Taksi Robot Tanpa Sopir Waymo Ternyata Dikendalikan dari Filipina
Uptodai.com - Keberadaan taksi robot tanpa sopir Waymo yang selama ini dianggap sepenuhnya otonom ternyata masih bergantung pada campur tangan manusia. Hal mengejutkan ini terungkap dalam sidang Senat Amerika Serikat yang membeberkan bahwa operasional kendaraan canggih tersebut melibatkan tenaga kerja dari Filipina.
Kepala Keselamatan Waymo, Mauricio Pena, memberikan pengakuan tersebut di hadapan Komite Senat Amerika Serikat pada awal Februari ini. Ia menjelaskan bahwa para pekerja di negara tetangga Indonesia itu bertugas memberikan panduan saat kendaraan menghadapi situasi sulit di jalan raya.
Meskipun melibatkan bantuan manusia, Pena menegaskan bahwa para staf tersebut tidak mengemudikan mobil secara jarak jauh. Waymo tetap memegang kendali penuh atas tugas mengemudi dinamis melalui sistem kecerdasan buatan yang tertanam di dalam kendaraan.
Peran Fleet Response Agents dalam Operasional Waymo
Para pekerja di Filipina ini dikenal dengan sebutan fleet response agents yang bekerja di balik layar. Mereka wajib memiliki lisensi mengemudi yang sah serta catatan riwayat berkendara yang bersih untuk memastikan standar keselamatan tetap terjaga.
Tugas utama mereka adalah memberikan informasi kontekstual kepada sistem AI saat mobil mengalami kebingungan di persimpangan atau area konstruksi. Intervensi manusia ini dianggap krusial untuk mencegah kemacetan panjang atau potensi kecelakaan yang lebih fatal akibat kegagalan sistem.
Pena mengakui bahwa pihaknya tidak memiliki data terperinci mengenai jumlah pasti asisten manusia yang ditempatkan di luar negeri. Namun, ia memastikan bahwa sebagian asisten tersebut tetap berbasis di Amerika Serikat untuk mendukung operasional domestik.
Kritik Senator Terkait Keamanan Siber dan Keselamatan
Senator Edward Markey menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai transparansi sistem operator bantuan jarak jauh yang dijalankan Waymo. Ia menilai bahwa keterlibatan pihak luar negeri dalam memengaruhi kendaraan di Amerika Serikat memicu isu keamanan siber yang serius.
Kekhawatiran ini semakin menguat setelah insiden robotaxi Waymo menabrak seorang anak di depan sebuah sekolah dasar di California. Kejadian pada akhir Januari tersebut mengakibatkan korban mengalami luka ringan dan memicu penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas keselamatan.
Selain itu, pihak berwenang juga tengah menyoroti kasus kendaraan Waymo yang melaju sembarangan di dekat bus sekolah. Beberapa laporan menyebutkan mobil otonom tersebut tetap melaju meskipun siswa sedang dalam proses naik atau turun dari bus, yang sangat membahayakan nyawa.
Ekspansi Global dan Masa Depan Armada Kendaraan Otonom
Hingga awal tahun 2026, Waymo diperkirakan telah mengoperasikan sekitar 2.500 unit armada kendaraan otonom di berbagai wilayah. Layanan ini sudah tersedia secara komersial bagi publik di kota-kota besar seperti Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin.
Perusahaan di bawah naungan Alphabet ini tidak berhenti di situ dan berencana melakukan ekspansi besar-besaran dalam waktu dekat. Mereka menargetkan wilayah baru seperti Boston, Dallas, Washington DC, hingga merambah pasar internasional dengan membuka layanan di London.
Langkah Waymo menggunakan tenaga kerja dari Filipina disebut sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya dan ekspansi global. Namun, tantangan regulasi dan pengawasan ketat dari pemerintah Amerika Serikat kini menjadi hambatan baru bagi masa depan teknologi kecerdasan buatan otomotif ini.
Masyarakat kini mulai mempertanyakan sejauh mana istilah “tanpa sopir” benar-benar bisa diterapkan tanpa bantuan manusia. Transparansi mengenai peran asisten jarak jauh menjadi kunci utama bagi kepercayaan publik terhadap keamanan transportasi masa depan.