Uptodai.com - Penarikan total pasukan AS dari Suriah dipastikan bakal rampung dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Langkah strategis ini menandai berakhirnya era kehadiran militer Washington di wilayah tersebut setelah bertahun-tahun memimpin koalisi internasional melawan kelompok ekstremis. Keputusan ini membawa perubahan besar pada peta keamanan di kawasan Timur Tengah yang selama ini penuh gejolak.

Sejumlah sumber diplomatik menyebutkan bahwa pergerakan logistik sudah mulai terlihat secara masif di pangkalan utama wilayah timur laut Suriah. Sejak Senin (23/2/2026), militer Amerika Serikat secara bertahap mengosongkan instalasi pertahanan mereka dengan pengawalan ketat. Proses ini melibatkan pemindahan personel serta berbagai peralatan tempur canggih yang selama ini bersiaga di sana.

Integrasi Pasukan Kurdi dan Pergeseran Kekuasaan

Keputusan penarikan ini muncul setelah adanya kesepakatan krusial antara pasukan Kurdi dengan pemerintah pusat di Damaskus. Kelompok Kurdi yang selama ini menjadi sekutu terdekat Washington di lapangan memilih untuk berintegrasi ke dalam struktur negara Suriah. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas wilayah setelah pasukan asing meninggalkan pos mereka.

Penyerahan wilayah kendali kepada pemerintah Suriah secara otomatis mempercepat proses kepulangan tentara Amerika Serikat. Situasi ini menunjukkan pergeseran peta kekuatan politik yang sangat signifikan di negara tersebut. Washington menilai bahwa misi utama mereka dalam menekan kelompok radikal kini telah mencapai titik jenuh yang memungkinkan transisi kekuasaan.

Dalam dua pekan terakhir, militer Amerika Serikat juga telah mengosongkan dua pangkalan strategis lainnya secara permanen. Pangkalan Al-Tanf di wilayah tenggara dan Shadadi di timur laut kini sudah tidak lagi menunjukkan aktivitas operasional tentara Paman Sam. Semua aset militer dialihkan ke titik kumpul utama sebelum benar-benar keluar dari perbatasan Suriah.

Logistik dan Jalur Evakuasi Menuju Perbatasan Irak

Laporan dari berbagai sumber di lapangan menunjukkan puluhan truk pengangkut kendaraan lapis baja mulai bergerak meninggalkan Provinsi Hasakeh. Konvoi besar tersebut terpantau menuju perbatasan Irak yang menjadi jalur evakuasi utama bagi personel militer. Proses perpindahan ini dilakukan pada malam hari untuk meminimalisir risiko gangguan keamanan di sepanjang jalur perjalanan.

Amerika Serikat saat ini masih menyisakan sekitar 1.000 personel militer yang bertugas menyelesaikan proses administrasi dan teknis penarikan. Seorang pejabat Kurdi mengungkapkan bahwa pengosongan pangkalan Qasrak dilakukan secara sangat terorganisir dan bertahap. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok bersenjata lainnya.

Seorang diplomat senior bahkan memperkirakan proses evakuasi ini bisa berjalan jauh lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan semula. Jika kondisi keamanan di jalur perbatasan tetap kondusif, seluruh tentara Amerika mungkin sudah meninggalkan tanah Suriah dalam waktu 20 hari. Kecepatan ini menunjukkan keseriusan Washington untuk segera mengakhiri keterlibatan fisik mereka di medan perang Suriah.

Dampak Kejatuhan Rezim Lama terhadap Kebijakan Washington

Hubungan Washington dengan otoritas baru di Suriah tampaknya mulai mencair sejak jatuhnya kekuasaan Bashar al-Assad pada akhir 2024 lalu. Perubahan kepemimpinan di Damaskus memberikan ruang bagi negosiasi diplomatik yang lebih terbuka dan pragmatis antara kedua belah pihak. Amerika Serikat melihat peluang untuk mengamankan kepentingannya melalui jalur politik dibandingkan kehadiran militer.

Pemerintah Amerika Serikat kini lebih memilih pendekatan diplomasi aktif daripada penempatan militer secara permanen yang memakan biaya besar. Langkah ini juga dipandang sebagai upaya efisiensi anggaran pertahanan nasional di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks. Fokus utama Washington kini beralih pada penguatan aliansi di wilayah lain yang dianggap lebih strategis secara ekonomi.

Meskipun seluruh militer ditarik, pengamat meyakini Washington tetap akan memantau stabilitas kawasan tersebut dari jarak jauh melalui teknologi satelit. Fokus utama mereka kini beralih pada pencegahan bangkitnya kembali sel-sel tidur kelompok teroris di wilayah perbatasan Irak dan Suriah. Kerja sama intelijen dengan otoritas lokal diprediksi akan tetap berlanjut meskipun tanpa kehadiran sepatu bot di lapangan.