Uptodai.com - Penjualan mobil listrik murah kini menjadi ancaman nyata bagi dominasi kendaraan segmen Low Cost Green Car (LCGC) di tanah air. Sepanjang tahun 2025, angka penjualan mobil murah konvensional tersebut mengalami kemerosotan tajam hingga mencapai 37 persen. Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam preferensi konsumen otomotif Indonesia yang mulai meninggalkan mesin pembakaran internal.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi pasar saat ini. Menurutnya, segmen LCGC yang selama ini menjadi tulang punggung volume penjualan nasional sedang berada dalam tekanan hebat. Kehadiran berbagai model kendaraan listrik baru dengan harga kompetitif menjadi faktor utama di balik anjloknya minat masyarakat.

“LCGC kita rusak, turun sampai 37 persen,” ujar Jongkie dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta. Beliau menjelaskan bahwa saat ini konsumen sudah bisa meminang mobil listrik modern hanya dengan merogoh kocek sekitar Rp200 jutaan. Harga tersebut bersinggungan langsung dengan plafon harga LCGC yang selama ini dianggap paling terjangkau bagi masyarakat menengah.

Serbuan Mobil Listrik China dan Fitur Melimpah

Produsen otomotif, terutama dari negeri tirai bambu, sangat agresif meluncurkan kendaraan listrik harga terjangkau dengan desain futuristik. Mobil-mobil ini tidak hanya menawarkan efisiensi energi, tetapi juga menyematkan fitur teknologi canggih yang jarang ditemukan pada LCGC konvensional. Konsumen kini merasa mendapatkan nilai lebih (value for money) saat memutuskan untuk beralih ke teknologi baterai.

Perubahan ini menunjukkan bahwa harga murah bukan lagi satu-satunya pertimbangan utama bagi pembeli mobil pertama di Indonesia. Citra modern dan gaya hidup ramah lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda maupun keluarga kecil. Mereka cenderung memilih kendaraan yang memiliki biaya operasional harian lebih rendah meskipun harga belinya sedikit di atas rata-rata mobil murah.

Para pabrikan asal China seperti BYD, Wuling, hingga Great Wall Motor terus mengguyur pasar dengan pilihan model yang sangat variatif. Persaingan yang semakin ketat ini memaksa harga jual kendaraan listrik semakin kompetitif dari waktu ke waktu. Akibatnya, batas psikologis konsumen terhadap teknologi baru mulai menurun dan mereka semakin berani melakukan pembelian.

Transisi dari Mesin Konvensional ke Teknologi Baterai

Meskipun pasar mobil LCGC Indonesia sedang lesu, Jongkie melihat adanya penggabungan volume pada segmen kendaraan di bawah Rp300 juta. Terjadi migrasi besar-besaran dari Internal Combustion Engine (ICE) menuju teknologi hybrid, plug-in hybrid, hingga Battery Electric Vehicle (BEV). Industri otomotif nasional dipaksa untuk beradaptasi lebih cepat dengan perubahan teknologi yang sangat masif ini.

Momentum kebijakan pemerintah yang memberikan insentif pajak juga mempercepat adopsi kendaraan listrik di penghujung tahun lalu. Stimulus ini berhasil menurunkan harga jual di tingkat diler sehingga lebih terjangkau oleh kantong masyarakat luas. Kini, mobil listrik sudah dianggap sebagai alternatif realistis bagi mobilitas harian, bukan sekadar tren gaya hidup sesaat.

Jongkie menambahkan bahwa pergeseran teknologi ini merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh para pelaku industri. Produsen yang terlambat melakukan transformasi berisiko kehilangan pangsa pasar yang selama ini mereka kuasai. Oleh karena itu, banyak merek Jepang yang mulai merancang strategi baru untuk menghadirkan varian elektrifikasi pada model-model populer mereka.

Tantangan Infrastruktur dan Nilai Jual Kembali

Di tengah optimisme lonjakan penjualan, industri otomotif tetap harus menghadapi sejumlah tantangan klasik yang belum sepenuhnya tuntas. Ketersediaan infrastruktur pengisian daya atau SPKLU masih menjadi perhatian utama bagi calon pembeli, terutama mereka yang tinggal di luar kota besar. Pemerintah dan swasta perlu mempercepat pembangunan fasilitas pengisian daya agar jangkauan kendaraan listrik semakin luas.

Selain masalah infrastruktur, persepsi mengenai biaya perawatan jangka panjang dan nilai jual kembali (resale value) masih sering menjadi bahan pertimbangan. Banyak konsumen yang masih ragu mengenai daya tahan baterai setelah pemakaian lebih dari lima tahun. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi para produsen untuk memberikan edukasi dan jaminan garansi yang lebih meyakinkan.

Jongkie menekankan bahwa konsumen saat ini jauh lebih kritis dalam membandingkan setiap pilihan kendaraan yang tersedia di pasar. Jika selisih harga antara mobil konvensional dan mobil listrik semakin tipis, maka aspek teknologi akan selalu menjadi pemenang. Segmen kendaraan murah ramah lingkungan di masa depan diprediksi akan sepenuhnya didominasi oleh teknologi berbasis listrik.