan ini mencakup penjajakan peluang co-investment dan berbagai bentuk kemitraan lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak.