Kebijakan Tarif Donald Trump Bikin Delegasi India Batal ke AS
Uptodai.com - Kebijakan tarif Donald Trump kembali memicu guncangan besar dalam peta perdagangan internasional setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan aturan sebelumnya. Langkah balasan Trump yang menerapkan tarif impor global secara mendadak memaksa delegasi India membatalkan rencana kunjungan krusial mereka ke Washington. Situasi ini menciptakan ketidakpastian baru bagi negara-negara mitra dagang AS yang tengah berupaya mengamankan kesepakatan bilateral.
Ketegangan ini bermula ketika Mahkamah Agung AS menilai tarif yang diberlakukan Trump sebelumnya sebagai tindakan ilegal. Namun, Trump merespons keputusan tersebut dengan sangat cepat menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974. Ia memberlakukan tarif impor global sebesar 10 persen yang kemudian melonjak menjadi 15 persen dalam hitungan jam saja.
Kondisi ini memaksa pemerintah India mengambil langkah tegas dengan menunda pertemuan yang sudah terjadwal lama. Seorang sumber menyebutkan bahwa kedua negara sepakat untuk menjadwalkan ulang kunjungan tersebut di masa mendatang. India dan AS merasa perlu waktu lebih banyak untuk mengevaluasi dampak kebijakan terbaru ini terhadap stabilitas ekonomi mereka.
Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump terhadap Kesepakatan Bilateral
Pembatalan ini terjadi secara mendadak, padahal Kepala Negosiator India, Darpan Jain, semula dijadwalkan memulai perundingan selama tiga hari di AS. Tim negosiasi tersebut memiliki misi utama untuk memfinalisasi teks hukum dari kesepakatan dagang yang sudah dirancang sebelumnya. Namun, kebijakan tarif Donald Trump yang baru dianggap telah merusak fondasi dasar dari negosiasi tersebut.
Saat ini, India masih menanggung beban tarif timbal balik sebesar 25 persen yang cukup memberatkan arus ekspor mereka. Berdasarkan kesepakatan awal bulan ini, angka tersebut seharusnya dipangkas menjadi 18 persen untuk meringankan beban industri. Sayangnya, manuver terbaru dari Gedung Putih membuat rencana pemotongan tarif tersebut menjadi tidak relevan lagi bagi pihak New Delhi.
Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, sebelumnya sempat menyatakan optimisme bahwa perjanjian ini akan ditandatangani pada Maret mendatang. Ia berharap implementasi penuh sudah bisa berjalan pada April untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara. Namun, hilangnya manfaat dari tarif 18 persen membuat India harus memikirkan kembali seluruh strategi diplomasi dagang mereka.
Evaluasi Ulang Hubungan Dagang Washington dan New Delhi
Ajay Srivastava, mantan negosiator perdagangan India, menjelaskan bahwa India kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Selain tarif tambahan 15 persen, India juga harus menanggung tarif status most-favored-nation yang berada di kisaran 2 hingga 3 persen. Hal ini membuat produk asal India menjadi jauh lebih mahal dan sulit bersaing di pasar Amerika Serikat.
Pemerintah India kini sedang mempelajari klausul dalam pernyataan bersama yang dirilis pada awal Februari lalu. Dalam dokumen tersebut, kedua negara sepakat bahwa jika salah satu pihak mengubah komitmen tarif, maka pihak lainnya berhak memodifikasi janji mereka. Aturan ini memberikan ruang bagi India untuk melakukan tindakan balasan jika kebijakan tarif Donald Trump terus menekan industri domestik mereka.
Hingga saat ini, Kementerian Perdagangan dan Industri India belum memberikan komentar resmi mengenai langkah lanjutan pasca pembatalan ini. Namun, para pelaku pasar terus memantau perkembangan di Washington, mengingat Trump dikenal sangat agresif dalam urusan proteksionisme ekonomi. Ketidakpastian ini diprediksi akan memperlambat arus investasi global di tengah transisi kebijakan Amerika Serikat yang sangat dinamis.